Jika Anda pernah menunggu antrian bersama turis-turis atau berjalan di pantai yang sangat penuh sesak, artinya Anda pernah merasakan apa yang disebut dalam bahasa Inggris, 'overtourism'.

Istilah 'overtourism' atau pariwisata yang telalu membludak, kini telah terjadi di sejumlah tempat di seluruh dunia. Sampai-sampai sejumlah tempat kunjungan yang populer di Thailand dan Filipina ditutup. Belum lagi bentuk protes dari warga setempat, seperti yang terjadi di Venice dan Barcelona.

BACA JUGA: Ratusan Pekerja Bangunan China Mogok di Tasmania Karena Gaji Belum Dibayar

Tempat-tempat yang menjadi favorit warga Australia, seperti Bali, Byron Bay, dan sebagian Tasmania, juga mendapat tekanan dari jumlah pengunjung yang meningkat tajam.

"Masalahnya adalah kita semua berbondong-bondong datang ke tempat yang sama pada waktu yang bersamaan," ujar Justin Francis, Direktur Eksekutif lembaga Responsible Travel yang berbasis di Inggris.

BACA JUGA: Butuh Kerja Keras Untuk Bisa Tinggal Lebih Lama di Australia

Justin mengatakan yang juga menjadi bagian dari permasalahan adalah adanya perubahan dalam etos pariwisata, yakni di era jejaring sosial yang lebih penting adalah dimana Anda ingin terlihat oleh orang lain.

"Kita semua ingin foto yang ikonik di tempat-tempat yang ikonik," tambahnya.

BACA JUGA: Kematian Remaja Brisbane di Bali Diduga Akibat Serangan Epilepsi

Para pelancong juga berburu untuk datang ke tempat-tempat yang menjadi latar belakang film dan serial tv favorit mereka. Tren ini dikenal dengan istilah 'set jetting' dan orangnya disebut 'set jetter'.

Para 'set jetter' inilah yang menjadi salah satu alasan mengapa kawasan perairan Maya Bay di pulau Phi Phi, Thailand ditutup. Tempat ini menjadi terkenal setelah menjadi latar belakang film 'The Beach' yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio.

Pihak berwenang menutup kawasan ini awal tahun ini untuk memberikan kesempatan bagi kehidupan perairan untuk bisa pulih setelah pariwisata yang membludak hampir selama dua puluhan. Membuat warga lokal tidak nyaman

Bukan saja hanya lingkungan yang terancam.

Wisata yang terlalu membludak juga dialami kota Venice dan Barcelona, yang memaksa warga lokal 'terusir' dari kotanya sendiri, menurut Justin. Photo: Warga lokal di Venice melakukan unjuk rasa besar-besaran pada bulan Juni.
(Getty: Stefano Mazzola/Awakening/Contributor)

Ia mengatakan harga sewa menjadi meningkat, warga lokal tidak bisa leluasa di kota sendiri karena selalu penuh keramaian, dan pasar-pasar yang berubah demi memenuhi kebutuhan turis.

"Para penduduk merasa mereka kehilangan kota mereka, mereka merasa seperti pengkhianatan terhadap warisan mereka."

Di tempat lain di Eropa, Amsterdam berencana untuk melarang penyewaan jangka pendek seperti AirBnB. Kota Dubrovnik di Kroasia juga telah membatasi jumlah penumpang kapal pesiar yang dapat memasuki kota pada satu waktu

Justin juga mengatakan beberapa turis merasa "muak".

"Yang mereka lihat adalah orang-orang dari negara asal mereka, saat mengantri panjang."

"Jadi benar-benar tidak ada yang merasa diuntungkan."Pemberlakuan pajak bagi turis

Dengan pembludakan pariwisata yang telah mencapai titik puncak di beberapa daerah, maka ada pula yang memberlakukan pajak bagi wisatawan.

"Sekarang ada 24 kota di Eropa [dan] beberapa di Inggris, yang memajak turis," kata Justin.

"Filosofinya adalah ... 'apa yang kami inginkan adalah Anda memberikan sumbangan kecil untuk meningkatkan kota bagi kami sebagai warga, tapi juga bagi Anda sebagai turis." Photo: Kota Dubrovnik di Croatia kini dibanjiri turis karena serial TV 'Games of Thrones' dan telah membuat banyak sejumlah pelarangan bagi turis. (Unsplash: Jonathan Chng, , CC-0)

Sebagai tanggapan atas tekanan besar soal infrastruktur dan dari masyarakat, kota Byron Bay di New South Wales baru-baru ini memberlakukan pajak sukarela kepada wisatawan.

"Sudah sejak lama Byron Bay terbuka bagi pengunjung," kata Walikota Simon Richardson.

"Tapi jumlahnya baru saja meroket, sekarang kita melihat 2 juta pengunjung yang datang ke kota dengan jumlah penduduk 10.000 ini."

Operator pariwisata akan secara sukarela mengenakan pajak 1 persen dari tagihan kepada wisatawan, Uang yang dikumpulkan digunakan untuk sejumlah proyek-proyek lokal.

"Jika kita bisa mendapatkan beberapa dolar dari setiap pengunjung yang datang ke sini, bisa digunakan kembali untuk pembangunan trotoar dan taman bermain, toilet, dan lain-lain, maka penduduk dan pengunjung mendapat manfaat yang sama ... komunitas menjadi lebih menerima," jelas Simon.Seharusnya pariwisata lebih untuk menyatukan Photo: Turis harus mulai mengunjungi tempat-tempat yang masih jarang dikunjungi. (Getty: wootthisak nirongboot)

Justin mengatakan wisatawan harus kembali ke pencarian tempat tujuan, bukannya mengambil rute yang mudah menuju 10 peringkat teratas tempat tujuan.

"Saya pikir kita kembali ke gagasan menghabiskan waktu dengan penduduk setempat, meminta saran dan pendapat mereka tentang tempat-tempat yang harus dituju, atau bahkan menyewa pemandu lokal," katanya.

"Pemandu lokal benar-benar memberi tahu jalan-jalan lokal, tapi dapat membantu Anda menghindari konsekuensi yang tidak diinginkan."

Menurutnya sangat disayangkan karena kita sekarang hidup di jaman yang penuh ketidakpercayaan pada orang asing.

"Saya pikir pariwisata seharunya menyatukan orang-orang dari budaya dan latar belakang dengan harapan dapat berbagi pengalaman yang sama-sama saling menguntungkan," ujar Justin.

"Saya ini melihat pariwisata yang benar, yang dibangun dengan kepercayaan dan rasa hormat dari orang-orang berbagai latar belakang dan agama dan ras."

Artikel ini telah disunting dari laporan aslinya dalam bahasa Inggris yang bisa dibaca disini.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Anggota Bali Nine Renae Lawrence Menekuni Seni Di LP Bangli

Berita Terkait