Baca! Ini Mitos yang Salah Tentang Pasta Gigi

Rabu, 22 Juli 2020 – 14:55 WIB
Pasta gigi. Foto: Wikipedia

jpnn.com - APA yang biasanya Anda terapkan ke tangan jika mengalami luka bakar terkena minyak?

Biasanya Anda akan langsung mengambil pasta gigi, tepung atau yang lainnya dan mengoleskannya ke luka tersebut.

BACA JUGA: Peneliti Sebut Bahan Pasta Gigi Berbahaya untuk Kesehatan Tulang

Tapi tunggu dulu, ternyata kebiasaan ini adalah salah besar. Karena, bukannya mengobati luka tetapi justru berisiko memperburuk kondisi luka dan menimbulkan bekas luka parut.

"Mengoleskan pasta gigi, kecap, mentega, bisa memperburuk luka bakar, meningkatkan kemungkinan infeksi dan menimbulkan jaringan parut (scar), paling parah keloid," ujar Medical Expert Combiphar, Dr. Sandi Perutama Gani dalam "Combiphar Health Desk - Virtual Media Briefing", Rabu.

BACA JUGA: Benarkah Pasta Gigi Ampuh Mengatasi Jerawat?

Salah satu kandungan dalam pasta gigi yakni fluoride yang pada gigi bisa menguatkan dan melindungi, justru berdampak buruk jika dioleskan pada kulit terkena luka bakar.

Area kulit akan tertutupi fluoride sehingga berisiko muncul radang sehingga luka sukar sembuh dan munculah parut atau bekas pada kulit.

BACA JUGA: Krisis Venezuela: Beli Pasta Gigi Saja Harus ke Luar Negeri

"Panasnya luka bakar kalau dikasih pasta gigi (mengandung fluoride) akan terperangkap, padahal tujuannya (penanganan luka bakar) mengeluarkan panasnya," jelas Sandi.

"Panasnya di situ-situ saja, akibatnya bisa jadi radang, luka lama sembuh, akan timbul jaringan parut," tutur Sandi.

Belum lagi jika ada bakteri yang ikut terperangkap, ada risiko makhluk itu berkembang biak.

Salah satu bakteri yang bisa saja terperangkap, Streptococcus yang biasanya hidup di kulit dan tenggorokan manusia.

Infeksi bakteri ini bisa memunculkan sederet penyakit antara lain sinusitis, infeksi telinga dan pneumonia.

Selain bakteri ini, adakah risiko virus penyebab COVID-19 bisa masuk melalui luka?

"Beberapa penelitian dan webinar dengan dokter spesialis masih belum ada jawaban definitif mengenai hal ini," kata Sandi.

Luka bakar cenderung disebabkan berbagai faktor termasuk di lingkungan rumah dan mayoritas karena api (sebanyak 53 persen).

Penyebab lainnya, cairan panas yang bisa menyebabkan lepuh.

Semakin tebal atau banyak cairan dan semakin lama kontaknya dengan kulit, bisa menyebabkan lepuh yang semakin besar.

Selain itu, listrik juga bisa menyebabkan kerusakan parah pada kulit dan jaringan di bawahnya.

Penyebab lainnya, bahan kimia yang mudah terbakar seperti bensin, alkali atau pengencer cat (thinner) serta kontak dengan benda panas semisal rokok dan peralatan memasak.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan angka luka bakar menempati urutan lima jenis cedera tidak sengaja.

Atau secara umum mengalami peningkatan angka kejadian dari 0,6 persen menjadi 1,3 persen.(antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Fany

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler