Ayo, Perkuat Solidaritas Sosial

Oleh: Hasanuddin Wahid, Sekjen DPP PKB, Anggota Komisi X DPR RI

Kamis, 22 Juli 2021 – 10:41 WIB
Sekjen DPP PKB sekaligus anggota Komisi X DPR RI Hasanuddin Wahid. Foto: Humas DPR RI

jpnn.com - Pandemi Covid-19 masih menyesakkan kehidupan bangsa kita. Sebagai bangsa yang kuat kita tak boleh menyerah. Kita harus tetap berdaya upaya untuk mengatasinya.

Secara medis, kita memang harus tetap konsisten menjalankan protokol kesehatan dan program vaksinasi.

BACA JUGA: Politikus PAN Ini Merespons Rencana Relaksasi PPKM Darurat, Begini Kalimatnya

Secara ekonomi, kita mesti tetap bekerja dan berproduksi, walau melalui kerja dari rumah.

Secara rohaniah, kita harus tetap tawakal dan tekun berdoa, memohon petunjuk dan kekuatan dari Yang Ilahi.

BACA JUGA: Mayoritas Masyarakat Belum Divaksin, Begini Reaksi Gus Muhaimin, Pakai Frasa Berikan Contoh

Namun, jangan lupa kita juga perlu memperkuat aspek sosial dengan meningkatkan kepedulian dan solidaritas sosial.

Solidaritas Sosial, Apa Itu?

BACA JUGA: Iduladha, Gus Muhaimin: Momentum Mempererat Persaudaraan dan Kepedulian Kepada Sesama

Secara definisi, solidaritas sosial digambarkan sebagai keterikatan antara individu dalam masyarakat, menjadi sumber moralitas konsensual dan cara masyarakat untuk mengejar keteraturan sosial (Edward Tiryakiyan, 2005).

Definisi ini terinspirasi oleh Emile Durkheim yang memiliki keyakinan kuat pada masyarakat; bahwa masyarakat akan berfungsi dengan sendirinya untuk memberikan keuntungan bagi anggotanya.

Teori solidaritas sosial Durkheim pada dasarnya merupakan tanggapan terhadap Herbert Spencer, Sumner Maine dan Ferdinant Tönnies, yang mengatakan bahwa makin banyak orang individualistis, solidaritas tidak akan ada dalam masyarakat modern (Durkheim, 1984).

Meskipun gagasan Durkheim tentang solidaritas sosial penuh dengan kritik, dalam banyak kesempatan itu dipandang bermanfaat, terutama mengenai diskusi-diskusi sosial solidaritas dalam situasi bencana alam. Durkheim terlihat memberikan landasan diskusi solidaritas sosial dalam bencana.

Ini berlaku di pandangan Durkheim tentang solidaritas sosial dalam situasi kacau sebagai bencana, seperti yang dia tunjukkan dalam teorinya tentang ketidakstabilan ekstrim. Baginya, ketidakstabilan ekstrim, seperti dalam kejahatan, kekerasan, dan bencana, dapat mendorong orang untuk bekerja sama satu sama lain untuk menormalkan situasi..

Pergolakan dapat memicu masyarakat untuk memperjuangkan situasi yang seimbang kembali  mendorong mereka untuk berbagi tanggung jawab, disebut solidaritas sosial. Durkheim percaya bahwa masyarakat akan menemukan perekat sosialnya untuk terlibat satu dan lain.

Mengonfirmasi Durkheim, Lynn Letukas, Anna Olofsson, dan John Barnshaw penelitian (2009) tentang pelaporan media di Amerika Serikat dan Swedia menegaskan bahwa dalam situasi bencana alam solidaritas sosial menguat di daerah di mana orang-orang yang terdampak  bencana bersedia membantu mereka yang terkena dampak.

Jika Durkheim melihat solidaritas sosial sebagai hasil dari praktik keagamaan, Saba Mahmood (2005) melihat bahwa solidaritas sosial itu sendiri pun dapat dianggap sesuatu yang religius oleh masyarakat.

Dalam kacamata Mahmood itu kita dapat memahami mengapa umat manusia menanggapi bencana atau pandemi seperti Covid-19 sebagai cobaan Yang Ilahi yang mesti direspons pula secara rohani melalui sikap tobat dan berbuat amal, termasuk melakukan aksi solidaritas sosial.

Kita Bangsa yang Solider

Secara historis-kultural, Indonesia dikenal sebagai bangsa yang memiliki nilai kepedulian sosial yang tinggi di dunia. Hal itu, setidaknya tampak pada filosofi hidup bersama yang dikenal dengan ‘gotong royong’.

Bahkan, dalam konteks global, Indonesia menempati 10 besar dunia dalam solidaritas dalam bentuk kedermawanan. Organisasi Charities Aid Foundation (CAF) 10th World Giving Index, memasukkan Indonesia ke dalam sepuluh negara paling dermawan di antara 144 negara secara global.

Fakta historis-kultural dan pengakuan masyarakat dunia, tampak kasat nyata dalam realitas sosial kita masa kini.  Terbukti, di tengah pandemi Covid-19 ini masih banyak warga bangsa kita yang bergotong royong, memberi perhatian dan bantuan kepada para sesama yang terpapar Covid-19.

Tanpa menyepelekan gerakan solidaritas sosial yang lain, kita dapat menyebutkan  beberapa  contoh di sini.

Salah satu aksi solidaritas yang cukup membanggakan hati bangsa ini adalah Solidaritas Pangan Jogja (SPJ). SPJ bukan lembaga pelayanan publik, melainkan sebuah gerakan rakyat untuk bantu rakyat lainnya di masa pandemik ketika pemerintah tidak mampu memberikan akses kesehatan, pangan, dan jaminan kesejahteraan.

Gerakan yang dilakukan SPJ merupakan bentuk protes atas diskriminasi yang terus dilakukan pemerintah terhadap kelompok masyarakat rentan. SPJ bergerak atas dasar kepercayaan bahwa rakyat mampu mewujudkan kemandirian melalui aksi solidaritas.

SPJ bukan organisasi yang diduduki oleh pihak dengan kepemilikan modal besar yang menjadi pemimpin. Solidaritas pangan tersebut dibangun dan dihidupi dari banyak orang yang tidak terbatas wilayah provinsi atau negara mana pun

Contoh berikutnya adalah Jaringan Lintas Iman Tanggap COVID-19 atau JIC. JIC melibatkan seluruh kelompok agama di Indonesia, mulai dari Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Budha dan Konghucu. Selama pandemi ini, JIC telah menyalurkan jumlah bantuan yang sangat besar, dan menyasar ratusan ribu warga

Ada beberapa perbedaan antara pola pergerakan SPJ dan JIC. Pertama, SPJ didasarkan pada gerakan dan jaringan yang dibangun di akar rumput seperti aktivis, mahasiswa, dan petani, sedangkan JIC lebih banyak digerakkan oleh tokoh masyarakat, khususnya tokoh-tokoh agama yang memiliki posisi tawar yang kuat dalam distribusi nilai-nilai perubahan.

Kedua, SPJ tidak memaksakan struktur manajemen yang hierarkis, tetapi menerapkan pola kepercayaan dalam peran dan tanggung jawab anggota yang terorganisir. Misalnya, ada peran koordinator lapangan dan dapur umum. Sementara gerakan JIC lebih terstruktur dan cenderung hierarkis.

Namun, SPJ dan JIC memiliki misi yang sama. Mereka ingin membawa perubahan pada kemanusiaan dan mewujudkan keadilan sosial. Kedua gerakan tersebut adalah selalu mengutamakan distribusi nilai-nilai kemanusiaan yang berkelanjutan.

Faktor penentu terbentuknya gerakan kolektif tidak hanya bergantung pada sumber daya material yang tersedia, tetapi lebih pada kekuatan ide dan sumber daya budaya. Yaitu tentang artikulasi dan konstruksi kolektif dari hubungan baru (atau redefinisi) antara pribadi sebagai individu dan pribadi (sebagai ulama atau ulama, warga negara, dan keluarga).

Gerakan SPJ mengusung nilai nativisme sedangkan gerakan JIC merupakan representasi tumbuhnya gerakan sosial baru yang muncul karena penyebaran nilai-nilai agama dalam dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan politik sebagai warga negara.

Dapur Cak Udin

Sejatinya, setiap warga bangsa ini dapat mewujudkan sikap solidaritas sosialnya dengan cara atau melalui bentuk kegiatan yang sesuai dengan kemampuan dan kondisi sosialnya masing-masing.

Sebagai contoh, tidak bermaksud untuk membanggarkan diri, saya bersama para sukarelawan di daerah pemilihan (dapil) Malang mencoba mewujudkan semangat solidaritas sosial dengan mendirikan dapur umum yang diberi nama ‘Dapur Cak Udin’.

Dapur ini didirikan berangkat dari keprihatinan kami setelah melihat kondisi pandemi Covid-19. Kasus Covid-19 mulai melonjak sehingga rumah sakit rujukan penuh.

Beberapa pasien harus melakukan isolasi mandiri di rumah. Ditambah lagi adanya aturan PPKM Darurat yang mempengaruhi terhadap mata pencaharian sebagian besar masyarakat.

Kenyataan tersebut mendorong kami  untuk melakukan aksi solidaritas kemanusiaan. Dalam aksi itu, kami  melakukan proses penyaluran bantuan makanan siap saji dan bergizi dimulai Senin, 12 Juli 2021 hingga akhir Juli 2021.

Namun, jika masih banyak yang membutuhkan, maka tidak tertutup kemungkinan kami akan meneruskan layanan dapur tersebut.

Untuk teknis pendistribusian, para relawan langsung mengantarkan makanan bergizi ke alamat pasien tempat isolasi mandiri. Sampai sekarang ‘Dapur Cak Nudin’ sudah melayani makan gratis untuk lebih dari 2000 orang yang sedang menjalani isolasi mandiri.

Solidaritas Sebagai Modal Sosial

Dari proses layanan, kami menyadari bahwa upaya aksi solidaritas adalah sebuah ‘modal sosial’ (social capital) yang berharga. Supaya modal sosial  makin menggelembung dan aksi solidaritas dapat efektif, perlu ada partisipasi masyarakat.

Dalam aksi solidaritas ‘Dapur Cak Udin,  warga masyarakat hendaknya berpartisipasi dengan tidak ragu melaporkan siapa saja, keluarga, sahabat, tetangga, atau relasi yang berada di wilayah Malang Raya dan sedang menjalani isolasi mandiri untuk mendapatkan layanan makanan gratis dengan  hanya menunjukkan hasil positif Covid-19 tes swab antigen.

Untuk mendapatkan layanan ini, warga dapat menghubungi narahubung 081333812118 sebagai PIC ‘Dapur Cak Udin’.

Jadi, berdasarkan telaah teoritis dan beberapa contoh di atas, penulis ingin menegaskan bahwa kita adalah bangsa yang memiliki modal sosial yang sangat besar. Sebab, bangsa kita memiliki warisan sosio-kultural berupa semangat gotong royong atau solider.

Berhadapan dengan pandemi Covid-19 ini, kita sepatutnya memanfaatkan modal sosial tersebut. Artinya, kita perlu selalu bergandengan tangan memperkuat solidaritas sosial.

Sebab, dengan modal sosial tersebut, bangsa kita akan makin tangguh dalam menghadapi krisis yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19. Bahkan, lebih dari itu, bangsa kita akan mampu meraih kemajuan di era New Normal, pasca-pandemi Covid-19.***

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler