Aceh Terancam Krisis Pangan

Jumat, 08 Agustus 2014 – 08:11 WIB

jpnn.com - ACEH UTARA  - Provinsi Aceh dalam enam bulan ke depan, terancam krisis pangan. Hal itu disebabkan areal sawah di sejumlah kabupaten di Aceh dilanda kekeringan. Kondisi ini terjadi akibat tidak turun hujan, debit air di sungai dan waduk penampungan berkurang dan faktor lainnya. 

Sesuai data yang dihimpun Badan Penyuluh dan Ketahanan Pangan Aceh, diperkirakan ada 16 ribu hektar lebih areal sawah petani di Aceh mengalami kekeringan. Seperti  di Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Gaya Lues dan beberapa kabupaten lainnya.

BACA JUGA: Ratusan Warga Shalat Minta Hujan

Demikian disampaikan Kepala Badan Penyuluh dan Ketahanan Pangan Aceh, Drs Hasanudin Darjo, didampingi Kepala Badan Penyuluh dan Ketahanan Pangan Aceh Utara, Syarifuddin, kepada Rakyat Aceh (Grup JPNN), kemarin, usai meninjau sawah kekeringan di Gampong Deng, Kecamatan Tanah Luas, Aceh Utara.

Sebut Hasanuddin Darjo, usia tanaman padi rata-rata yang terjadi kekeringan itu, ada yang sudah ditanam dan berbuah. Bahkan, tidak sempat ditanami padi karena areal sawahnya sudah duluan kekeringan.  

BACA JUGA: Tewas Diinjak dan Diseret Gajah Liar

“Kerugian petani ditaksir triliunan rupiah di sejumlah kabupaten di Aceh, karena pasti gagal panen dan produksinya menurun,”terangnya.   
 
Menurut dia, kalaupun sempat terjadi krisis pangan di Aceh, maka akan digunakan cadangan beras pemerintah atau daerah. Tentunya, kalau padi produksi lokal tidak ada maka pihaknya juga akan harus mendatangkan beras dari luar. Belum lagi, ancaman kelaparan bagi petani  karena tidak adanya persedian produksi padi. Apalagi, bagi masyarakat Aceh itu konsumsi utamanya adalah beras.
 
Untuk itu dia hanya bisa berharap kepada daerah yang dilanda kekeringan, agar bisa mengoptimalkan sumber air yang ada untuk mengairi sawah. Pengembangan sarana dan prasarana irigasi. Kemudian, selalu berdoa kepada Allah supaya diberikan hujan. Seperti hujan yang terjadi sore ini (kemarin sore,red) di Aceh Utara dan sekitarnya.
 
Selain itu, lanjut dia, kekeringan paling parah terjadi hanya pada tahun ini jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Tahun lalu, tidak separah tahun ini karena saya juga selalu turun ke lapangan. Tujuannya hanya untuk memantau kondisi areal sawah yang dilanda kekeringan,”cetus Kepala Badan Penyuluh dan Ketahanan Pangan Aceh.
 
Dikatakannya, produksi padi di Aceh untuk tahun 2014 ini dijatah 2,2 juta ton dari tahun sebelumnya 1,9 juta ton. Tentunya, dengan terjadi kekeringan itu  hasil produksi juga akan berkurang dengan sendiri dan kemungkinan tidak bisa mencapai target.

“Tapi kita tunggu saja nanti data dari penyuluh, BP, BPS dan pihak terkait lain di akhir tahun 2014,”ucapnya. (arm)

BACA JUGA: Asahan dan Pakpak Barat Batal Rekrut CPNS

BACA ARTIKEL LAINNYA... Palsukan Berkas, 18 Honorer Kemenag Dipecat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler