Anda Generasi Sandwich? Ada Tips Penting Dari Dokter Spesialis Kejiwaan

Senin, 16 Agustus 2021 – 18:12 WIB
Ilustrasi logo kesehatan mental. Foto: Antara

jpnn.com, JAKARTA - Dokter spesialis kejiwaan memberikan tips bagi generasi sandwich.

Saran diberikan karena generasi ini dinilai rentan mengalami masalah kesehatan mental.

BACA JUGA: Ingin Hidup Sehat Konsumsi Madu Beku? Hati-hati, Ada Bahaya Mengancam

Pasalnya, generasi ini menghadapi banyak tuntutan di satu sisi dan kurangnya waktu untuk diri sendiri.

Generasi sandwich adalah suatu istilah merujuk pada sekelompok individu yang terjepit di antara tuntutan simultan dalam merawat orang tua yang telah lanjut usia dan merawat anak-anaknya yang masih bergantung padanya.

BACA JUGA: Presiden Terlihat Keren Mengenakan Pakaian Adat Suku Badui

Baik secara fisik, mental-emosional, maupun finansial (Ward & Spitze, 1998).

Istilah generasi sandwich pertama kali diperkenalkan oleh dua orang pekerja sosial.

BACA JUGA: Bamsoet Sebut COVID-19 Berdampak Hingga ke Bidang Pertahanan dan Keamanan Negara

Yakni Dorothy Miller dan Elaine Broody pada 1981.

Istilah tersebut mereka perkenalkan untuk menggambarkan pelaku rawat (caregiver) yang terjepit di antara dua generasi.

Sebagai pelaku rawat, individu yang berada di generasi sandwich ini umumnya dituntut untuk memberikan dukungan fisik, mental-emosional dan finansial baik bagi anak-anaknya dan juga orang tuanya yang telah lanjut usia.

Secara umum, karakteristik individu yang berada di generasi sandwich adalah pria dan wanita berusia 30 tahun ke atas yang telah menikah, dan bekerja.

Generasi sandwich menanggung beban dan tanggung jawab dalam memberikan perawatan dan layanan seperti transportasi, pengaturan makan, perawatan kesehatan dan urusan rumah tangga lain, baik bagi anak-anaknya maupun orang tuanya.

Survei di Amerika Serikat 2007 menunjukkan generasi sandwich yang terdiri dari usia 35-54 tahun, mengalami tingkat stres lebih tinggi.

Karena mereka dituntut untuk menyeimbangkan peran dalam perawatan anak dan juga orang tua.

Hampir 40 persen wanita generasi sandwich melaporkan tingkat stres yang ekstrem.

Stres ini tidak hanya memengaruhi relasi personal terhadap pasangan, anak dan keluarga, namun juga memengaruhi kesejahteraan diri sendiri.

Menurut dr. Zulvia Oktanida Syarif, Sp.KJ, dokter spesialis kedokteran jiwa RS. Pondok Indah, generasi sandwich lebih rentan mengalami berbagai masalah kesehatan mental.

Seperti burnout (kelelahan fisik dan mental), gangguan tidur (banyak tidur atau kurang tidur) dan perasaan bersalah.

Kemudian, merasa khawatir terus-menerus, hilang minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disenangi, ansietas (kecemasan) dan depresi.

"Pada akhirnya, kondisi mental tersebut juga bisa memengaruhi kesehatan fisik, seperti kadar hormon stres yang lebih tinggi," ujar dr. Zulfia.

Kemudian, lebih sering izin sakit dari pekerjaan kantor karena terinfeksi penyakit menular, respons imunitas yang lebih rendah terhadap influenza.

Penyembuhan luka yang lebih lambat, tingkat obesitas lebih tinggi, dan risiko penurunan kesehatan mental yang lebih tinggi.

Tantangan menjadi bagian dari generasi sandwich di masa pandemi COVID-19 makin meningkat.

Karena kebutuhan untuk merawat kesehatan anak dan orang tua agar terlindungi dari infeksi COVID-19 juga makin besar.

Pada saat yang bersamaan, individu tersebut juga harus tetap menjaga imunitas diri agar tidak terinfeksi.

Dokter Zulfia menyarankan generasi sandwich mempelajari cara menjaga kesehatan diri, baik fisik maupun mental, serta menyeimbangkan berbagai peran yang dimiliki.

Sebab peran multipel dari generasi sandwich memiliki dampak negatif, baik dari aspek fisik, psikologis, emosional, dan beban finansial (Salmon, 2017).

Penelitian Evans dkk. pada tahun 2016 menunjukkan seorang wanita pada generasi sandwich perlu memiliki strategi untuk dapat menyeimbangkan antara peran sebagai seorang ibu, pelaku rawat orang lanjut usia, dan pekerja.

Menurut dokter Zulfia ada enam strategi untuk menyeimbangkan peran tersebut.

Yakni, menjaga kesehatan dan kesejahteraan, menekan perfeksionisme, mengelola waktu dan energi, melepaskan tanggung jawab, memelihara hubungan sosial dan timbal balik.

Strategi menyeimbangkan peran bagi generasi sandwich amat diperlukan untuk menjaga agar tingkat stres dapat ditekan.

Cara yang mungkin dapat dilakukan untuk menekan tingkat stres dengan meminta bantuan.

Generasi sandwich tak jarang mengerjakan banyak hal sendiri.

Untuk itu, carilah bantuan untuk mengerjakan beberapa tugas rumah tangga, pengaturan pengurusan anak dan orang tua, dan sebagainya.

Meminta bantuan bukan sebuah tanda kelemahan, namun kekuatan diri dalam hal mengelola tugas yang perlu dikerjakan.

Mereka juga perlu meluangkan waktu untuk sendiri.

Kesibukan menjalankan peran mengurus dua generasi kadang membuat seorang wanita generasi sandwich tidak memiliki waktu untuk diri sendiri.

Ambil waktu khusus untuk melakukan hal bagi diri sendiri.

Misalnya, mengerjakan hobi atau sekadar bersantai dan memanjakan diri.

Kemudian, adakanlah pertemuan keluarga.

Pertemuan keluarga dapat menjadi suatu wadah untuk saling mencurahkan isi hati serta memberi dukungan satu sama lain.

Pertemuan keluarga juga dapat digunakan untuk mendiskusikan berbagai masalah yang dihadapi dan bersama fokus mencari solusi.

Hal ini juga dapat meningkatkan kedekatan antaranggota keluarga dan memperkuat dukungan sosial bagi generasi sandwich.

Menurut penelitian Kusumaningrum (2018), makin tinggi persepsi dukungan sosial maka makin rendah beban pengasuhan yang dirasakan oleh generasi sandwich.

Pada kondisi pandemi saat ini pertemuan keluarga dapat dilakukan melalui daring.

Hal ini tidak mengurangi rasa keintiman yang ada di tengah keluarga.

Pertahankan komunikasi yang baik dalam lingkungan.

Saat lelah dan stres, pola komunikasi dapat sangat terpengaruh dan cenderung mengarah pada pola komunikasi yang lebih emosional.

Ketika pola komunikasi diwarnai ketidaknyamanan dan konflik, tingkat stres cenderung meningkat.

Pelajari cara komunikasi yang asertif dan baik untuk tetap menjaga suasana tenang dan nyaman dalam menjalankan peran sebagai generasi sandwich.

Untuk menekan stres, generasi sandwich kadang juga perlu melepaskan kendali.

Sesekali, lepaskan kendali terhadap segala sesuatu.

Perfeksionisme dapat menghasilkan stres yang lebih tinggi.

Pelajari cara untuk tidak selalu mengatur semua hal di kehidupan.

Lakukan delegasi atau menyerahkan tugas tertentu pada orang lain.

Dan terakhir, tentu saja menikmati momen yang ada dengan baik.

Menikmati peran dalam merawat anak dan melihat pertumbuhan serta perkembangan anak, serta menikmati peran dalam merawat orang tua sebagai wujud kasih sayang dan bakti.

Buat setiap momen menjadi berharga di kehidupan anda dan keluarga.

Apabila berbagai cara meredakan stres di atas telah dilakukan, tetapi tetap merasa tertekan atau depresi, serta tidak dapat menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari dengan baik, sebaiknya lakukan konsultasi.

Lakukan dengan profesional di bidang kesehatan mental seperti psikolog klinis atau psikiater.

Pandai mengelola fisik dan mental diri agar menjadi generasi sandwich yang sehat.

Generasi sandwich yang sehat secara fisik dan mental bisa mengoptimalkan kesehatan dan kesejahteraan tiga generasi, yaitu generasi dirinya, serta dua generasi lain yang dirawatnya.(Antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler