Adib Surya Ramadhan, Bocah 13 Tahun Ini Sangat Luar Biasa, Lihat Apa yang Dia Kerjakan

Rabu, 04 Agustus 2021 – 12:15 WIB
Gaya Adib Surya Ramadhan saat membenahi mesin cuci di rumahnya. Foto: Rizky Putra Dinasti/Jawa Pos Radar Bromo

jpnn.com, PROBOLINGGO - Adib Surya Ramadhan, bocah 13 tahun siswa SMPN 10 Probolinggo ini lain dari anak-anak seusianya.

Mungkin kebanyakan anak usia belasan, di masa pandemi ini, setelah belajar daring bakal menghabiskan waktu dengan bermain game.

BACA JUGA: Ayah dan Ibu Meninggal Karena Covid-19, Bocah 8 Tahun Ghifari Menangis di Mapolres Sukoharjo

Adib tidak seperti itu. Setelah belajar daring, dia harus membantu ayahnya yang tengah sakit keras.

Saat awak Radar Bromo berkunjung, Adib terlihat baru menutup ponselnya. Dia bukan baru selesai main game, tetapi baru saja belajar daring.

BACA JUGA: Dalam 5 Hari Ayah dan Ibu Meninggal Karena Covid, 2 Bocah Ranu dan Rani Isolasi Mandiri

Selesai dengan gadged-nya, Adib sudah bersiap dengan obeng dan perkakas launnya.

Dia mulai bersiap-siap memperbaiki kulkas dan juga mesin cuci yang ada depan rumahnya.

BACA JUGA: Ada yang Tahu 2 Bocah Ini, Mereka Mencuri Kotak Amal karena Lapar, Lihat

Aktivitas itu sebenarnya menjadi mata pencaharian ayahnya.

Meski masih belia, tangan Adib rupanya sudah terampil. Dia juga tahu rangkaian kelistrikan kulkas. Ini terlihat saat dia mengamati kulkas milik seseorang, yang memang dipercayakannya untuk dibenahi.

Seperti saat Adib melakukan pengelasan pada bagian kulkas. Tujuannya agar sambungan pipa yang rusak dapat dibuka dan bisa diperbaiki.

Itulah aktivitas Adib sejak satu tahun enam bulan lalu.

Adib mulai berkecimpung menjadi tukang reparasi kulkas maupun mesin cuci, sejak kecil.

Hanya saja, ia mulai serius serta melakukan perbaikan sendiri, sekitar satu tahun lalu.

Saat itu ayahnya yakni Surya Buana, 52, tengah sakit liver. Sehingga ayahnya tidak bsia melakukan perbaikan.

Sehingga Adib melakukan perbaikan sendiri. “Kadang jika persoalanya serius, saya tanya ke ayah saya. Namun, yang mengerjakan tetap saya. Soalnya ayah sudah tidak bisa, karena sakit,” katanya.

Bahkan anak sejumlah siswa SMK yang magang di tempatnya, ikut diajarkan untuk memperbaiki.

Mulai dari mendeteksi kerusakan yang ada di kulkas dan juga mesin cuci.

"Untuk perbaikannya tergantung kerusakan. Biasanya kalau kerusakanya ringan satu jam selesai, jika sulit, maka perlu satu hari,” katanya.

Setidaknya dalam sehari, Adib bisa mengerjakan dua hingga tiga kulkas yang ada di rumahnya. Dengan catatan kerusakanya ringan. Sebab, jika kerusakanya terbilang parah, proses perbaikannya pun makan waktu seharian untuk satu kulkas atau mesin cuci.

Untuk ongkosnya pun beragam. Jika perbaikannya ringan dan sederhana, biaya yang dipatok sekitar Rp 75 ribu.

Jika berat bisa Rp 100 ribu atau lebih. Harga itu hanya untuk harga jasa servis. Tidak termasuk pergantian alat yang rusak.

“Biasanya kerusakan yang sering terejadi di bagian pendingin dan juga freon. Hal itu akibat dicungkil olah pemilik ketika mengambil barang di dalam freezer,” kata anak ketiga dari pasangan Surya Buana, 52 dan Warsini Hastutik, 43.

Anak ketiga dari lima bersaudara itu menjelaskan bahwa dalam sehari, biasanya ada tiga sampai lima barang yang masuk. Baik itu kulkas ataupun juga mesin cuci.

Namun, mayoritas yang saat ini ia garap yakni kulkas. “Bisa servis segala merek dan juga jenis mesin cuci. Model lama maupun model baru,” katanya.

Bedanya, lanjutnya, untuk mesin cuci dan juga kulkas yang baru, biasanya menggunakan modul. Sehingga perbaikan dan juga analisanya dengan menggunakan komputer.

“Nah, selanjutnya jika sudah dianalisa rusaknya di bagian apa, baru dikerjakan secara manual,” katanya.

Adib mengaku selama ini pengetahuan memperbaiki mesin cuci dan kulkas dia dapat dari ayahnya. Selebihnya dia autodidak. Sebab dia memang sering memperhatikan ayahnya ketika masih bekerja. “Jadi selama ini pengalaman saya dan juga tanya ke ayah,” katanya.

Surya Buana, ayah Adib menerangkan bahwa anak ketiganya itu dari kecil memang suka memperhatikan ketika ia bekerja. Bahkan menginjak SMP tak jarang membantu melakukan perbaikan.

Lantaran dirinya terkena penyakit liver yang membuatnya susah untuk bangun dan beraktivitas, maka pekerjaanya mulai dipegang Adib. Dia hanya membantu mengarahkan, jika Adib meminta saran.

“Untuk pengerjaannya, Adib sendiri. Namun, jika ada hal yang kurang dimengerti, dia tanya saya,” kata Surya.

Rupanya apa yang dilakukan Adib mendapat pujian dari sekolahnya. Nuning Yuliati selaku Wakil Ketua Kesiswaan mengatakan Adib juga aktif sebagai anggota OSIS. Prestasinya juga apik karena sering mendapat nilai bagus.

“Anak seusia Adib ini sudah luar biasa. Di sekolah juga aktif dalam organisasi serta mau memberikan contoh kepada adik-adiknya dan juga siswa lainnya,” kata Nuning yang saat itu juga kebetulan berada di rumah Adib.

Ia berharap, anak-anak atau peserta didik lain, bisa mengambil contoh ini. Terutama saat pandemi seperti sekarang. Minimal siswa terus belajar, dan melakukan aktivitas yang baik pula. (rpd/fun)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler