Aktivis politik Hong Kong Joshua Wong yang masih berusia 22 tahun, ditahan hari Jumat (30/8/2019) oleh pihak keamanan setempat menjelang aksi demi lanjutan yang akan digelar akhir pekan. Aksi demo di sana sudah berlangsung selama beberapa bulan.

Wong dibebaskan bulan Juni lalu setelah dipenjara selama lima minggu karena menghina pengadilan serta keterlibatan dalam aksi demo tahun 2014.

BACA JUGA: Kemerdekaan Telah Mengubah Hidup Tiga Generasi Timor Leste di Australia

Aksi demo saat itu menyebabkan Hong Kong lumpuh selama 79 hari.

"Dia tiba-tiba didorong masuk ke dalam sebuah mobil pribadi di jalan," demikian penjelaskan Partai Demosisto yang merupakan partai Wong dalam postingan Twitternya.

BACA JUGA: Jayapura Rusuh, Jokowi Minta Semua Pihak Damai

External Link: Demosisto tweet Our secretary-general @joshuawongcf was just arrested this morning

"Dia sekarang dibawa ke kantor polisi di Wan Chai," lanjut pernyataan itu dengan menambahkan bahwa pengacara mereka sekarang sedang mengecek keberadaan Wong.

BACA JUGA: Partai Buruh Australia Dukung Perubahan Permudah Visa Bagi Warga Indonesia

Anggota Partai Demosisto lainnya Agnes Chow turut ditahan, meskipun tidak jelas tuduhan apa yang akan dikenakan terhadapnya.

Andy Chan, pendiri Partai National Hong Kong yang pro kemerdekaan dan dilarang September tahun lalu, mengatakan di akun Facebooknya bahwa dia juga ditahan di Bandara Hong Kong.

Polisi belum memberikan komentar mengenai ketiga orang tersebut. Photo: Para pengunjuk rasa di Hong Kong memotong sebuah tiang listrik di pusat kota tanggal 24 Agustus 2019 lalu. (ABC News: Brant Cumming)

Joshua Wong menjalani tahanan selama lima minggu dari hukuman dua bulan atas keterlibatannya dalam aksi protes di tahun 2014 yang mendesak adanya pemilihan umum yang lebih demokratis.

Hukumanya diturunkan dari semula yaitu tiga bulan, karena dia masih remaja ketika ditahan di tahun 2014.

Ketika diebaskan bulan Juni lalu, tidak ada kejelasan mengapa dia dibebaskan lebih awal.Mendesak agar diijinkan demo

Hari Kamis, Tiongkok mengirim tentara baru ke Hong Kong, hal yag digambarkan sebagai pergantian pasukan rutin.

Media Tiongkok mengatakan pengiriman pasukan itu bukan hal yang aneh dan para diplomat Asia dan Barat yang mengetahu keberadaan Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) mengatakan ini juga sudah diperkirakan akan terjadi.

Menurut tajuk rencana harian pemerintah Tiongkok Daily hari Jumat, kehadiran tentara Tiongkok di Hong Kong bukan sekedar langkah simbolis dan mereka 'tidak akan duduk-duduk saja' bila situasi di sana memburuk.

Polisi sudah menolak mengeluarkan ijin bagi adanya protes pro-demokrasi hari Sabtu dan pihak penyelenggara telah meminta banding atas keputusan tersebut. Photo: Tentara Tiongkok yang baru tiba di barak militer di Hong Kong hari Kamis (29/8/2019). (AP: Yuan Junmin/Xinhua)

Protes akhir pekan ini akan menandai lima tahun sejak Beijing menghentikan hak warga Hong Kong untuk melakukan pemilihan demokratis sepenuhnya, dan terjadi di saat Hong Kong mengalami resesi pertama kalinya dalam 10 tahun terakhir.

Beijing tampaknya berusaha keras menghentikan gelombang protes di Hong Kong sebelum peringatan Hari Kemerdekaan ke-70 yang akan berlangsung 1 Oktober dimana Presiden Xi Jinping akan menyaksikan parada militer besar-besaran di ibukota Beijing.

Reuters

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

BACA ARTIKEL LAINNYA... Harga Tahu dan Tempe di Australia Akan Lebih Mahal Karena Produksi Kedelai Kurang

Berita Terkait