Ada Caketum yang Bilang KLB PSSI Kental Permainan Uang

Sabtu, 02 November 2019 – 09:27 WIB
Uang. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Sembilan calon ketua umum PSSI periode 2019-2023 berkomitmen hadir dalam KLB PSSI 2 November, meski mengkritik pelaksanaan kegiatan tersebut.

“Kami akan mengikuti kongres tanggal 2 November. Namun, kami berharap pemerintah dan FIFA memastikan kongres berjalan sesuai Statuta FIFA,” ujar juru bicara sembilan calon ketua umum PSSI tersebut, Fary Djemy Francis, dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Jumat (1/11).

BACA JUGA: Pintu Masuk ke Ruang KLB PSSI Dijaga Ketat

Meski demikian, Fary tidak bisa memastikan apakah dia dan delapan calon ketum yang lain yaitu Vijaya Fitriyasa, Yesayas Oktavianus, Rahim Soekasah, Arif Putra Wicaksono, Aven Hinelo, Benny Erwin, Bernhard Limbong dan Sarman El Hakim bisa menjalani dan mengakui hasil kongres.

Mereka masih memantau dinamika kongres sejak sebelum hingga acara digelar. “Semua tergantung dinamika yang terjadi dari kongres itu setiap menitnya,” tutur Fary.

BACA JUGA: Iwan Budianto: Semoga KLB PSSI Lancar dan Sukses

Dalam beberapa hari terakhir, jadwal kongres pemilihan Komite Eksekutif (Exco) PSSI periode 2019-2023 yaitu ketua umum, dua wakil ketua umum serta 12 anggota exco, pada 2 November 2019 dipermasalahkan oleh beberapa calon ketua umum PSSI seperti Ketua DPD RI 2019-2024 La Nyalla Mattalitti.

Menurut La Nyalla, kongres itu bermasalah karena tidak sesuai dengan kesepakatan awal PSSI, AFC dan FIFA yakni 25 Januari 2020 agar pemilik suara (voter) yang terlibat pun voter hasil kompetisi 2019 bukan 2018.

BACA JUGA: Nadiem Makarim Rancang Sistem Belajar Berbasis Aplikasi, Minta Waktu 100 Hari

La Nyalla sendiri sudah mengatakan bahwa dia menarik diri dan tidak mau terlibat di kongres pada 2 November tersebut.

Dengan alasan untuk membawa PSSI ke arah lebih baik, sembilan dari 11 calon ketua umum 2019-2023 mengeluarkan sebuah deklarasi berjudul "PSSI Baru Menuju Perubahan" yang berisi spuluh poin meliputi tuduhan, kekecewaan dan sikap mereka terhadap kongres pemilihan PSSI 2 November 2019.

Salah satu tudingan mereka adalah adanya operasi senyap dari beberapa oknum komite eksekutif PSSI untuk memenangkan salah satu calon ketua umum di kongres. Mereka juga menganggap kongres luar biasa pemilihan PSSI kental dengan permainan uang antara salah satu calon ketua umum dengan para pemilik suara (voter).

Setelah itu, sebagai tindak lanjut, ‘tim sembilan’ itu membentuk posko bersama di lokasi kongres PSSI, Hotel Shangri-La, Jakarta, untuk menampung aspirasi para voter. “Di posko itu, voter bisa datang dan berkonsultasi. Kami ingin kongres berjalan dengan bersih,” kata Fary.

Sementara Vijaya Fitriyasa mengimbau voter untuk tidak terjebak dengan ‘lingkaran setan’ di PSSI.

Pemilik 70 persen saham di Persis Solo itu meminta para voter untuk menyatukan semangat demi memperbaiki PSSI. “Kami berkomitmen untuk itu dan mari kita maju bersama-sama,” tutur Vijaya. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler