Abduh Lestaluhu, Tidur sambil Berdiri, Senjatanya Jatuh

Sabtu, 30 April 2016 – 08:08 WIB
Abduh Lestaluhu (kiri) bersama Manahati Lestusen. Foto: dok pribadi for JPNN.

jpnn.com - MUHAMMAD Abduh Lestaluhu merupakan salah satu dari 10 pesepak bola mantan penggawa Timnas U-23 yang saat ini memperkuat PS TNI. 

Sembilan pemain selain Abduh adalah Manahati Lestusen, Ravi Murdianto, Teguh Amirudin, Iman Faturohman, Wawan Febrianto, Safri Al Irfandi, Rifad Marasabessy, Ahmad Nufiandani, dan Dimas Drajad.

BACA JUGA: Latihan Militer, Manahati Lestusen Mencuri Mangga, Dihukum...

Abduh menegaskan, PT TNI memang sudah siap tempur. Tentu termasuk dia yang telah berpangkat sersan dua. Dia cerita sedikit tentang pengalamannya saat menjalani pendidikan militer.

Di awal bergabung dengan pendidikan Secaba, mantan winger Persija itu mengaku sangat deg-degan. 

BACA JUGA: Ibu Das, Sosok Perempuan Hebat

Bahkan, di seminggu pertama, hampir tiap hari dia mengaku berpikir untuk kabur. Pulang ke Jakarta. ”Latihannya sangat keras dan berat,” katanya. 

Bangun pagi, dia langsung dihadapkan latihan berat atau lari keliling kompleks dengan memanggul ransel dan senjata sambil bernyanyi. 

BACA JUGA: Kisah Cinta Mengharukan Seorang Babinsa dan Istrinya di Pelosok Papua

”Kami setiap hari bangun pukul 3 pagi dan langsung melakukan apel. Karena masih ngantuk, saya pernah tidur sambil berdiri dan senjata pun jatuh dari tangan saya,” ungkap pemain asal Tulehu, Maluku Tengah, itu. 

Abduh menceritakan, dirinya bahkan pernah menjadi musuh rekan-rekannya di peleton I yang beranggota 35 orang. Pemicunya sama dengan Manahati saat berulah: tak kuat menahan lapar. 

”Padahal, ketika itu malam sudah pukul 1 dini hari,” katanya.

Tak kuasa menahan perut keroncongan, Abduh pun lantas memutuskan menyusup dan keluar barak secara diam-diam. Padahal, yang masih menjalani pendidikan dilarang keluar barak selama tiga bulan pertama. 

Meski sudah berusaha berhati-hati, gerak-gerik Abduh ternyata tertangkap radar para pengajar. Karena itu, begitu hendak balik ke barak setelah selesai menyantap makanan di warung, Abduh langsung ditahan. 

Sesuai aturan, seluruh anggota peleton I harus turut menerima hukuman diterjunkan ke dalam sungai dengan hanya menggunakan celana dalam.

Adapun hukuman dari rekan-rekan sepeleton, Abduh harus tidur melawan dinginnya malam dan panasnya udara siang selama satu minggu seorang diri. Sebab, tempat tidurnya dipindahkan oleh teman-temannya ke luar kamar. 

Namun, lama-kelamaan, Abduh mulai bisa menyesuaikan diri. Setelah berjalan sekitar sebulan, Abduh bahkan mulai bisa memetik manfaatnya. Bukan hanya dari ketahanan fisik dan keterampilan militer. ”Jiwa patriotisme kami juga jadi begitu tinggi,” katanya. 

Persis sebulan plus 20 hari, Abduh dkk pun mengakhiri pendidikan yang semestinya ditempuh lima bulan. Gara-garanya, PS TNI memastikan ikut turnamen Piala Jenderal Sudirman. Para pemain cum tentara itu pun dipanggil untuk mengikuti training center di Medan, Sumatera Utara. 

Karena sudah menyelesaikan pendidikan Secaba, mereka berhak menyandang pangkat sersan dua. Untuk penempatan, Manahati Lestusen dkk ditugaskan di Puspom (Pusat Polisi Militer) Kodam Jaya, Jakarta.    

Nah, selama mengikuti ISC, para pemain cum tentara itu akan tetap menerima gaji bulanan. 

Sedangkan uang lauk pauknya ditingkatkan setara dengan gaji pemain profesional. Namun, manajemen PS TNI tak membuka berapa persisnya nominal yang diterima pemain mereka. (*/c10/ttg/sam/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Bintara yang Sukses "Taklukkan" Dua Jenderal di Sudan Selatan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler