Bahaya Glaukoma yang Muncul Tanpa Gejala

Jumat, 12 Maret 2021 – 13:57 WIB
Ilustrasi pria. Foto : Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Glaukoma merupakan salah satu penyebab kebutaan kedua terbanyak di dunia termasuk Indonesia, setelah katarak.

Kebutaan akibat glaukoma umumnya bersifat permanen dan yang menakutkan penyakit ini tidak bergejala.

BACA JUGA: Waspada! Glaukoma Bisa Menyebabkan Kebutaan, Ini Gejalanya

"Calon penderita glaukoma kerap tidak menyadari itu," kata dr. Nyoman Yenny Khristiawati dalam webinar memperingati World Glaukoma Week, baru-baru ini.

Menurut dokter Yenny, perlu kewaspadaan ekstra bagi mereka yang memiliki riwayat diabetes, hipertensi dan secara umum kerap merasakan sakit kepala. Juga mereka yang kerap menggunakan obat tetes mata tertentu yang mengandung steroid. 

BACA JUGA: Tentang Penyakit Glaukoma yang Diderita Thareq Kemal Habibie

"Segera deteksi dini karena glaukoma bersifat permanen," ujar dokter yang bertugas di Siloam Hospitals Denpasar ini.

Di dunia, angka kebutaan akibat glaukoma berjumlah 3,2 juta jiwa dari sekitar 39 juta angka kebutaan.

BACA JUGA: Marwan Batubara Ungkap Kalimat Amien Rais saat Bertemu Presiden Jokowi

Sedangkan di Indonesia ditemukan bahwa 4-5 orang dari 1.000 orang menderita glaukoma.

Dijelaskannya, glaukoma merupakan kerusakan saraf mata akibat meningkatnya tekanan pada bola mata. Meningkatnya tekanan bola mata ini terjadi akibat gangguan pada sistem aliran cairan mata. 

Seseorang yang menderita kondisi ini bisa merasakan gejala berupa gangguan penglihatan, nyeri pada mata, sakit kepala. Glaukoma mengakibatkan kualitas hidup penderita menurun dan perlu pengobatan intensif dan periodik.

Dia menyebutkan, ada dua jenis glaukoma yaitu primer dan sekunder. Pada kondisi primer, penyebabnya tidak diketahui, karena terkait faktor genetik. Glaukoma sekunder penyebabnya karena efek samping obat-obatan atau akibat trauma dan penyakit lainnya.

Ada pula tipe glaukoma sudut terbuka yang umumnya menyebabkan kejadian yang kronis dan tanpa gejala. Tanpa disadari penglihatan penderita makin berkurang dan berdampak pada buruknya visualisasi mata. 

"Contohnya, saat berjalan, kerap penderita akan menabrak benda yang berada disisi samping," kata Yenny. 

Sedangkan glaukoma sudut tertutup biasanya mendadak. Gejala yang dialami umumnya merasakan sakit dan mata merah, penglihatan buram, melihat halo atau seperti bias cahaya lampu, nyeri kepala, mual dan muntah. Dalam studi kasus ada yang mengalami penglihatan yang hilang secara tiba-tiba.

Glaukoma sudut terbuka ini kata dokter Yenny, masih bisa diatasi melalui konsumsi obat-obatan.

"Jika tidak terkontrol baik harus dilakukan pembedahan," katanya.

Dia mengingatkan masyarakat yang mengidap diabetes, hipertensi hingga kelompok usia lanjut perlu rajin memeriksakan kesehatan matanya. (esy/jpnn)

 


Redaktur : Soetomo
Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler