ABCD Coffee Bar Bikin Pasar Tradisional Nyaris Mati Jadi Pasar Gaul (2-Habis)

Dipakai ’’Sekolah’’ Para Artis Film Filosofi Kopi

Selasa, 28 Oktober 2014 – 21:41 WIB
BERGAIRAH: Hendri (kanan) sedang menjelaskan kepada pengunjung warungnya. Berkat ABCD Coffee Bar, Pasar Santa jadi hidup. Foto: Filosofi Kopi The Movie for Jawa Pos

jpnn.com - A Bunch of Caffeine Dealers (ABCD) bukan sekadar warung kopi di pasar tradisional. Ibarat espresso machine, ABCD selama ini juga penghasil barista profesional. Bahkan, beberapa artis pernah merasakan pengalaman belajar mengolah kopi di tengah panasnya Pasar Santa, Kebayoran Baru.

Laporan Gunawan Sutanto, Jakarta

BACA JUGA: Horas Tondi Madingin, Sai Horas Ma Hita Sudena...

AKTIVITAS di lantai 1 Pasar Santa kemarin siang (27/10) relatif sepi. Padahal, jarum jam telah menunjuk pukul 13.30. Sejumlah kios masih tutup. Termasuk stan yang ditempati A Bunch of Caffeine Dealers.

Rolling grille stan nomor 75-77 itu masih tertutup. Tidak tampak para barista yang sibuk dengan coffee maker-nya seperti saat weekend. Namun, dari dalam stan, terlihat cahaya lampu yang menyala. Terdengar pula suara perbincangan orang.

BACA JUGA: Susi Pudjiastuti, Merintis Usaha dengan Jualan 1 Kilo Ikan

Ya, siang itu di dalam kios ABCD sedang ada kelas privat barista. Selain menjadi playground dan popup coffee bar tiap akhir pekan, ABCD selama ini menjalankan misi edukasi. Tiap weekday, stan seluas 2 x 6 meter itu menyulap diri menjadi school of coffee.

Meski berada di tengah pasar dan ruangan yang tergolong sempit, belajar-mengajar perkopian di ABCD sangat serius. Ditutupnya warung kopi itu juga dimaksudkan agar para calon barista bisa berkonsentrasi dalam belajar mengolah bubuk kopi.

BACA JUGA: ABCD Coffee Bar Bikin Pasar Tradisional Nyaris Mati Jadi Pasar Gaul (1)

Menurut Hendri Kurniawan, owner ABCD Coffee Bar, pihaknya memiliki kurikulum yang jelas dalam pembelajaran barista. Kurikulumnya juga disingkat ABCD. Kurikulum A diartikan sebagai Appreciation Class. Di sini para siswa mulai dikenalkan tentang kopi, mulai jenis kopi sampai rasa dan proses roasting-nya.

Kurikulum B untuk Brewing Class. Kurikulum itu mengajarkan sisi teknis sebagai seorang barista. Mulai penggunaan alat sampai teknis penyeduhan. Kurikulum C diartikan Cupping Class. Kurikulum tersebut mengajarkan siswa sebagai pencicip kopi. Soal yang satu ini, Hendri memang ahlinya. Dia penyandang Licensed Q Grader.

Kurikulum terakhir adalah DE atau Definitive Espresso Class. Bila sudah melewati pembelajaran itu, siswa sudah layak disebut barista. Sebab, di kelas tersebut, Hendri mengajarkan detail cara membuat olahan espresso yang baik dan enak. Untuk ikut semua kelas, Hendri mematok tarif Rp 5 juta.

’’Agar lebih efektif, tiap kelas kami batasi tiga orang,’’ ujar pemegang lisensi Q Grader (pencicip kopi) dan juri Kompetisi Barista Internasional itu.

Siang kemarin Hendri tampak sibuk mengajar seorang artis perempuan yang cukup dikenal. Artis itu belajar secara khusus menjadi barista karena akan menjadi salah satu pemeran utama dalam Filosofi Kopi, film yang diangkat dari novel karya Dewi ’’Dee’’ Lestari.

Produser film Filosofi Kopi Anggia Kharisma meminta identitas artis tersebut tidak dipublikasikan lebih dulu. ’’Rencananya minggu ini namanya kami publish sebagai salah satu pemeran utama film itu,’’ ujar Anggia.

Artis tersebut akan berakting bersama Chicco Jerikho dan Rio Dewanto. ’’Sebelumnya, kami juga sekolahkan Chicco di sini (kios ABCD) untuk bisa menghayati perannya sebagai seorang barista. Seperti halnya siswa ABCD lainnya, Rico mengikuti pelajaran mulai awal sampai akhir. Bahkan, agar lebih terlatih, Chicco sempat ikut menyajikan kopi saat ABCD Coffee Bar buka pada akhir pekan.

Dalam film Filosofi Kopi, Anggia menjadi produser bersama Handoko Hendroyono, creative storyteller dan pakar branding. Handoko mengaku terkesan dengan ABCD Coffee Bar yang berhasil menghidupkan pasar mati itu. Karena itu, dia dan Anggia sepakat untuk memilih warung kopi tersebut untuk ’’menyekolahkan’’ para artisnya sebelum berlaga dalam film tentang kopi itu.

’’Kami juga melihat sosok Hendri yang sangat kredibel. Bahkan, selama proses observasi untuk film ini, kami mendapatkan banyak masukan dari dia,’’ ujarnya.

Kehadiran ABCD di Pasar Santa diakui Kepala Pengelola Pasar Santa Bambang Sugiarto mampu ’’menghidupkan’’ kembali pusat perbelanjaan tradisional itu.

’’Setelah ABCD masuk, bisnis kreatif lainnya yang berbasis komunitas anak muda ikutan sewa kios di sini,’’ ujar Bambang.

Setelah ABCD menjalankan popup coffee bar tiap akhir pekan, bisnis kreatif anak muda lainnya memang bermunculan di Pasar Santa. Sebut saja, kios substore dan laidback blues yang menjual piringan hitam lagu-lagu vintage. Kios lain berupa barbershop.

Bambang yang dipercaya menjadi kepala pengelola pasar sejak 2012 sempat miris melihat kondisi tempat kerjanya yang sepi penjual dan pembeli. Awal masuk di Pasar Santa, kios yang terisi hanya 312 stan di antara total 1.151 stan.

’’Itu pun yang terisi adalah stan pasar basah di lantai basement. Yang lantai satu (tempat ABCD), seluruhnya kosong,’’ ujarnya. Pelan tapi pasti, kini sudah 350 kios di semua lantai disewa orang.

Menurut Bambang, ada sejumlah faktor yang membuat pasar yang didirikan pada 2007 itu mati suri. Yang pertama, lokasi pasar yang kurang strategis. Pasar Santa memang masuk ke Jalan Cipaku yang tidak termasuk jalan utama. Jalan itu hanya selebar sekitar 6 meter. Bila ada mobil parkir di tepi jalan tersebut, kendaraan lain akan terhambat.

Selain itu, serbuan minimarket menjamur di sekitar Jalan Santa. ’’Faktor lainnya ketika itu mulai banyaknya PKL di luar. Akibatnya, yang jualan di dalam pasar jadi sepi,’’ jelasnya.

Dari situ, Bambang mulai berpikir bagaimana meramaikan Pasar Santa. Sampai akhirnya, dia bertemu Hendri yang awalnya menyewa stan di Pasar Santa hanya untuk tempat menyimpan barang.

’’Mas Hendri ketika itu menyampaikan gagasannya agar kios-kios di lantai dua disewakan pada bisnis yang memiliki pangsa pasar komunitas anak muda,’’ ungkapnya.

Cara Hendri meramaikan ABCD selama ini memang cukup kreatif. Misalnya, mengundang sejumlah komunitas pemerhati kopi. Salah satunya Maryam Rodja dengan komunitas Baraka Nusantara-nya. Selama ini, dia mendampingi petani miskin di kaki Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Maryam bercerita, puluhan hektare kebun kopi di Lombok sebelumnya sempat terbengkalai. ’’Kebun itu seperti tak terurus karena sebelumnya pemda memiliki program penanaman bawang putih,’’ ujarnya.

Namun, program itu gagal total karena kualitas tanahnya makin turun lantaran proses kimiawi. ’’Dari situ, kami melakukan pendampingan untuk kembali menggalakkan penanaman kopi secara benar,’’ ungkap Maryam.

Setelah pendampingan sejak Mei 2013, akhirnya panen perdana pun dilakukan. Hasilnya, terkumpul 1,5 ton kopi yang masih berbentuk red cherry. ’’Setelah menjadi bentuk green bean, beratnya jadi sekitar 178 kg dan kami kemas dengan nama Kopi Pahlawan,’’ terang Maryam.

Kopi Pahlawan itulah yang sempat dikenalkan Maryam di ABCD Coffee Bar dengan mengusung konsep charity brew.

Pengunjung ABCD Coffee Bar diberi kesempatan untuk menikmati satu cup espresso dari biji Kopi Pahlawan. Pengunjung tidak dipatok tarif. Mereka hanya diarahkan untuk memberikan donasi seikhlasnya.

Donasi itu akan disumbangkan untuk masyarakat kaki Gunung Rinjani yang sangat memprihatinkan. ’’Melalui donasi itu, kami ingin bisa membangun sekolah yang memadai dan fasilitas sosial lainnya di sana,’’ paparnya. (*/c5/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lala, Bocah yang Dihamili Bapak dan Gurunya


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler