Banyak Pengeluaran Tidak Efisien, Garuda Harus Berani Renegosiasi

Rabu, 20 Mei 2020 – 18:51 WIB
Pesawat Garuda Indonesia. Foto : Natalia Laurens/JPNN

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi VI DPR RI, Deddy Yevri Sitorus menilai manajemen bisnis Garuda Indonesia harus ditata ulang untuk menyelesaikan beban besar dari utang dan dampak pandemi Covid-19.

“Persoalan Garuda sudah going concern, mereka membakar uang sebulan sekitar USD 40 juta,” ungkap Deddy, dalam pernyataan tertulis, Rabu (20/5).

BACA JUGA: Deddy Tak Rela Pemerintah Menanggung Semua Beban Garuda

Bagian terbesar pengeluaran rutin Garuda Indonesia, kata Deddy, adalah kewajiban pada sewa pesawat. Deddy menuturkan, manajemen Garuda Indonesia harusnya bisa memanfaatkan masa krisis akibat pandemi ini untuk negosiasi ulang dengan para lessor.

“Proses renegosiasi itu harus dilihat dari kepentingan Garuda sebagai korporasi. Perlu diingat bahwa urusan sewa menyewa pesawat ini adalah sumber utama inefisiensi di Garuda,” tambah Deddy.

BACA JUGA: Dampak Corona, Garuda Indonesia Merumahkan 800 Pegawainya

Anggota Fraksi PDI Perjuangan itu khawatir ada oknum di internal Garuda yang saat ini mencoba mengintervensi proses renegosiasi.

“Oknum tersebut kabarnya duduk di jajaran komisaris, tidak mendapat mandat untuk melakukan negosiasi, dan memaksakan Garuda memakai law firm asing yang punya rekam jejak buruk,” ungkap Deddy.

BACA JUGA: Pemerintah Harus Hitung Risiko Menyelamatkan Garuda Indonesia

Menurut Deddy, aneh jika ada komisaris mencampuri pelaksanaan teknis yang bukan menjadi urusannya. Dalam masalah ini, Kementerian BUMN harus mendalami dan memanggil jika terbukti ada oknum komisaris yang mencampuri urusan teknis di luar kewenangannya.

“Kementerian BUMN harus memberikan dukungan politik dan kebijakan pada jajaran Direksi Garuda agar jangan sampai ada petualang yang justru akan merugikan Garuda,” ujar Deddy.

“Kementerian harus segera memanggil jajaran Direksi agar isu ini tidak berkembang karena berpotensi merugikan Garuda,” kata Deddy. (dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler