Banyak Permintaan Booster, Pakar Menyarankan Fokus pada Orang Belum Divaksin

Jumat, 28 Januari 2022 – 07:15 WIB
Ahli vaksin asal Inggris mengatakan vaksinasi Covid-19 perlu fokus pada pengurangan jumlah orang yang belum divaksin daripada booster. Ilustrasi Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, LONDON - Ahli vaksin asal Inggris mengatakan vaksinasi Covid-19 perlu fokus pada pengurangan jumlah orang yang belum divaksin daripada vaksin booster.

Dengan penyebaran Omicron yang cepat di akhir 2021, Kementerian Kesehatan Inggris menekankan dua dosis vaksin tidak cukup untuk melindungi diri dari varian baru corona itu.

BACA JUGA: Seorang Guru di Karawang yang Sudah Terima Vaksin Booster Terpapar Omicron

Untuk itu, pemerintah Inggris mendesak masyarakat segera melakukan vaksinasi dosis ketiga.

Melansir The Guardian, 968.665 dosis vaksin booster disuntikkan hanya pada 21 Desember 2021.

BACA JUGA: Mendagri Tito Karnavian Dapat Perintah Ini dari Presiden Jokowi

Kemudian, capaian vaksinasi booster menurun dan saat ini sekitar 500 ribu dosis per hari.

Direktur Pusat Vaksin di London School of Hygiene & Trpical Madicine Beate Kampmann mengatakan terlalu banyak orang terburu-buru mendapatkan vaksinasi booster.

BACA JUGA: Ada Petisi Dukung Langkah Ubedilah Badrun Melaporkan Dua Anak Joko Widodo ke KPK

“Yang terbaik adalah berkonsentrasi pada mereka yang belum divaksin sama sekali, karena peluang mereka untuk meninggal 11 kali lebih tinggi daripada orang yang sudah divaksin,” kata Kampmann, dikutip dari The Guardian, Jumat (28/1).

Pakar perilaku dari Swansea University Simon Williams mengatakan penurunan capaian vaksinasi di Inggris kemungkinan terjadi karena masyarakat merasa jenuh.

Dengan begitu, mereka memandang Omicron hanya sebagai salah satu varian Covid-19 dan kehidupan harus kembali normal seperti sebelumnya.

“Ini diperparah dengan persepsi umum bahwa Omicron adalah varian yang dianggap lebih ringan,” ujar Williams.

Nyatanya, lanjut dia, vaksinasi berperan besar dalam menghadapi Omicron karena menyebabkan perawatan di rumah sakit tidak terlalu banyak. (mcr9/fat/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Dea Hardianingsih

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler