Akhir Era Gangster Hong Kong

Selasa, 20 Maret 2018 – 16:01 WIB
Dahlan Iskan. Ilustrasi: Jawa Pos

jpnn.com - Ini seperti cerita gabungan antara kekayaan, warisan dan brutalnya gangster di Hong Kong. Jumat lalu orang terkaya di Asia (nomor 23 di dunia), Li Ka-shing, menyatakan pensiun total.

Pada umur yang ke-90,  Ka-shing mewariskan bisnisnya ke anak pertamanya: Victor Li. Persis 20 tahun setelah sang anak selamat dari penculikan dengan tebusan Rp 2 triliun.

BACA JUGA: Debat Kesepakatan dan Ketidakwajaran

Anak pertamanya itu mewarisi jabatan bapaknya saat sudah berumur 53 tahun. Dua tahun lebih tua dari anak keduanya, Richard Li.Kesehatan sang bapak memang luar biasa. Saat menyatakan pensiun itu pun masih terlihat sangat sehat.

Bahwa jabatan chairman Cheung Kong Holding dan Hutchison Holdings itu jatuh ke anak pertama rupanya sudah disadari sepenuhnya oleh anak kedua. Bahkan sejak Richard masih berumur 24 tahun. Saat masih kuliah di Stanford, Amerika.

BACA JUGA: Menarif Mahal, Ditagih Mahal

Saat itu tiba-tiba Richard memilih tidak perlu lulus sarjana. Toh bapaknya juga hanya protolan SMA.

Richard pulang ke Hong Kong. Mendirikan perusahaan start up. Memang saat itu lagi awal musim start up. Apple pun juga baru mulai.

BACA JUGA: Dahlan: Apakah Seperti ini Akan Membawa Kemajuan?

Singkat cerita, Richard sukses. Sang ayah kagum. Apalagi saat Richard kemudian mampu menjual salah satu perusahaannya, Stars TV dengan nilai 500 juta dolar.

Saat itu, anak pertamanya, Victor Li sudah membantu ayahnya terlibat di manajemen grup. Sibuk dengan urusan harian perusahaan yang begitu besar dan menggurita. Tidak mungkin Victor sempat keluar ide seperti adiknya.

Sejak itu kian jelas siapa putra mahkota konglomerat Li Ka-shing. Semua orang tahu. Termasuk para gangster di Hong Kong.

Victorlah sang putra mahkota itu. Richard terlalu sibuk dengan kekonglomeratannya sendiri.

Sang putra mahkota pun dalam bahaya. Ada satu gangster yang mengincarnya. Gangster ini sudah bosan dengan perampokan-perampokan kecil. Risikonya toh sama.

Dia berpendapat hanya dengan menculik anak konglomerat akan bisa mendapatkan uang banyak. Dia tahu konglomerat pasti takut mati. Kehilangan banyak uang pun tidak akan jatuh miskin.

Itulah jalan pikiran boss gangster Hongkong ini: Zhang Ziqiang. Sebenarnya Zhang baru satu tahun keluar penjara. Akibat tertangkap dua kali merampok bandara internasional Hongkong.

Dia dijatuhi hukuman 18 tahun. Teman operasinya, Yip, dihukum 41 tahun.

Tapi sistem hukum Hongkong terlalu tegak. Zhang hanya menjalani hukuman kurang dari 4 tahun. Dia bebas karena kurang bukti.

Waktu itu, tahun 1996, Hongkong masih di bawah kekuasaan Inggris. Baru akan diserahkan ke Tiongkok tahun berikutnya.

Keluar dari penjara, Zhang ingin membebaskan temannya. Dengan cara yang spektakuler: membeli bom yang akan bisa meledakkan Hongkong. Saat itulah temannya akan bisa keluar penjara.

Tapi membeli bom perlu dana besar. Bukan saja harus membelinya dari pasar gelap. Tapi juga harus menyuap begitu banyak aparat untuk pengamanannya.

Maka Zhang pun membuat keputusan: menculik Victor Li, putra mahkota Li Ka-shing. Akan minta tebusan Rp 4 triliun.

Penculikan sukses. Victor dimasukkan peti mati. Peti itu dilubangi agar ada udara untuk pernafasan. Li Ka-shing setuju membayar separo dari tuntutan.

Tapi tidak mungkin menyediakan uang kontan sebanyak itu saat itu juga. Perlu satu hari.

Hebatnya Zhang, dia bilang begini: dia sendiri yang akan mengambil uang Rp 2 triliun itu di rumah Li Ka-shing! Jangan coba-coba hubungi polisi. Sudah ada peledak di rumahnya.

Li Ka-shing pilih kehilangan uang sebegitu banyak daripada putra mahkotanya. Hebatnya lagi: sambil menunggu uang kontan itu Zhang tinggal di rumah Li Ka-shing. Satu hari penuh.

Yang juga hebat: hasil penculikannya itu dia obral. Siapa saja dia beri uang. Zhang memang punya pegangan prinsip sendiri: menjadi gangster berhati emas.

Yang lebih hebat: tahun berikutnya, saat Hongkong sibuk serah terima dari Inggris ke Tiongkok, Zhang melakukan aksi besar lagi. Kali ini bukan seorang putra mahkota yang diculik. Tapi menculik konglomerat nomor dua terkuat di Hongkong: Walter Kwok.

Kali ini alot. Akhirnya Zhang “hanya” menerima tebusan sekitar Rp 1,2 triliun. Padahal Zhang harus menyembunyikannya selama enam hari.

Target berikutnya: menculik raja judi Macau, Stanley Ho. Tapi Zhang tetap harus membebaskan temannya dari penjara.

Dia sudah berhasil membeli bom. Dari pasar gelap di Macao. Dia simpan di bawah tanah di sebuah tempat parkir truk kontainer.

Zhang harus bisa membebaskan temannya. Tidak sampai setahun setelah menculik Walter Kwok, dia merencanakan menculik kepala pemerintahan Hongkong, Anson Chan. Dengan tebusan membebaskan temannya.

Tapi dia lupa saat itu Hongkong sudah berada di bawah pemerintahan komunis Tiongkok. Yang tidak kenal ampun.

Penculikan gagal. Zhang melarikan diri ke daratan Tiongkok. Ke Guangdong, daerah kelahirannya. Dengan nama palsu. Dengan menyogok banyak aparat. Zhang merasa aman. Sudah begitu banyak pejabat yang dia amankan.

Tapi pemerintah pusat Tiongkok mengerahkan polisi dari pusat. Yang tidak ada hubungan dengan uang gangster.

Zhang pun ditangkap. Tiongkok tidak peduli locus delikti. Biar pun kejahatannya dilakukan di Hongkong tetap saja diadili di Guangzhou.

Ahli-ahli hukum pada protes. Tiongkong bergeming.

Polisi Tiongkok juga menggunakan banyak kejahatan Zhang di daratan sebagai alasan. Misalnya pelanggaran perbatasan.

Setahun kemudian, Oktober 1998, Zhang diadili.

Hari pertama pengadilan Zhang sudah langsung mengakui semua-semua-semuanya. Bulan berikutnya vonis dijatuhkan: hukuman mati. Bulan berikutnya Zhang dieksekusi.

Kini Zhang Ziqiang (Cheung Tze-keung) sudah almarhum. Yip masih dipenjara. Li Ka-shing pensiun. Victor Li jadi chairman Cheung Kong Group.

Sejak itu tidak pernah lagi ada berita gangster merampok di Hongkong.(***)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Dua Tahun, Hanya Tiga Koran yang Mati


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler