Astaga, RS Penuh Pasien Virus Corona Dibombardir Pasukan Khalifa Haftar

Selasa, 07 April 2020 – 21:32 WIB
Bangunan rusak di Tripoli, Libya, akibat serangan kelompok NLA pimpinan Khalifa Haftqar. Foto: REUTERS/ISMAIL ZITOUNY

jpnn.com, TRIPOLI - Pejabat PBB mengecam serangan terhadap rumah sakit pasien virus corona di Tripoli, Libya. Aksi tersebut disebut dinilai sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum kemanusiaan internasional.

"Saya kaget begitu mengetahui ada serangan hebat menghantam Rumah Sakit Umum Al Khadra di Tripoli hari ini, yang melukai sedikitnya satu petugas kesehatan dan merusak fasilitas medis," kata Yacoub El Hillo, koordinator residen PBB sekaligus koordinator kemanusiaan di Libya melalui pernyataan.

BACA JUGA: Ada Pandemi Corona, Kendaraan ke Jakarta kok Malah Meningkat?

"Seruan berulang dari PBB dan komunitas internasional untuk menghentikan perseteruan hanya ditanggapi dengan sikap masa bodoh dan pertempuran yang terus menerus. (Serangan) ini tak dapat diterima, ketika petugas layanan kesehatan dan tenaga medis menjadi garda terdepan dalam melawan pandemi global," bunyi pernyataan tersebut.

Sejak tahun lalu, Tripoli hampir setiap hari dibombardir Libyan National Army (LNA) pimpinan Khalifa Haftar. Wabah virus corona yang sudah menjangkiti 18 orang sejauh ini tak mengurangi intensitas serangan tersebut.

BACA JUGA: Masker Terbukti Mengurangi Penyebaran Flu dan Beberapa Jenis Virus Corona

Hingga Maret, sebanyak 27 fasilitas kesehatan hancur dengan tingkatan berbeda-beda akibat bentrokan, termasuk 14 fasilitas yang ditutup, dan 23 fasilitas lainnya berpotensi ditutup akibat pergeseran konflik, menurut pernyataan.

Pejabat PBB menyerukan agar eskalasi militer dihentikan untuk memungkinkan otoritas kesehatan dan lembaga bantuan menanggapi COVID-19 dan terus memberikan bantuan kemanusiaan darurat bagi mereka yang membutuhkan.

BACA JUGA: Ini Beberapa Program Sosial untuk Masyarakat di Tengah Pandemi Corona

"Otoritas kesehatan Libya, bersama dengan PBB dan mitra kemanusiaan kami, sedang berpacu dengan waktu untuk menekan penyebaran virus tersebut. Jika Libya ingin memiliki kesempatan untuk melawan COVID-19, maka konflik yang sedang berlangsung harus dihentikan segera," katanya.

Misi Dukungan PBB di Libya (UNSMIL) mendokumentasikan sedikitnya 356 kematian warga sipil dan 329 korban luka sejak konflik antara militer yang bermarkas di timur dan pemerintah dukungan PBB meletus pada April 2019.

Sejak awal konflik hampir 150.000 orang di Tripoli dan sekitarnya terpaksa meninggalkan rumah mereka, dengan 345.000 warga sipil masih berada di daerah garis depan dan sekitar 749.000 orang tinggal di daerah yang terdampak konflik, menurut UNSMIL. (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler