Ada Program CSR untuk Bantu Anak yang Mengalami Penyakit Jantung Bawaan

Selasa, 22 Maret 2022 – 06:45 WIB
Ilustrasi dokter mengobati pasien penyakit jantung. Foto: dok Heartology

jpnn.com, JAKARTA - Dalam rangka HUT pertama, Heartology Cardiovascular Center dan Brawijaya Hospital Saharjo berkolaborasi dengan Yayasan Jantung Indonesia (YJI) untuk menyelenggarakan program CSR dalam bentuk tiga prosedur bagi anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB).

Keprihatinan ini didasarkan pada data yang dikutip dari PERKI, bahwa angka kejadian PJB di Indonesia yang diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup (9 : 1.000 kelahiran hidup) setiap tahunnya.

BACA JUGA: 7 Suplemen yang Baik untuk Menjaga Kesehatan Jantung, Aman Dikonsumsi Bun

Berdasarkan data itu, sebanyak 30 persen di antaranya memperlihatkan gejala pada minggu-minggu pertama kehidupan di mana sebagian besar pasien PJB terabaikan (tidak ditangani dengan benar).

PJB dapat disebabkan karena malnutrisi atau infeksi yang dialami selama masa kehamilan. Masalah utama dari PJB adalah diagnosa dini dan penanganan, karena tidak meratanya sebaran fasilitas yang dapat menangani PJB di Indonesia, sehingga banyak kasus PJB yang berakhir dengan kematian.

BACA JUGA: 6 Penyebab Serangan Jantung yang Tidak Terduga, Nomor 4 Bikin Kaget

Dewasa ini, seiring dengan kemajuan teknologi di bidang kedokteran, khususnya dalam bidang intervensi kardiologi anak, sebagian anak penderita PJB tidak perlu lagi mengalami operasi atau pembedahan terbuka.

Metode pilihan utama untuk menangani kasus PJB tertentu adalah prosedur intervensi menggunakan kateter. Intervensi menggunakan kateter memiliki beberapa keuntungan di antaranya risiko/ komplikasi relatif lebih rendah, masa rawat di rumah sakit dan waktu pemulihan yang lebih singkat, serta biaya yang lebih murah.

Selain itu, waktu pengerjaan tindakan juga lebih singkat. Adapun prosedur yang dilakukan dalam program ini meliputi 2 prosedur PDA (Patent Ductus Arteriosus) Closure untuk bayi berusia 9 bulan, serta 1 prosedur ASD (Atrial Septal Defect) Closure untuk anak berusia 8 tahun.

PDA merupakan kondisi di mana pembuluh darah yang menghubungkan aorta dan arteri paru tetap terbuka. Kemudian lubang ditutup menggunakan device Penutupan PDA.

Sedangkan ASD merupakan kondisi di mana adanya lubang pada serambi jantung yang mengakibatkan aliran darah menjadi tidak normal yang kemudian ditutup dengan device Penutupan ASD.

Ketiga prosedur ini dilakukan oleh tim spesialis jantung dan pembuluh darah, yaitu dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K) dan dr. Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K).

Dalam pertemuan media secara daring yang diadakan, dr. Radityo menjelaskan bahwa tindakan intervensi kateter ini dilakukan dengan metode zero fluroskopi (tanpa radiasi).

"Radiasi diketahui dapat menimbulkan efek jangka panjang untuk pasien, dokter dan tim laboratorium kateterisasi," ujarnya.

Dokter Ario menambahkan prosedur ini menggunakan bantuan imaging murni dari ekokardiografi. Ario yang juga duduk sebagai Ketua Divisi Medis YJI, menyambut baik inisiatif CSR ini dan berharap makin banyak kasus PJB yang dapat terdiagnosa secara dini dan ditangani secara tepat.

Penanganan PJB yang tepat, dapat meningkatkan 3x usia harapan hidup pasien. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler