AS-Saudi Renggang, Pangeran MBS Reject Telepon Joe Biden

Rabu, 09 Maret 2022 – 16:59 WIB
Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dan Presiden Rusia Vladimir Putin terlihat sangat akrab di sela-sela pertemuan G20 Buenos Aires pada 2018 silam. Foto: ALEJANDRO PAGNI / AFP

jpnn.com, JAKARTA - Di saat rantai pasokan terganggu invasi Rusia ke Ukraina, hubungan Amerika Serikat dengan produsen minyak terbesar lainnya, Arab Saudi, justru tengah berada di titik terendah.

Menurut Wall Street Journal, Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) telah beberapa kali menolak ajakan Presiden AS Joe Biden untuk berbincang lewat telepon.

BACA JUGA: Prabowo Disambut Prajurit Bersenjata dan Kopi Arab di Kantor Kemenhan Saudi

"Sempat muncul harapan akan ada pembicaraan telepon, tetapi tidak pernah terwujud," ujar seorang pejabat AS yang menolak diungkap identitasnya.

Pejabat itu menambahkan bahwa sikap sang pangeran merupakan bagian dari strategi Saudi memainkan keran minyaknya.

BACA JUGA: Menhan Prabowo Melawat ke Arab Saudi, Pangeran MBS Sampaikan Arahan

Sikap Saudi ternyata diikuti juga oleh tetangganya Uni Emirat Arab (UEA).

Penguasa de facto negara persekutuan tersebut, Sheikh Mohammed bin Zayed al Nahyan kabarnya juga menolak ajakan Biden.

BACA JUGA: Tak Bantu Amerika Cs, Arab Saudi Malah Bekerja Sama dengan Rusia

Hubungan AS dengan negara-negara Arab sudah renggang sejak Biden jadi presiden.

Politikus senior Partai Demokrat itu malahan lebih dulu menolak berkomunikasi dengan Pangeran MBS.

Biden beralasan pangeran yang punya hubungan spesial dengan presiden AS sebelumnya Donald Trump itu bukanlah timpalannya.

Isu perjanjian nuklir Iran; minimnya dukungan terhadap upaya militer Saudi dalam perang saudara Yaman; bantuan AS dengan program nuklir sipil Saudi; dan tidak adanya keberihakan kepada Pangeran MBS dalam kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, ikut menambah panas situasi.

Namun, lonjakan harga minyak yang makin menjadi-jadi setelah Rusia menyerbu Ukraina, tampaknya membuat rezim Biden mengevaluasi kembali nilai hubungan dengan Saudi dan UEA.

Kedua negara Teluk itu dianggap sebagai pemasok global yang memiliki kapasitas untuk memompa lebih banyak minyak untuk mengurangi lonjakan harga.

Sejumlah pejabat senior Dewan Keamanan Nasional dan Departemen Luar Negeri AS dikabarkan telah melakukan perjalanan ke Riyadh dan Abu Dhabi dalam beberapa pekan terakhir untuk melakukan komunikasi langsung.

WSJ juga melaporkan bahwa Biden telah berbicara dengan ayah Pagreran MBS, Raja Salman, pada 9 Februari lalu.

Dalam panggilan tersebut, mereka menegaskan kemitraan strategis dan ekonomi kedua negara.

Meski begitu, pada awal pekan ini, juru bicara Gedung Putih Jen Psaki mengatakan Biden tidak punya rencana berbicara dengan Pangeran MBS dalam waktu dekat.

Dia juga memastikan tidak ada rencana kunjungan kenegaraan ke Riyadh.

Yousef Al Otaiba, duta besar UEA untuk AS, mengkonfirmasi hubungan antara kedua negara tengah renggang.

“Hari ini, kami tengah menjalani ujian, tetapi saya yakin kami akan keluar dari sana dan mencapai masa depan yang lebih baik,” prediksi Al Otaiba. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler