Data yang dirilis Kemdikbud, Senin (8/7) menyebutkan infrastruktur pendidikan yang rusak itu di antaranya 71 unit sekolah PAUD, 75 unit TK/RA, 156 SD/MI, 42 SMP/MTs, 23 SMA/MA dan 5 unit SMK. Jumlah ruang kelas yang rusak keseluruhan mencapai 1.380 ruangan.
"Ini data sementara yang kita peroleh dari Dinas Pendidikan Provinsi ACeh per 7 Juli 2013. Ada juga sarana sekolah lain yang rusak seperti perpustakaan, laboratorium, asrama siswa sampai pagar sekolah dan Mushala," kata Mohammad Nuh di gedung Kemdikbud.
Mendikbud juga menyampaikan belasungkawa karena dalam bencana gempa itu juga ada dua orang guru dan sejumlah siswa yang meninggal, termasuk sekitar 500 orang guru yang kehilangan tempat tinggalnya.
Dalam masa tanggap darurat Kemdikbud telah menyalurkan bantuan pemenuhan kebutuhan siswa seperti alat tulis, tas, seragam sekolah dan sepati. Di tempat-tempat pengungsian dan di bekas sekolah yang rusak juga didirikan sarana pendidikan dadurat untuk menjamin proses belajar siswa tetap bisa dilakukan. Di antaranya disediakan tenda darurat 452 unit dan ruang belajar sementara 824 unit.
"Kita memanfaatkan fasilitas tenda darurat dan bangunan sementara sebagai pengganti ruang kelas. Kita juga melakukan pemulihan psikis siswa karena trauma gempa dengan mengirim psikolog," jelasnya.
Di tahap rekonstruksi bangunan sekolah pasca gempa dimulai dengan pendataan dan perencanaan desain bangunan. Pembersihan lahan dan penyediaan lokasi baru bagi sekolah yang harus dipindah. Pembangunan dan rehabilitasi sekolah, ruang kelas dan fasilitas pendidikan lain yang diperlukan, serta penyediaan buku dan peralatan siswa.(fat/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Seluruh Dinas Pariwisata Harus Kirim Pegawai ke Bandara Kualanamu
Redaktur : Tim Redaksi