Adian Napitupulu Protes Larangan Berjaket di Syukuran Jokowi-JK

Jumat, 17 Oktober 2014 – 19:00 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Anggota DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Adian Napitupulu, mengkritik aturan berbusana bagi undangan yang ingin menghadiri acara syukuran usai  pelantikan pasangan presiden terpilih, Joko Widodo-Jusuf Kalla, di Istana, Senin (20/10) mendatang.

Pasalnya, aturan membolehkan undangan mengenakan jas, blazer, maupun rompi. Namun dilarang menggunakan jaket. Alasannya, karena jaket bisa menyembunyikan barang-barang berbahaya seperti pisau, pistol, granat, dan lain-lain.

BACA JUGA: KPK Akan Dalami Keterangan Nazaruddin Soal Ibas

"Mungkin juga karena jaket bisa menyembunyikan bazooka bahkan panser kali ya. Pertanyaannya, apakah jas dan blazer tidak bisa menyembunyikan barang-barang berbahaya seperti itu. Kalau bisa, kenapa pakai jaket tidak boleh tapi pakai jas boleh," kata Adian di Jakarta, Jumat (17/10).

Sebelumnya, Koordinator Kirab Budaya Syukuran Rakyat pelantikan Jokowi-JK, Jay Wijayanto, mengatakan panitia menyiapkan 7.000 kursi bagi warga yang mengikuti proses syukuran di dalam Istana.

BACA JUGA: Sebelum Dilantik, Jokowi-JK Hadiri Acara di Masjid, Gereja, Pura

Namun Jay meminta warga yang masuk ke Istana tidak memakai jaket ataupun membawa tas untuk mempersingkat pemeriksaan di pintu masuk.

Menurut Adian, kalau si pembuat aturan mau jujur, mungkin alasan pelarangan jaket karena penggunanya identik dengan penjahat. Sementara, jas identik dengan pejabat. Selain itu, pakai jaket mungkin membuat kesan suasana kumuh, tapi pakai jas nampak mewah.

BACA JUGA: Politisi PDIP Tolak Darmin dan SMI

"Jaket membuat orang tampak berbahaya, jas membuat orang tampak bergaya. Tapi bagi banyak orang, jaket atau jas bukan masalah besar," katanya.

Jika merunut pada sejarah, kemenangan Jokowi menurut Adian, bukan didukung jutaan orang berjas, tapi jutaan orang berjaket yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek, atau yang kedinginan karena meronda dan yang wara-wiri setiap hari ke tempat kerja dengan sepeda motor.

"Bisa dipastikan semua pendukung Jokowi punya jaket di rumahnya, tapi tidak semua pendukung Jokowi punya jas. Cara pandang Jay Wijayanto adalah cara pandang sempit yang mengidentikkan baik buruknya orang dari pakaian," ujarnya.

Jika cara berpikir demikian dipertahankan,  maka kata Adian, jangan heran suatu saat akan ada jenis dan pakaian lain yang diidentikan dengan teroris. Atau jangan-jangan siapapun yang menggunakan rok mini diidentikan dengan pelacur.

"Kenapa Jay melarang rakyat ke istana dengan jaket? Mungkin karena Jokowi sudah jadi presiden dan dia harus dikelilingi orang berjas dan dijauhkan dari orang-orang berjaket. Menyedihkan, Jokowi hari ini dikelilingi orang-orang yang tidak rasional, yang menghakimi sesama manusia karena pakaian," katanya.(gir/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dahlan Ajak Direksi BUMN Turun ke Jalan untuk SBY


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler