Australia Investasi Sapi

Hatta: USD 20 Juta untuk Capacity Building

Kamis, 22 Maret 2012 – 08:38 WIB

JAKARTA – Pasokan daging dalam negeri hingga kini dinilai belum mencukupi. Pemerintah selain menggalakkan program swasembada daging, juga terus mencari investor untuk pengembangan peternakan, khususnya sapi guna memenuhi kebutuhan daging yang semakin meningkat tiap tahun.

Beberapa negara seperti Australia, Amerika Serikat, Brasil, Selandia Baru, India, dan Afrika Selatan dirayu untuk berinvestasi. Dari negara-negara itu, kabar positif datang dari Australia yang menyatakan minatnya berinvestasi. Dana USD 20 juta siap digelontorkan Negeri Kanguru itu.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan, dukungan Australia dalam peningkatan agrikultur di Indonesia terutama sapi disalurkan melalui Kementerian Perdagangan (Kemendag) Australia. ”Tadi Mendag dan Agriculture Australia tekankan untuk pentingnya investasi di sini (Indonesia, Red), di bidang persapian. Mereka juga membantu sekitar USD 20 juta untuk capacity building melalui Menteri Perdagangan,” katanya usai menerima Menteri Perdagangan dan Daya Saing Australia Craig Emerson dan Menteri Pertanian, Perikanan, Kehutanan Australia Senator Joe Ludwig di kantornya kemarin (21/3).

Jika program bantuan dari Australia ini berjalan, maka kemampuan domestik di bidang peternakan sapi akan meningkat melalui teknologi yang dimiliki Negeri Kanguru, sehingga efektif menekan impor daging. ”Jangan dipaksa impor saja, kita juga harus bisa tingkatkan local content. Tapi kalau investasi di sini (Indonesia, Red) joint dengan perusahaan nasional itu bagus. Kita bisa tingkatkan capacity building dari peternak lokal dengan teknologi mereka (Australia, Red),” ujar Hatta. Pemerintah mengharapkan rencana investasi tersebut bisa dikonkretkan saat kunjungan Presiden SBY ke Darwin pada Mei mendatang.

Kunjungan Craig Emerson dan Joe Ludwig bersama delegasi senior Australia ini untuk memperluas hubungan perdagangan dan investasi dengan Indonesia. Delegasi yang terdiri dari perwakilan industri keuangan dan pertanian akan bertemu para menteri dan pemimpin bisnis Indonesia selama kunjungan dua hari. Indonesia adalah pasar ekspor pertanian ketiga terbesar Australia. Kedua menteri melihat banyak sekali kemungkinan memperluas dan memperdalam hubungan bilateral. ”Indonesia adalah bagian besar kisah pertumbuhan abad Asia. Ekonominya tumbuh 6,5 persen pada 2011,” kata Emerson.

Ludwig menambahkan, pihaknya akan membahas akses pasar dengan fokus kepada sektor pertanian. ”Peningkatan permitraan terhadap hasil pertanian Australia di Indonesia menghadirkan kesempatan besar kepada para petani kami,” ujar Ludwig. Ekspor pertanian Australia ke Indonesia mencapai USD 2,8 miliar Australia pada 2010-2011, melesat 52 persen ketimbang 2005-2006.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, Australia kepincut saat dibeberkan keuntungan jika mengucurkan investasi dalam pengembangan peternakan di Indonesia. Sebab daya beli masyarakat terus meningkat. ”Kita tidak mau konsumsi sapi 2 kg per orang per tahun. Kalau bisa kita tingkatkan menjadi 20 kg per orang per tahun,” katanya.

Dengan meningkatnya daya beli masyarakat itu, lanjut Gita, Australia bakal meraup keuntungan hingga USD 35 miliar. Keuntungan tersebut baru dari dagingnya saja belum termasuk susunya. ”Ya kalau 20 kg daging sapi dikalikan Rp 70 ribu per kg dikalikan 250 juta (jumlah penduduk, Red), jadi (rata-rata, Red) per tahun USD 35 miliar,” sebutnya.

Untuk meyakinkan pemerintah Australia, pihaknya telah meminta lembaganya untuk membuat tesis investasi. Saat ini, tercatat telah ada 124 proyek investasi Australia di Tanah Air, hanya saja khusus di bidang peternakan sapi belum terlalu banyak.

Gita menambahkan, Indonesia selalu mengalami surplus perdagangan dengan Australia selama periode 2007-2011 kecuali pada 2009 saat krisis global tengah melanda dunia. Total perdagangan kedua negara pada 2011 mencapai USD 10,8 miliar, naik 28,96 persen dibandingkan 2010 yang sebesar USD 8,3 miliar. (lum)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Ekonomi Indonesia Cerah Tapi tak Merata


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler