Analisis Reza soal Polisi Larang Keluarga Melihat Jenazah Brigadir J, Ada Kata Serbamengerikan

Sabtu, 16 Juli 2022 – 21:31 WIB
Pakar psikologi forensik Reza Indragiri sampaikan analisis soal polisi larang keluarga Brigadir J membuka peti dan melihat jenazah. Ilustrasi Foto: Andika Kurniawan/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyampaikan analisis tentang mengapa polisi melarang pihak keluarga membuka peti dan melihat jenazah Brigadir J yang tewas dalam baku tembak dengan Bharada E.

Baku tembak antarpolisi yang menewaskan Brigadir J itu terjadi di rumah Kadiv Propam Polri Irjen Ferdy Sambo pada Jumat (8/7) lalu. Namun, kejadiannya baru diungkap kepada publik, Senin 11/7).

BACA JUGA: Trimedya Sebut Polisi Tak Terbuka Soal Barang Bukti Penembakan Brigadir J, Senjata & Proyektil

Berdasarkan pemberitaan yang dicermati Reza, pihak keluarga Brigadir J menyebut salah satu alasan polisi melarang ayah korban membuka peti, yakni karena jenazah sudah menjalani proses autopsi.

Reza menjelaskan setiap orang memiliki ambang toleransinya masing-masing terhadap peristiwa traumatis. Ada yang rendah, ada yang tinggi.

BACA JUGA: Kematian Brigadir J Diusut Sesuai Arahan Kapolri, Fakta Akan Diungkap

"Trauma juga tidak hanya akibat ekspos langsung terhadap kejadian yang tidak menyenangkan. Psikologi mengenal istilah vicarious trauma," kata Reza Indragiri dalam analisisnya kepada JPNN.com, Sabtu (16/7).

Pakar yang pernah menjadi pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) itu menerangkan vicarious trauma adalah trauma yang muncul dari sebatas pengamatan, bukan pengalaman langsung.

BACA JUGA: 4 Tokoh Bicara soal Jabatan Irjen Ferdy Sambo, Ada yang Sebut Saksi Kunci

Ketika seseorang mengalami vicarious trauma, guncangan yang ia rasakan bisa sama dengan orang-orang yang mengalami trauma langsung.

"Dampaknya pun luas: fisik, psikis, dan sosial," ucap pria penyandang gelar MCrim (Forpsych-master psikologi forensik) dari Universitas of Melbourne Australia itu.

Dengan dasar teoretis tersebut, katanya, inisiatif polisi "melarang" pihak mana pun melihat, apalagi memotret jenazah bisa dipahami sebagai langkah konstruktif.

"Hal tersebut barangkali disikapi negatif oleh pihak yang ingin melihat jenazah," ujar Reza.

"Namun "pelarangan" itu bermanfaat agar pihak tersebut tidak menderita trauma juga pasca melihat jenazah (vicarious trauma, red)," lanjutnya.

Pria kelahiran Jakarta, 19 Desember 1974 itu mengatakan jika bertambah pihak yang menderita trauma, baik trauma langsung maupun vicarious trauma, maka tambah pula "beban" yang harus diatasi.

BACA JUGA: Bertemu Jenderal Polisi, Ayah Brigadir J Sampaikan Permintaan Penting

"Tidak bisa dipungkiri, personel Polri secara umum tidak terlatih untuk mendampingi individu-individu yang terguncang apalagi menderita trauma -termasuk vicarious trauma," ujarnya.

Sebaliknya, kata Reza, serta-merta membolehkan pihak mana pun melihat tubuh yang tidak lagi bernyawa, kendati terkesan tidak sensitif, tetapi itulah langkah penuh empati (sekaligus jujur akan keterbatasan dirinya) yang sudah sepatutnya personel ambil.

Reza menyebut ketika jenazah "dinilai" oleh mata awam, keakuratannya juga sangat mungkin berbeda dengan mata profesional yang terlatih untuk itu.

BACA JUGA: Penembakan Brigadir J di Rumah Irjen Ferdy Sambo Bukan soal Senior Junior, tetapi

"Ketika foto jenazah tersebar lalu dikomentari secara keliru oleh mereka yang bukan ahlinya, komentar-komentar itu bisa memunculkan imajinasi yang tak terkendali. Imajinasi sedemikian rupa akan melipatgandakan risiko vicarious trauma," tuturnya.

Saat ditanya apakah imajinasi dimaksud berkaitan dengan berbagai asumsi tentang penyebab kematian korban? Serta munculnya kecurigaan tentang penyebab luka sayatan? Reza menjawab lugas.

"Ya, ke mana-mana imajinasi serbamengerikan itu," ujar pakar yang meraih gelar sarjana psikologi dari UGM Yogyakarta tersebut.

Walakin, Reza mengakui bahwa memang sedari awal komunikasi Polri kepada publik tentang kasus baku tembak di rumah Irjen Ferdy Sambo itu kurang terkonsolidasi dengan baik.

"Jadi, wajar kalau terus-menerus skeptisisme yang muncul. Tambah parah di medsos. Karena itu, segala kegemparan yang kadung terjadi perlu diurai satu per satu," kata Reza Indragiri. (fat/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler