Bang Charles Anggap Kualitas Oposisi Fadli Zon Cuma Sebegitu

Rabu, 19 September 2018 – 20:02 WIB
Joko Widodo dan politikus muda PDI Perjuangan Charles Honoris dalam kampanye Salam Dua Jari di Pilpres 2014. Foto: dokumentasi pribadi for JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Politikus muda PDI Perjuangan Charles Honoris meyakini partai-partai yang merasa sebagai oposisi pemerintahan saat ini tak akan bisa mengalahkan Joko Widodo di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Alasannya, kualitas oposan sekarang belum mampu menandingi hasil kerja presiden yang beken disapa dengan panggilan Jokowi itu.

Menurut Charles, keberadaan partai oposisi dibutuhkan untuk menjalankan mekanisme check and balances terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa. Namun, katanya, menjadi oposisi bukan perkara mudah karena harus mampu menunjukkan kualitas dan bukan sekadar berseberangan dengan pemerintah.

BACA JUGA: Reaksi Kiai Maruf soal Celaan Ustaz Yahya Waloni

“Kualitas oposisi itu ikut menentukan kualitas demokrasi. Jadi, oposisi tidak bisa cuma modal nyanyi,” kata Charles melalui layanan pesan WhatsApp, Rabu (19/9) guna merespons kicauan Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon di Twitter tentang lagu Potong Bebek Angsa yang digubah untuk menyindir Jokowi.

Anggota Komisi I DPR itu lantas membandingkan kondisi saat ini dengan saat PDI Perjuangan menjadi oposisi bagi pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2004-2014. Sebagai contoh, PDIP sangat keras mengkritik kebijakan pemerintahan SBY ketika menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 2013.

BACA JUGA: PP Satria: Cukup! Jokowi Satu Periode Saja

“Bahkan untuk membuktikan bahwa kebijakan SBY menaikkan harga BBM itu salah, PDI Perjuangan sampai merancang APBN-P tandingan,” kata Charles.

Selanjutnya, PDIP menyampaikan masukan tentang alternatif sumber-sumber keuangan dalam APBN Perubahan 2013 agar pemerintahan kala itu tak mencabut subsisi BBM. “Bahkan dari perhitungan tersebut, PDI Perjuangan sampai merilis harga BBM tandingan,” ujar Charles.

Calon anggota DPR dari PDIP untuk daerah pemilihan Jakarta III itu melanjutkan, keputusan partainya beroposisi kala itu juga menjadi bukti konsistensi ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri. Padahal, PDIP juga berkali-kali ditawari bergabung dalam pemerintahan SBY.

“Di awal pemerintahan SBY, kita tahu Ibu Megawati menolak tawaran agar PDI Perjuangan bergabung ke pemerintahan. Komitmen menjadi partai penyeimbang itu dijalankan dengan baik,” ujarnya.

Sikap PDIP yang konsisten beroposisi selama 10 tahun pun membuahkan hasil pada 2014. Menurutnya, rakyat juga mengapresiasi konsistensi PDIP mendekat ke rakyat dan getol menyuarakan Pancasila.

Oleh karena itu Charles meragukan kualitas oposisi saat ini mampu menggerus dominasi Jokowi. “Jadi tanpa kerja-kerja berkualitas, oposisi Jokowi saat ini jangan mimpi untuk bisa berkuasa di 2019,” pungkasnya.(jpg/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Budiman PDIP: Ulama Instan Tak Bisa Jadi Pemimpin


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler