Ada Vaksin Covid-19 dari Tiongkok & UEA, Erick Thohir Tetap Prioritaskan Merah Putih

Kamis, 27 Agustus 2020 – 21:31 WIB
Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Erick Thohir dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR, Jakarta, Kamis (27/8). Foto: Ricardo/jpnn.com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Pelaksana Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (PCPEN) Erick Thohir mengaku tetap memprioritaskan pengembangan vaksin Merah Putih buatan dalam negeri untuk Covid-19.

Menteri BUMN itu menegaskan, kerja sama PT Bio Farma dengan Sinovac Biotech Ltd dari Tiongkok ataupun PT Kimia Farma bekerja sama dengan G42 Healthcare Holdings dari Uni Arab Emirates (UAE) dalam pengadaan vaksin Covid-19 bukan berarti mengesampingkan vaksin Merah Putih.

BACA JUGA: Erick Thohir Blak-blakan soal Kerja Sama dengan Tiongkok untuk Pengadaan Vaksin Covid-19

"Alhamdulillah kita dapatkan dua kerja sama (Sinovac dan G42) pada saat ini, tetapi tentu prioritas bagaimana vaksin Merah Putih tetap berjalan," kata Erick saat rapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (27/8).

Selain itu, Erick juga tengah menjajaki kerja sama dengan perusahaan lain yang juga memproduksi vaksin. Di antaranya adalah CanSino Biologics di Tiongkok, AstraZaneca di Eropa, maupun Bill & Melinda Gates Foundations yang bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan di Amerika Serikat.

BACA JUGA: Bio Farma Terima 50 Juta Dosis Konsentrat Vaksin COVID-19 dari Sinovac

Erick menambahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berencana menerbitkan perpres dalam rangka pengembangan vaksin. Dalam perpres itu, kata dia, pimpinan tim pengembangan vaksin Merah Putih akan dipercayakan kepada Menteri Riset dan Teknologi (Ristek) dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro.

Adapun untuk ppsisi wakil ketua tim dipercayakan kepada Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto dan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir. "Karena memang infrastruktur yang digunakan sebagian besar dari perusahaan-perusahaan BUMN," tuturnya.

BACA JUGA: Vaksin Merdeka

Erick menambahkan, vaksin yang dari Sinovac dan G42 hanya untuk dua kali dosis penyuntikan. Jeda waktunya dua minggu.

Selain itu, kata dia, vaksin tersebut masih bersifat jangka pendek, yakni enam bulan sampai dua tahun. "Bukan vaksin yang disuntikkan (untuk) selamanya," kata dia.

Selain itu, awalnya vaksin tersebut untuk usia 18-59 tahun. Namun, katanya, berdasar konfirmasi terakhir usia di atas 59 tahun sudah bisa menerima vaksin itu.

"Sekarang terus dikembangkan untuk vaksin kepada lebih muda 18 ke bawah, termasuk anak-anak," katanya.

Lebih lanjut Erick menuturkan soal dua usulan program vaksinasi kepada masyarakat. Pertama, vaksin bantuan pemerintah lewat dana APBN dengan menggunakan data BPJS Kesehatan.

"Bahwa nanti ada istilahnya vaksin gratis secara massal yang diharapkan bisa di awal tahun depan," kata dia.

Namun, untuk mengurangi beban APBN yang selama ini mengalami defisit yang terus melebar, dan cukup rentannya pemasukan ekonomi kepada negara, Erick mengusulkan bila memungkinkan bagi yang mampu membayar vaksin secara mandiri.

"Memang yang terdata di BPJS Kesehatan itu gratis, tetapi dengan tingkat daya beli berapa itu harus mandiri. Karena itu bagian dari upaya mencoba menekan cash flow di pemerintah," kata ketua Tim Kampanye Nasional Jokowi - KH Ma'ruf Amin di Pilpres 2019 itu.(boy/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler