60 Persen Proposal Riset Mahasiswa Ditolak

Rabu, 27 September 2017 – 00:12 WIB
Ilustrasi mahasiswa wisuda. Foto: AFP

jpnn.com, MALANG - Sekitar 60 persen proposal Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) ditolak oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

”Dari 60 persen yang tidak lolos itu karena administrasinya bermasalah dan kreativitasnya kurang,” kata Drs Umar Mansur MSc, salah satu reviewer di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) saat menyampaikan materi dalam ”Sosialisasi Peningkatan Kemampuan Kreativitas Mahasiswa (PKM) 5 Bidang” di Universitas Negeri Malang (UM) beberapa waktu lalu.

BACA JUGA: Jumlah Proposal Didanai Kemenristekdikti Berkurang

Menurutnya, mahasiswa harusnya memberikan muatan yang mencirikan dirinya sebagai mahasiswa.

”Masa mahasiswa bikinnya bakso atau keripik? Lalu, pengabdian masyarakatnya cuma bikin taman baca di RT/RW. Itu kan sangat umum dan sudah berulang,” ujar Umar. Maka dari itu, dia berharap mahasiswa tidak asal mengajukan topik PKM.

Umar mengingatkan bahwa ide PKM harus dalam batas kewajaran. ”Kalau misalnya punya ide penelitian yang membutuhkan pengujian lebih dari enam bulan atau pembiayaan lebih dari Rp 12,5 juta, ya itu termasuk tidak wajar,” katanya.

Menurut dia, soal kreativitas memang sesuatu yang kompleks. Ada beberapa ide PKM yang kreatif, tapi setelah dicek ternyata topiknya adalah bagian dari riset dosen.

”Banyak juga yang ternyata pakai karya intelektualnya dosen, sehingga waktu tanya jawab, baru ketahuan dia nggak bisa jawab,” ungkap Umar yang sudah menjadi reviewer Pimnas sejak 10 tahun yang lalu ini.

Karena itu, Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti getol melakukan sosialisasi bukan hanya kepada mahasiswa, tapi juga kepada dosen pembimbing.

Menanggapi soal krisis kreativitas ini, mahasiswa Jurusan Farmasi Universitas Ma Chung, Maureen Engracia, mengakui bahwa menemukan ide yang bisa benar-benar bermanfaat memang tidak mudah.

”Saya kan jurusan farmasi. Salah satu masalahnya, banyak penggunaan obat yang menimbulkan efek samping hingga bisa membahayakan nyawa seseorang. Saya harus cari cara penyelesaiannya,” kata Maureen yang mengajukan PKM pada tahun 2016 dan lolos.

Selain itu, tantangan lain bagi dia adalah bagaimana melakukan eksplorasi pengobatan dari bahan alam yang dapat dibuktikan secara ilmiah.

Sementara itu, menurut Ketua Pemenangan Pimnas Universitas Brawijaya (UB) Tahun 2017 Yusuf Hendrawan STp MSc PhD, dosen pembimbing sebagai wakil dari institusi harus mau ”ngemong” agar ide-ide mahasiswa bisa lebih terarah.

”Masalah topik dan ide, sebetulnya saya yakin semuanya sudah punya ide bagus. Hanya, kita mau nggak ngemong mereka? Memfasilitasi mereka?” kata Yusuf yang juga wakil dekan 3 Fakultas Teknologi Pertanian UB itu.

Dia juga mengatakan bahwa topik yang bisa lolos hingga Pimnas tidak harus yang ”wah”. Topik bisa sederhana, yang penting bermanfaat bagi masyarakat. (tab/c1/lid)


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler