Bamsoet Dorong Indonesia Jadi Pemain Utama Pengembangan Industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai

Ngobras Bareng Hermawan Kertajaya

Kamis, 14 Januari 2021 – 12:12 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo saat ngobrol santai (Ngobras) dengan pakar marketing, Hermawan Kertajaya, di Jakarta, Kamis (14/1). Foto: Humas MPR RI.

jpnn.com, JAKARTA - Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengatakan Indonesia harus mampu menjadi pemain utama dalam pengembangan industri Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (KBL-BB) yang kini sedang menjadi tren dunia.

Menurut dia, hal itu mengingat Indonesia Indonesia memiliki cadangan bijih nikel terbesar dunia yang merupakan bahan baku utama komponen baterai di kendaraan bermotor listrik.

BACA JUGA: Bamsoet Geber Mobil Mewah Listrik Pertama di Indonesia di Rumah Raffi Ahmad, Oke Juga

Ia menjelaskan berdasar data Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral 2019, dengan status hingga Desember 2018 cadangan bijih nikel nasional mencapai 3,57 miliar ton.

Terdiri dari cadangan terkira sebanyak 2,87 miliar ton dan cadangan terbukti sekitar 698 juta ton.

BACA JUGA: BMW Indonesia Meluncurkan Kendaraan Listrik 2021

Sumber daya nikel mencapai 9,31 miliar ton. Terdiri dari sumber daya terukur sebanyak 2,03 miliar ton, tertunjuk 2,68 miliar ton, tereka 4,29 miliar ton, dan hipotetik 294,9 juta ton.

Karena itu, Bamsoet mengatakan tidak heran kalau Hyundai memindahkan operasionalnya dari Malaysia ke Indonesia.

BACA JUGA: Menhub Sebut Mobil Listrik Bakal Jadi Kendaraan Dinas Jajarannya

Selain karena market Indonesia yang besar, juga karena mereka ingin mengembangkan kendaraan listrik di sini.

Bahkan produsen otomotif listrik asal Amerika Serikat, Tesla, juga serius mendekati Indonesia.

"Januari ini dikabarkan mereka akan berkunjung ke Indonesia untuk bertemu Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Pandjaitan dan tim pemerintah lainnya," ujar Bamsoet saat ngobrol santai (Ngobras) dengan pakar marketing, Hermawan Kertajaya, di Jakarta, Kamis (14/1).

Ketua ke-20 DPR RI ini memaparkan dari segi political will pemerintahan Presiden Joko Widodo telah memberikan banyak insentif bagi produsen maupun konsumen, agar mau beralih dari kendaraan konvensional berbahan bakar fosil ke KBL.

Ia menjelaskan mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 73 Tahun 2019, salah satu insentif fiskal yang sudah tersedia antara lain pemberian insentif Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) sebesar nol persen bagi KBL yang mengikuti program pengembangan mobil listrik.

Selain itu, kata Bamsoet, pemerintah daerah juga banyak memberikan insentif.

Antara lain Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 3 Tahun 2020 yang membebaskan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) untuk KBL-BB di wilayah ibu kota.

Ada pula Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 975-698/2019 yang mengatur insentif BBN-KB sebesar 10 persen terhadap mobil listrik dan 2,5 persen untuk sepeda motor listrik di wilayah Pemprov Jawa Barat.

"Serta Perda Bali Nomor 9/2019 yang mengatur insentif BBN-KB sebesar 10 persen untuk kendaraan listrik di Bali," papar Bamsoet.

Ketua umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini mengungkapkan dari segi konsumen beralih ke kendaraan listrik mendatangkan banyak keuntungan.

Antara lain mendapatkan kredit khusus kendaraan bermotor listrik dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) dengan bunga sebesar 3,8 persen per tahun dan tenor sampai dengan enam tahun.

Gratis tambah daya dari PLN bagi pemilik mobil listrik, serta diskon 75 persen untuk tambah daya bagi pemilik sepeda motor listrik.

Menurutnya, selain menjaga lingkungan dari pencemaran polusi udara yang dihasilkan kendaraan berbahan bakar fosil, pemilik kendaraan listrik juga bisa menghemat pengeluaran bulanan mereka.

"Karena biaya perawatan yang rendah, sekitar 35 persen dibanding kendaraan berbahan bakar minyak, lantaran tak adanya komponen tertentu seperti oli, filter oli, busi, dan katup engine," ungkap Bamsoet.

Wakil ketum Kadin Indonesia ini menambahkan biaya pengisian bahan bakar KBL juga sangat rendah, dibanding yang menggunakan BBM. Sebagai perbandingan, berbagai riset menampilkan rata-rata sebuah sedan biasa yang dikemudikan sejauh 15.000 mil akan menghabiskan rata-rata USD 6.957. Kendaraan listrik dengan jarak tempuh yang sama hanya membutuhkan sekitar USD 540.

"Karena pengeluaran lebih hemat, masyarakat bisa menabung lebih banyak. Sekaligus mengalihkan pengeluaran rutin mereka untuk kendaraan ke kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga lainnya," pungkas Bamsoet. (*/jpnn)

 

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler