Anti-Kritik dan Memusuhi Media, Dia Trump-nya Asia Tenggara

Rabu, 31 Januari 2018 – 08:53 WIB
Presiden Joko Widodo dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte dalam pertemuan bilateral dan jumpa pers di Istana Merdeka, Jumat (9/9). Foto: Natalia/JPNN.com Ilustrasi by:

jpnn.com, MANILA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menuai cibiran di sana sini karena gaya kepemimpinannya. Kebijakan-kebijakan kontroversial taipan 71 tahun itu juga selalu sukses melahirkan gerakan anti-AS dan anti-Trump di mana-mana. Kendati demikian, gaya itu banyak ditiru oleh para pemimpin Asia Tenggara.

Senin (29/1), CNN melaporkan bahwa Filipina, Kamboja, dan Myanmar adalah pengekor kebijakan Trump di Asia Tenggara. Pemimpin tiga negara itu menggunakan banyak istilah yang sama dengan AS untuk mendiskreditkan lawan politik.

BACA JUGA: Wow! Kulkas Baru Pesawat Kepresidenan Habiskan Rp 314 M

Namun, mungkin Presiden Rodrigo Duterte lah yang paling pantas, di antara ketiganya, menyandang julukan Trump-nya Asia Tenggara.

Menggunakan kata mata-mata, media ala mafia, dan tentu saja fake news alias berita bohong adalah beberapa jurus Trump yang dipraktikkan Duterte. Bukan hanya bahasa, dia juga mempraktikkan gaya kepemimpinan yang sama.

BACA JUGA: Gila! 103 Nyawa Melayang Demi Sebuah Pesan untuk Trump

’’Ini tren yang sangat mengkhawatirkan,’’ kata Shawn Crispin, perwakilan senior Komite Perlindungan Jurnalis (Committee to Protect Journalists alias CPJ) Asia Tenggara.

Dia menyatakan bahwa klaim pemerintahan Duterte tentang situs berita independen Rappler yang gemar memproduksi fake news tidak berbeda dengan tuduhan Trump terhadap CNN atau media independen AS lainnya.

BACA JUGA: Trump Siap Beri Kewarganegaraan untuk Dua Juta Imigran

Tidak sekadar menjatuhkan citra Rappler, pemerintahan Duterte bahkan lantas mencabut izin media tersebut. Itu merupakan cara halus Manila untuk menutup Rappler.

Di negara yang tercatat sebagai salah satu negara paling tidak aman bagi jurnalis itu, kejahatan terhadap awak media tak terhitung lagi. Ancaman, penculikan, serangan, pemenjaraan, sampai pembunuhan terhadap jurnalis sering terjadi di sana.

Maka, saat cara untuk mengintimidasi jurnalis tak berhasil membuat media takluk, Filipina menggunakan cara lain yang lebih to the point. Salah satunya fitnah.

Sementara itu, di Kamboja dan Myanmar, pemerintah masih menggunakan cara pertama yang dilakukan Filipina. Yakni menyandera jurnalis.

Belum lama ini, Kamboja menahan dua reporter portal berita AS di wilayahnya. Karena itu, tidak lama kemudian, portal berita tersebut tutup. Saat ini ada dua jurnalis Myanmar yang ditahan karena dianggap melanggar larangan meliput krisis Rohingya.

Menurut Cristin, itu menjadi bukti bahwa pemerintah Kamboja dan Myanmar dipimpin oleh tokoh yang ogah dikritik. (hep/c19/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Panas! Trump Minta Erdogan Berhenti Menyebar Kebohongan


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler