Bandingkan Keuntungan PT LIB di Liga 1 dengan Piala Presiden

Jumat, 09 Maret 2018 – 08:29 WIB
Persija Juara Piala Presiden 2018. Foto: dok.JPNN

jpnn.com, JAKARTA - PT. Liga Indonesia Baru (LIB) harus berutang kepada 18 klub peserta Liga 1 musim 2017.

Keputusan tersebut juga disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT.LIB yang berlangsung di Ruang Tambora, Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (8/3).

BACA JUGA: Data Seputar Liga 1, 2, dan U-19

Utang tersebut khusus untuk pembagian hak hasil rating dan ranking yang diterima 18 klub peserta musim lalu. Totalnya mencapat Rp 35 Miliar, yakni Rp 17,5 M berdasar ranking dan Rp 17,5 rating.

Maksimal, peringkat pertama pemegang rating dan ranking mendapatkan masing-masing Rp 4 Miliar. Sedangkan batas bawah peringkat ke-17 mengantongi Rp 50 juta.

BACA JUGA: Subsidi Liga 1 Tetap, Liga 2 Naik Tiga Kali Lipat

Sedangkan untuk peringket terbawah, alias juru kunci tidak mendapatkan hak rating dan ranking tersebut. Dalam hal ini, pada Liga 1 2017 lalu dihuni Persegres Gresik untuk variabel ranking. Untuk utang tersebut, PT.LIB akan melunasi kewajiban tersebut pada 2019 mendatang.

Meski berutang, operator juga tetap mencatatkan adanya untung. “Untungnya, sekitar Rp 6 Miliar. Kami sepakati khusus untuk ranking dan rating kami bayarkan pada tahun depan,” terang Berlinton Siahaan, Direktur Utama PT.LIB.

BACA JUGA: Semua Pemain Lama SFC Disodori Kontrak, Bio Paulin Kapan?

Keuntungan yang didulang operator Liga 1 itu agaknya cukup miris. Sebab, dibandingkan dengan Piala Presiden 2018, masih kalah, yakni yang mencapai Rp 9 Miliar.

Sementara itu, Endri Erawan, asisten manajer Barito Putera tidak mempersoalkan proses pencairan tersebut. “Yang jelas sekarang LIB punya komitmen untuk menyelesaikan, itu dulu,” terangnya.

Mantan manajer Timnas Indonesia di SEA Games 2017 menerangkan dengan kondisi yang saat ini, dia cukup yakin bahwa kompetisi musim 2018 bakal lebih semarak.

Harapannya juga bisa meningkatkan pendapatan klub untuk membantu menjalankan roda operasional.

Untuk Liga 1 2018, General Manajer Arema FC Ruddy Widodo meminta operator tetap bisa konsisten.

Menurutnya, sudah seharusnya klub yang mendapat rating tinggi mendapat keuntungan lebih dari hak siar.

’’Bukan karena sombong, pasti TV yang menayangkan suka tidak suka Arema FC sangat disukai untuk tayang live, memang harus begitu, bukan lantas juara 1 dapat berapa atau seterusnya,’’ klaimnya.

Artinya, rating TV tetap harus ada karena klub profesional mendapatkan keuntungan lebih dari hal itu.

’’Pendapatan tertinggi memang dari rating, mau tidak mau itu harus diakui. Intinya apa yang sudah ada tetap dikembangkan dan harus konsisten,’’ paparnya. (nap/rid)

BACA ARTIKEL LAINNYA... 306 Pertandingan Liga 1, 23 Maret-2 Desember


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler