Anak Susah Makan, Ini Resep dari Dokter Ahlinya, Bisa Dicoba Moms

Sabtu, 23 Juli 2022 – 11:40 WIB
Lianto Kurniawan Nyoto, dokter spesialis anak Siloam Hospitals Surabaya. Foto dokumentasi Siloam Hospitals

jpnn.com, JAKARTA - Kemampuan setiap anak mengonsumsi makanan berbeda-beda, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas.

Orang tua perlu memahami kondisi tumbuh kembang anak yang tidak bisa disamaratakan dengan anak lainnya, terutama dalam hal pola makan.

BACA JUGA: Oooo..., Ternyata ini Penyebab Anak Susah Makan

"Begitu pun ketika mendapati kasus anak sulit makan, tindakan observasi pertama kali yang bisa dilakukan adalah dengan mempelajari grafik berat badan dan tinggi badan anak," kata Lianto Kurniawan Nyoto, dokter spesialis anak Siloam Hospitals Surabaya dalam Bincang Sehat secara daring, Jumat (22/7).

Hal itu, kata dokter Lianto, untuk mengetahui seorang anak kekurangan nutrisi atau tidak.

BACA JUGA: Komnas HAM Bawa Catatan Penting untuk Bertemu Dokter Forensik yang Mengautopsi Brigadir J

Jika tidak sesuai grafik atau berat badannya tidak naik dengan semestinya, maka orang tua patut curiga.

"Apakah ada yang salah dengan anak. Entah karena dia porsi makannya kurang atau karena ada suatu penyakit tertentu jadi berat badannya enggak naik," kata dr. Lianto.

Grafik tumbuh kembang anak bisa menjadi penjuru dan penilaian secara objektif untuk mengukur kondisi anak.

Grafik tersebut tentunya membantu orang tua untuk lebih mawas diri, terutama dalam mengatasi kekhawatiran mengenai kondisi kekurangan nutrisi pada anak.

Di sisi lain, mengacu pada WHO, nutrisi yang cukup bagi anak dalam satu hari bisa dikategorikan dengan 3 kali asupan makanan besar, 1-2 kali makanan selingan, ditambah ASI atau susu tergantung usia anak.

Kemudian pemberian makan kepada anak tentunya didasari pada jam pengosongan lambung normal, akan lebih baik jika orang tua turut membuat jam makan untuk anak.

Berbicara mengenai asupan makanan, porsi makan anak juga perlu diperhatikan dan disesuaikan tergantung pada usianya.

Pada anak usia 6-9 bulan, cukup dengan 3 sendok makan atau setengah mangkuk ukuran 250 ml, dimulai sedikit-sedikit dan pelan-pelan ditingkatkan sesuai kemampuan anak.

Porsinya akan terus meningkat sampai anak berusia 1 tahun (misalnya), tekstur makannya pun juga berbeda.

"Dalam satu piring makanan, setidaknya sudah meliputi asupan karbohidrat, protein hewani, dan lemak," ucapnya

Untuk sayur dan buah, sambung dokter Lianto, cukup hanya diperkenalkan sebagai asupan yang nantinya akan dikonsumsi si anak usia di atas 2 tahun.

Dokter Lianto juga menjelaskan mengenai golden period yang lebih dikenal dengan istilah 1.000 hari kehidupan.

Masa ini dimulai pada saat usia kandungan, lahir, hingga 2 tahun tumbuh kembang anak.

"Pada golden period ini, anak sangat memerlukan asupan nutrisi yang optimal karena 80 persen pembentukan otak terjadi pada usia ini, sehingga pentingnya anak mendapatkan asupan karbohidrat, protein hewani, dan lemak yang cukup," papar dokter Lianto.

Ada beberapa kondisi yang menyebabkan anak enggan makan.

Misalnya, phobia terhadap makanan baru diketahuinya, sakit atau mengalami kondisi medis tertentu, dan terdistraksi dengan gadget, TV, dan mainan.

Untuk menangani kasus kesulitan makan pada anak, menurut dokter Lianto, orang tua bisa melakukan beberapa cara seperti dengan memberikan makanan dengan menu tidak monoton, dan sesuai porsi anak.

Sajikan makanan dengan tampilan menarik dan tetapkan jadwal makan yang teratur, dengan durasi makan 30 menit saja.

Juga bisa dengan memberikan variasi rasa dan jenis makanan yang mengandung karbohidrat, protein hewani, lemak dan cemilan yang sehat.

"Dalam proses makan jangan memaksa dan memarahi anak," kata Lianto Kurniawan Nyoto.

Apabila anak masih kesulitan mengonsumsi makanan, segera konsultasikan ke dokter anak untuk mencari penyebab anak kesulitan makan sehingga bisa segera dilakukan tata laksana gizi, edukasi, dan rencana tindakan yang diperlukan untuk membantu permasalahan anak.

"Anak sulit makan terkadang dianggap normal dengan batasan waktu tertentu. Orang tua bisa menyikapinya dengan sabar, kontrol rutin ke dokter, karena tumbuh kembang anak adalah hal penting," pungkas Lianto Kurniawan Nyoto. (esy/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler