91 Persen Penyandang Disabilitas Ternyata Belum Mendapat Akses Internet

Rabu, 22 Desember 2021 – 18:32 WIB
Diskusi Difabel Berdaya Dukung Pemulihan Ekonomi. Foto: dok. Alinea

jpnn.com, JAKARTA - Saat ini minimnya akses internet masih menjadi tantangan bagi kaum difabel tanah air. Survei Sosial Ekonomi Nasional 2021 memperlihatkan, hanya 9 persen penyandang disabilitas yang mendapatkan akses internet.

Itu artinya, ada 91 persen penyandang disabilitas yang tidak memiliki akses interet.

BACA JUGA: Bu Risma Terharu Mendengar Suara Emas Anak Disabilitas

Kondisi itu tentunya memperihatinkan. Mengingat, akses internet menjadi sesuatu yang penting untuk mengembangkan ekonomi digital.

Kaum difabel juga memiliki hak membantu pemulihan ekonomi melalui pengembangan ekonomi digital.

BACA JUGA: Kisah Sukses Oktria Nofianti, Gadis Penyandang Disabilitas Netra yang Miliki Suara Emas

"Hal ini menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan internet bagi semua pihak, termasuk difabel," kata Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda pada Alinea Forum Online, Selasa (12/21).

Di sisi lain, difabel tidak bisa menunggu lebih lama lagi ketersediaan internet. Pasalnya berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2021, pandemi Covid-19 menyebabkan 38,57 persen tenaga kerja difabel kehilangan pekerjaannya.

BACA JUGA: Pemkot Depok Tolong Perhatikan Pendidikan Penyandang Disabilitas

"Pada 2019, pekerja difabel berjumlah 366.350 orang dan pada 2020 jumlahnya berkurang 38,57% menjadi 255.048 pekerja," sambungnya.

Dia mengatakan menjalankan bisnis online bisa menjadi pilihan bagi difabel untuk bangkit sekaligus membantu memulihkan ekonomi. 

Oleh karena itu, Nailul menyarankan agar difabel berkolaborasi dengan pihak lain, sehingga mempercepat proses masuk ke e-commerce.

Hal itu diyakininya bisa berdampak positif bagi kaum difabel maupun negara. Pasalnya, Indef menemukan kalau ekonomi digital memberikan kemudahan dan seharusnya juga bisa dimanfatkan difabel untuk berdaya saing.

Sementara pemilik The Able Art Tommy Budianto mengakui, aksesibilitas internet difabel masih kurang.

"Tetapi, jangan menyerah, karena di luar sana banyak difabel yang bisa sukses dengan segala keterbatasannya. Bisa berkarya dan menjadi role model," ucap dia.

Dia pun berharap agar pemangku kepentingan bisa meningkatkan angka melek digital difabel.

Hal itu diyakininya akan menjadi pemacu dan semangat bagi difabel untuk ikut mengembangkan ekonomi digital dan tentunya berkontribusi pada pemulihan ekonomi negara.

Sementara itu, Public Affairs Senior Lead Tokopedia Aditia Grasio Nelwan mengatakan Tokopedia hadir menciptakan ekosistem yang inklusif, menyasar semua kalangan, termasuk penyandang difabel.

"Kami ingin memberikan cara yang mudah dan nyaman untuk memenuhi kebutuhan pengguna sehingga bisa fokus dalam mengembangkan bisnisnya. Kami mendukung siapapun untuk mulai saja dulu, semua selalu ada, dan selalu bisa," paparnya.

Dengan mengedepankan inklusifitas, Tokopedia berkeyakinan setiap orang yang mempunyai niat dalam berusaha bisa menemukan peluang.

Tokopedia terus mengupayakan berbagai kemudahan dan memberikannya kepada pengguna, termasuk difabel.

Belum lama ini, Tokopedia meluncurkan fitur voice over. Fitur ini memudahkan penyandang difabel netra menggunakan platform Tokopedia.

Jauh sebelumnya, kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) Tokopedia telah menyasar kepada difabel, agar mereka bisa mandiri secara sosial dan ekonomi.

"Sejak 2018 kami melakukan pemberdayaan kepada teman-teman difabel di delapan provinsi. Ada pendampingan bisnis, bantuan alat produksi, hingga pelatihan e-commerce," tuturnya. (flo/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler