Balitbangtan Atasi Kelangkaan Bibit Porang dengan Teknik Kultur Jaringan

Jumat, 12 Maret 2021 – 14:33 WIB
Balitbangtan Kementan atasi permasalahan kelangkaan bibit porang dengan teknik kultur jaringan. Foto: Humas Balitbangtan

jpnn.com, JAKARTA - Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian melakukan inovasi untuk mengatasi kelangkaan benih porang melalui teknologi kultur jaringan.

Peneliti Ahli Utama BB Biogen, Badan Litbang Pertanian, Ika Roostika Tambunan mengatakan, harga porang iris kering yang terus melonjak dari tahun ke tahun membuat banyak petani menanam porang.

BACA JUGA: Mentan Syahrul: Balitbangtan Harus Terdepan Majukan Pertanian

Kendati demikian, budidaya tanaman tersebut terhambat kelangkaan dan mahalnya harga benih/bibit.

"Selama ini petani mendapatkan benih porang dari umbi, katak/bulbil atau biji pada bunga porang. Salah satu cara untuk meningkatkan kualitas dan menjamin ketersediaan bibit porang adalah dengan menerapkan teknik kultur jaringan," kata dia melalui keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (12/3).

BACA JUGA: Balitbangtan Siapkan Inovasi Teknologi Dukung Program Strategis Kementan

Menurut dia, biasanya petani menggunakan benih alami dari umbi dan katak/bulbil yang harganya mencapai Rp 150 ribu-Rp 400 ribu per kilogram.

"Sementara kebutuhan benih porang sekitar 200 kilogram per hektare sehingga petani harus mengeluarkan biaya antara Rp 30 juta-Rp 80 juta per hektare," ujar Ika.

BACA JUGA: Tiga Peneliti Utama Balitbangtan Dikukuhkan Menjadi Profesor Riset

Lebih lanjut Ika menjelaskan, sejak November 2019 hingga Desember 2020, BB Biogen berkolaborasi dengan Direktorat Perbenihan melakukan Uji Produksi Benih Porang melalui Kultur Jaringan.

Perbanyakan melalui kultur jaringan, lanjutnya, memiliki keunggulan karena bisa dilakukan secara massal dalam waktu cepat.

Bahkan, kata dia lagi, tidak tergantung pada musim dan menghasilkan bibit sesuai dengan induknya, seragam, bebas hama serta penyakit.

"Juga mudah untuk didistribusikan khususnya dalam bentuk planlet," ungkap dia.

Di samping itu, menurut dia juga adanya zat pengatur tumbuh pada saat ditumbuhkan secara in vitro maka pertumbuhan juga menjadi lebih cepat.

Kendati demikian, Ika mengakui, tantangan dalam pengembangan tanaman porang adalah bagaimana memacu riset pengolahan porang dan produk turunannya.

"Jika ketersediaan katak melimpah, bagaimana mengolahnya agar tidak terbuang percuma, misalnya menjadi bioetanol," papar dia.

Selain itu, tambahnya, bagaimana teknologi kultur jaringan bisa diaplikasikan bukan hanya untuk perbanyakan benih, tetapi untuk pemuliaan.

"Sehingga bisa menghasilkan varietas porang dengan glukomanan tinggi," ungkap Ika.

Sementara itu, Abey Ridwan, salah satu petani yang sudah puluhan tahun menekuni budidaya porang mengatakan semakin banyaknya petani yang banting setir menanam porang bisa menyebabkan melimpahnya ketersediaan katak/bulbil pada 5 tahun mendatang.

Persoalan lain yaitu, pembangunan pabrik pengolahan porang belum merata di setiap provinsi, karena saat ini tersentral di Jawa Timur.

"Saat ini banyak petani yang menanam porang, supply akan jauh lebih besar dari demand. Walaupun di dunia kebutuhannya besar, namun sebelum diekspor porang harus masuk pabrik di Indonesia yang akan memproses porang agar siap ekspor," tutur dia.

Permasalahan lainnya, bagaimana meningkatkan kadar glukomanan, serta pengembangan produk turunan untuk memberi nilai tambah porang misalnya untuk makanan, minuman, farmasi, industri, maupun kosmetik.

Sebagai informasi tambahan, tanaman porang (Amorphophallus muelleri) merupakan tanaman jenis umbi-umbian yang bernilai ekonomi tinggi, biasanya komoditas ini diekspor dalam bentuk chips atau tepung.

Di industri pangan, porang bisa diolah menjadi tepung, shirataki, konyaku, dan gelling agent, tambahnya, sedangkan industri industri obat-obatan memanfaatkan untuk menurunkan kolesterol dan gula darah, mencegah kanker, serta menurunkan obesitas dan mengatasi sembelit.

Sementara, dalam industri lainnya, porang menjadi bahan baku lem, pelapis anti air, cat, negative film, pita seluloid, dan kosmetika mewah. (mcr10/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler