62 Persen Remaja Jabar Tak Perawan

Sebanyak 97 Persen Mengakses Film Porno

Kamis, 21 Maret 2013 – 11:43 WIB
BANDUNG - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melansir, sebanyak 62 persen remaja putri di Jawa Barat sudah tidak perawan. Data tersebut diperkuat dengan tingginya angka akses pornografi dengan angka 97 persen.

Kepala Dinas BKKBN Jawa Barat Siti Fatonah menegaskan, dari data survey remaja di usia 10-24 tahun sering mempunyai permasalahan yang sangat kompleks sehingga dapat mudah terpengaruh. 

"Masalah yang menonjol di kalangan remaja di antaranya masalah seksualitas, kehamilan tak diinginkan dan aborsi, terinfeksi Penyakit Menular Seksual (IMS), HIV/AIDS, dan penyalah gunaan NAPZA," ungkap Siti Fathonah seperti diberitakan Bandung Ekspres (JPNN Grup), Kamis (21/3).

Fathonah merinci, jumlah remaja di Jawa Barat saat ini sekitar 62 persen mengaku sudah tidak perawan. Angka tersebut seiring sejalan dengan angka penderita HIV yang tercatat tipis yaitu 54 persen. Nah, dari jumlah itu, sebanyak 21 persen diketahui melakukan aborsi. "Sebanyak 97 persen remaja mengaku pernah menonton film porno. Sementara untuk angka konsumsi narkorba yang mencapai angka 78 persen," tegas Fatonah.

Fathonah menambahkan, saat ini Jawa Barat masih menjadi provinsi yang paling banyak kasus HIV/AIDS dengan mayoritas kalangan remaja. Jumlah terakhir pada 2012 mencapai 5.508 orang dengan 734 orang meninggal dunia.

Dari data yang terpapar tersebut fathonah menegaskan, perlu upaya-upaya yang maksimal untuk memberikan bimbingan ke arah yang positif. Salah satu tameng terbaik untuk membentengi remaja dari prilaku negatif tersebut adalah peran orangtua serta pendidikan agama sejak usia dini.
 
Di sisi lain, BKKBN Jawa Barat telah melaksanakan dan mengembangkan program Penyiapan Kehidupan Berumahtangga bagi Remaja (PKBR) yang diarahkan untuk mencegah ledakan penduduk.  "Ada dua faktor terbesar yang sangat mempengaruhinya dan perlu terus ditingkatkan, yaitu usia kawin yang dilakukan oleh remaja melalui Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP), dan kedua kesertaan ber-KB," tegas Fathonah.

Sementara itu, Kustono, pakar phisikoterapi dan phisikologi mengatakan, Remaja di Indonesia sekarang ini berkecenderungan dapat menerima informasi dan masukan tanpa mengolah dengan pemahaman yang benar. "kecenderungan tingkat emosi remaja sangat tinggi dan labil tanpa bisa berpikir untuk bertindak apabila menemui sebuah permasalahan", jelas Kustono.
 
Terkait soal porno, Menteri Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, Tifatul Sembiring mengklaim telah berhasil mengatasi permasalahan banyaknya pengakses situs-situs porno di Indonesia. Menurut Tifatul,  pihaknya telah melakukan kampanye, pemblokiran dan telah mengambil langkah penegakan hukum terkait pengakses situs-situs porno. Ketiga langkah itu telah sukses dijalankan.

"Untuk situs video porno kita upayakan pemblokiran untuk semua operator," ujar Tifatul kepada wartawan di DPR, Jakarta, Senin lalu.
 
Seperti diketahui, Kementerian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia telah melansir data tingginya transaksi dan jumlah pengakses situs-situs porno di Indonesia. Tingginya belanja akses situs porno yang mencapai USD 3.673 per detik atau setara dengan Rp 33 juta lebih setiap detiknya membawa nama Indonesia bertengger di peringkat tertinggi di dunia. Ini menjadi ancaman moral generasi penerus bangsa ini.

Dari data tersebut pengakses terbesar berasal dari kalangan siswa menengah pertama yang mencapai mencapai 4.500 pengakses, sedangkan 97,2 persen siswa SMA pernah mengakses situs esek-esek. Imbas dari permasalahan itu perilaku seks bebas di kalangan siswa kerap dijumpai. (mg5/gil/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kekurangan Dokter Spesialis

Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler