Ahmad Basarah: Kebangkitan Nasional 2020 Momentum Bersatu Atasi Corona

Rabu, 20 Mei 2020 – 12:44 WIB
Wakil Ketua MPR RI, Ahmad Basarah. Foto: Humas MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengajak semua pihak untuk menjadikan perayaan Kebangkitan Nasional 2020 sebagai momentum strategis menyatukan aksi untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Ia berharap pada peringatan 112 tahun Hari Kebangkitan Nasional di tengah ancaman Pandemi Covid-19 ini, semua pihak menghilangkan sekat-sekat politik dan perbedaan kepentingan sektoral seraya merenungkan kembali mengapa Soekarno sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia pada 1948 menjadikan kelahiran Budi Utomo (BU) 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

BACA JUGA: Ahmad Basarah Pastikan Tidak Ada Ruang Untuk Kebangkitan PKI

"Penunjukan hari kelahiran Budi Utomo 20 Mei 1908 sebagai Hari Kebangkitan Nasional harus dilihat sebagai upaya Bung Karno mencari ikon yang bisa diterima semua pihak untuk menggalang persatuan nasional ketika republik muda yang dia pimpin menghadapi agresi Belanda di satu sisi, sementara di sisi lain anak-anak bangsa ketika itu juga sedang dilanda ancaman perpecahan politik,’’ kata Basarah, Rabu (20/5).

Untuk itu, Ketua DPP PDI Perjuangan ini mengajak semua pihak melihat konteks dipilihnya kelahiran organisasi Budi Utomo oleh Bung Karno sebagai ikon peringatan hari kebangkitan nasional ini dengan menangkap kesamaan konteks yang terjadi pada 1948 dengan konteks kekinian ketika Indonesia menghadapi pandemi Covid-19.

BACA JUGA: Ketua MPR RI: Kalau Urusan Perut Saja Bergantung Kepada Negara Lain, Celakalah Hidup Kita

"Jika dulu musuh bersama yang dihadapi anak bangsa adalah agresi Belanda yang sejak berabad-abad sebelumnya mempraktektan politik belah bambuo, politik divide et impera, kini musuh bersama kita adalah wabah penyakit menular Covid-19. Jika dulu bangsa kita bisa bersatu, apa alasan kita sekarang tidak bersatu bahkan cenderung saling menyalahkan di tengah penderitaan yang dialami secara nasional?’’ kata Basarah.

Menurut penulis buku ’Bung Karno, Islam dan Pancasila' (2017) itu, organisasi Budi Utomo selama ini disimpulkan oleh banyak pengamat sebagai organisasi pergerakan modern yang moderat dan relatif tidak terjebak dalam kepentingan politik jangka pendek dengan menjadikan organisasi pergerakan mereka sebagai partai politik.

BACA JUGA: Wakil Ketua MPR RI Kasih Komentar Tajam soal Pernyataan Jokowi

Karena itu, organisasi ini tidak terlibat terlalu jauh menjadi bagian pihak-pihak yang bersengketa di masa revolusi.

Tujuan Budi Utomo berdiri adalah murni memperjuangkan kemajuan bangsa Indonesia di awal abad ke-20.

"Spirit moderasi dan cita-cita luhur Budi Utomo inilah yang ditangkap oleh Bung Karno dan hendak beliau diseminasi ke seluruh jiwa bangsa Indonesia di tengah perjuangan melawan agresi bangsa asing saat itu. Nah, sekarang, spirit Budi Utomo itulah yang harus kita tangkap bersama agar kita keluar dari tekanan pandemi Covid-19,’’ jelas Basarah.

Sekjen Presidium Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) 1996-1999 ini menambahkan, bangsa Indonesia saat ini mestinya belajar dari sejarah berdirinya Republik Indonesia setelah lebih dari tiga abad tanah Nusantara dijajah oleh kaum imperialis yang mempraktekkan politik divide et impera.

Politik pecah belah atau politik adu domba ini berbahaya karena politik ini dikenal sebagai kombinasi strategi politik, militer, dan ekonomi yang bertujuan mendapatkan dan menjaga kekuasaan dengan cara memecah kelompok besar menjadi kelompok-kelompok kecil yang lebih mudah ditaklukkan.

"Saya sadar bahwa anak-anak bangsa saat ini tentu punya kepentingan politik masing-masing sesuai cita-cita luhur mereka. Dulu bapak bangsa kita juga punya kepentingan politik berbeda-beda. Nmaun, ketika menghadapi musuh bersama agresi Belanda, mereka menurunkan ego masing-masing demi kepentingan bangsa. Mengapa sekarang kita tidak bisa meniru akhlak baik bapak bangsa dengan menurunkan ego sektoral kita juga di saat susah akibat pandemi Covid-19?’’ tanya Basarah.

Untuk itu, Ahmad Basarah mengimbau semua pihak untuk menjadikan peringatan hari Kebangkitan Nasional kali ini sebagai momentum untuk bersatu dan bangkit menghadapi pandemi Covid19. Apalagi World Health Organization (WHO) telah memberi peringatan bahwa wabah virus corona masih akan terjadi sepanjang lima tahun ke depan.

‘’Saya ingin menjadikan pandemi Covid-19 ini sebagai momentum positif dengan meminta pemerintah agar serius menyiapkan sebuah ‘’road map’’ untuk membangun dan memperkuat kedaulatan nasional di bidang kesehatan (health security)," tutur Basarah.

"Di masa mendatang, Indonesia tidak boleh lagi punya ketergantungan yang sangat tinggi pada produk impor alat kesehatan dan bahan baku obat, baik untuk menghadapi pandemi Covid 19 maupun untuk mengatasi penyakit lainnya,’’ imbuhnya.

Fakta bahwa Indonesia amat sangat bergantung pada impor di bidang kesehatan pernah diungkap oleh Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN), Bambang Brodjonegoro.

Ia mengatakan tingkat ketergantungan Indonesia pada barang impor, terutama alat kesehatan dan obat, mencapai di atas 90 persen. Di sisi lain, Menteri BUMN Erick Thohir pernah mengungkapkan dugaan adanya mafia impor alat-alat kesehatan di Indonesia yang sudah mencapai taraf mengkhawatirkan.

Menurut Ahmad Basarah, di dalam 'road map' yang harus digarap pemerintah dengan serius itu harus terkandung perencanaan matang untuk mencapai sistem kedaulatan kesehatan yang berdikari, dengan syarat utamanya adalah melelakukan riset dan inovasi.

Ia optimistis 'road map' serupa itu bisa dilakukan dengan kolaborasi, sinergi dan gotong royong, baik antarbirokrasi pemerintah, swasta maupun perguruan tinggi, sebagaimana bangsa Indonesia dulu bergotong royong mengusir penjajah Belanda.

"Untuk mendukung riset dan inovasi tersebut, diperlukan komitmen kuat berupa politik kesehatan yang pro kepentingan nasional yang ditunjukkan lewat alokasi anggaran, kebijakan, atau regulasi. Misalnya pemerintah tidak lagi sekadar mendorong, melainkan mewajibkan penggunaan alat kesehatan dalam produksi negeri,’’ tegas Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini.

Basarah menjelaskan ada tiga masalah kemanusiaan yang selalu hadir dalam sejarah umat manusia, yakni peperangan, kelaparan, dan penyakit menular.

Kini, ketika opsi peperangan tidak lagi menjadi pilihan dan kelaparan bisa dikendalikan, ancaman penyakit menular menjadi momok yang mengancam peradaban manusia karena penyakit menular ini selalu datang secara tiba-tiba.

"Untuk itu semua negara, termasuk Indonesia, harus selalu berada dalam skenario siap siaga menghadapi serangan penyakit menular ini,’’ tandasnya. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler