Akselerasi Laba Bank Melambat

Rabu, 17 September 2014 – 06:12 WIB

jpnn.com - JAKARTA - Pengetatan moneter makin terasa pada kinerja perbankan. Pada akhir Juli 2014, pertumbuhan laba alias keuntungan perbankan hanya 11,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (year on year/yoy). Angka tersebut merosot ketimbang akselerasi pada Juni 2014 yang menyentuh 14,31 persen (yoy).

Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Nelson Tampubolon mengatakan, kendati melambat, bank-bank umum masih membukukan laba Rp 65,96 triliun pada awal paro kedua tahun ini.

BACA JUGA: Harapkan Jokowi Segera Matangkan Regulasi untuk Tol Laut

"Ada kenaikan 12,87 persen dibandingkan Juni sebesar Rp 58,43 triliun (month to month/mtm)," ungkapnya, Selasa (16/9).

Data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) menunjukkan laba perbankan didorong net interest income (NII) atau pendapatan bunga bersih pada Juli yang mencapai Rp 154,96 triliun. Jumlah itu naik signifikan dibandingkan Rp 134,73 triliun periode yang sama tahun sebelumnya (yoy). Secara terperinci, ada kenaikan interest expenses atau beban bunga yang mencapai Rp 161,33 triliun ketimbang sebelumnya Rp 115,45 triliun.

BACA JUGA: Gandeng EPS, PT Balai Pustaka Kembangkan Sayap Pemasaran

Meski demikian, posisi beban bunga dapat dikompensasi interest income atau pendapatan bunga perbankan yang mencapai Rp 316,29 triliun atau melonjak dibandingkan tahun lalu Rp 250,18 triliun.

"Beban bunga paling besar dikontribusikan pihak ketiga nonbank mencapai Rp 94,39 triliun atau naik 51,67 persen," ujarnya.

BACA JUGA: Kenaikan Cukai Picu Rokok Ilegal

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara memaparkan, stabilitas sistem keuangan dinilai masih solid. Hal ini ditopang ketahanan sistem perbankan dan relatif terjaganya kinerja pasar keuangan.

Pada Juli 2014, capital adequacy ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal masih tinggi sebesar 19,18 persen atau jauh di atas ketentuan minimum 8 persen. Sedangkan non-performing loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah rendah dan stabil di kisaran 2,0 persen.

"Ketahanan industri perbankan tetap kuat dengan risiko kredit, likuiditas, dan pasar yang cukup terjaga, serta dukungan modal kuat," teragnnya.

Sementara itu, pertumbuhan kredit kepada sektor swasta melambat menjadi 15,0 persen daripada bulan sebelumnya 16,6 persen (yoy). Kondisi tersebut sejalan dengan proses penyesuaian dalam perekonomian. Di sisi lain, performa likuiditas, baik dalam perekonomian maupun perbankan dinilai terjaga. Hal itu tercermin pada pertumbuhan M2 dan dana pihak ketiga (DPK) yang masing-masing 11 persen dan 10,4 persen (yoy) pada Juli 2014.

Selain itu, ada penurunan suku bunga pasar uang akibat masuknya uang kartal ke sistem perbankan.

"Ke depan, kondisi likuiditas perbankan diprakirakan tetap memadai seiring ekspansinya keuangan pemerintah dalam paro kedua 2014," jelasnya.(gal/oki)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Setop Impor Gula, Selamatkan Petani Tebu


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler