Bangun Pabrik Misil Balistik, Arab Saudi Ketahuan Belangnya

Minggu, 27 Januari 2019 – 07:56 WIB
Foto satelit pabrik misil balistik Arab Saudi Al-Watah. Foto: Twitter

jpnn.com, RIYADH - Arab Saudi ketahuan belangnya. Negara yang dipimpin Raja Salman itu diduga membangun pabrik misil balistik. Senjata berkemampuan membawa hulu ledak nuklir. Padahal, mereka selama ini mengecam program nuklir Iran.

Temuan tersebut juga membuat beberapa negara waswas.  Pasalnya, pabrik di pinggiran Riyadh itu pertanda kuat Timur Tengah bakal terus memanas. 

BACA JUGA: Ulama Pengkritik Pangeran MBS Tewas di Penjara Saudi

BACA JUGA: Ulama Pengkritik Pangeran MBS Tewas di Penjara Saudi

Pembangunan pabrik misil balistik itu semula diketahui dari hasil foto satelit pada 2013. Saat itu foto-foto yang muncul di Jane's Defence Weekly tersebut menggambarkan markas militer di Kota Al Dawadmi, sekitar 230 km dari Riyadh. Namun, beberapa pengamat militer hanya melihat dua landasan peluncuran misil.

BACA JUGA: Taklukkan Arab Saudi, Jepang Jumpa Vietnam di Perempat Final Piala Asia 2019

Asumsi yang berkembang saat itu, landasan tersebut bakal digunakan untuk meluncurkan misil yang dibeli Saudi dari Tiongkok dengan target Israel atau Iran. Saudi memang dikenal sebagai negara yang rajin membeli misil dari luar negeri.

Namun, gambar satelit yang didapatkan pada 13 November tahun lalu menunjukkan perkembangan yang mengejutkan. "Saat melihat, kami sadar. Wah, ini bukan sekadar markas peluncuran misil lagi," ungkap Jeffrey Lewis, pakar misil dari Middlebury Institute of International Studies, kepada Washington Post.

BACA JUGA: Dapat Suaka dari Kanada, Rahaf Buang Nama Keluarganya

BACA JUGA: Perundingan Gagal, Saudi Bombardir Yaman Semalaman

Lewis dan dua rekannya, David Schmerler dan Fabian Hinz, melihat, ada fasilitas baru yang dibangun. Fasilitas itu diduga bisa membuat dan mengisi bahan bakar misil balistik.

Dugaan tersebut diperkuat dengan landasan tes misil yang dibangun di pojok kompleks. Landasan tes seperti itu hanya dibangun negara yang ingin memproduksi misil sendiri. "Saya khawatir. Selama ini, dunia terlalu meremehkan ambisi Arab Saudi," imbuh Lewis.

Sampai saat ini, otoritas Arab Saudi menolak berkomentar. Karena itu, bagaimana teknologi pembuatan misil tersebut didapatkan masih menjadi misteri. Lewis hanya bisa menebak bahwa teknologi itu didapatkan dari Tiongkok. Indikasinya, struktur bangunan hampir sama dengan fasilitas misil milik Negeri Panda tersebut.

Namun, pemerintah Tiongkok langsung menyangkal tuduhan tersebut. "Saya tidak pernah dengar bahwa Tiongkok membantu Arab Saudi membangun fasilitas misil," ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Hua Chunying kepada Associated Press.

Pembangunan pabrik misil balistik merupakan program militer yang supersensitif. Sebab, proyek tersebut sering dikaitkan dengan pengembangan bom nuklir. Saudi pun sering mengkritik Iran karena alasan yang sama.

Visi militer Arab Saudi yang terungkap melalui Putra Mahkota Muhammad bin Salman (MBS) sudah jelas. Soal militer, Saudi sama sekali tak mau mengalah.

Dia mengaku bakal mengimbangi teknologi militer apa pun yang dimiliki musuhnya, yakni Iran. "Kami tak mau memiliki bom nuklir. Tapi, jika Iran mengembangkan teknologi itu, saya jamin bakal langsung ikut memproduksi," ujar MBS dalam wawancara program 60 Minutes di CBS Maret lalu.

Hal tersebut dibuktikan saat AS, pemasok utama senjata ke Saudi, menolak menjual drone militer seperti Predator atau Reaper ke Riyadh pada 2016. Saudi akhirnya memilih untuk meneken kontrak proyek pabrik drone dengan Tiongkok.

Menurut pakar militer dari International Institute for Strategic Studies Michael Elleman, aneh jika Arab Saudi membangun pabrik misil balistik untuk mengimbangi Iran.

Dia menilai wajar jika Iran harus mengandalkan misil balistiknya untuk berperang. Sebab, Iran hanya punya armada pesawat tempur bikinan 1970-an. Sedangkan Arab Saudi sudah membeli puluhan pesawat F-15, Typhoon, dan Tornado. Dengan alutsista baru itu, pertahanan udara Saudi sudah lebih dari cukup.

"Mungkin mereka tak ingin lagi bergantung pada AS. Sebab, tak ada jaminan bahwa AS akan mendukung Saudi selamanya untuk melawan Iran," jelas Elleman.

Alasan itu makin tepat jika melihat hubungan bilateral kedua negara yang saat ini naik turun. Sejak kasus pembunuhan jurnalis Saudi Jamal Khashoggi Oktober lalu, publik AS terus menyoroti MBS yang diduga menjadi aktor utama. Hanya Presiden AS Donald Trump yang masih mendukung MBS.

"Kalau ada bukti bahwa Arab Saudi mulai mengetes misil, pemerintah AS pasti akan ditekan untuk memberikan sanksi ke Arab. Seperti yang dilakukan kepada Iran." Demikian tanggapan Stratfor, lembaga intelijen swasta di Austin, Texas, AS. (bil/c11/oni)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Perundingan Gagal, Saudi Bombardir Yaman Semalaman


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler