"Yakni dari 23 persen pada usia 50 - 80 tahun menjadi 53 persen pada usia 70 - 80 tahun. Angka prevalensi ini cukup tinggi apabila dibandingkan dengan negara lain di Asia," ungkap Tjandar di Gedung Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jakarta, Jumat (12/10).
Tjandra mengatakan, tingginya angka penderita Osteoporosis tersebut sebagian besar disebabkan karena perilaku kebiasaan hidup masyarakat di Indonesia sangat berisiko Osteoporosis. "Misalnya, kebiasaan merokok, minum alkohol, kurangnya nutrisi, kalsium dan vitamin D," ujarnya.
Menurutnya, pencegahan Osteoporosis dapat dilakukan dengan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai faktor risiko Osteoporosis. "Mungkin bisa dimulai dengan meningkatkan kesadaran masyarakar sejak duni yakni dengan memperhatikan pola makan sehat. Misalnya, menjaga komposisi protein, kalsium dan Vitamin D, melakukan aktivitas, terpapar sinar matahari, tidak merokok, dan tidak mengkonsumsi alkohol," paparnya.
Untuk diketahui, WHO menyebutkan ada sekitar 200 juta orang penderita Osteoporosis di seluruh dunia. Pada tahun 2050 diperkirakan angka patah tulang pinggul akan meningkat 2 kali lipat pada wanita dan 3 kali lipat pada pria.
Selain itu, WHO juga menunjukkan bahwa 50 persen patah tulang paha atas akan menimbulkan kecacatan seumur hidup dan menyebabkan kematian mencapai 30 persen pada tahun pertama akibat komplikasi imobilisasi. Data ini belum termasuk patah tulang belakang dan lengan bawah serta yang tidak memperoleh perawatan medis di rumah sakit. (cha/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Potensi Tanaman Obat Besar
Redaktur : Tim Redaksi