Baterai Lithium Tanpa Ember

Selasa, 01 Mei 2018 – 22:33 WIB
Dahlan Iskan.

jpnn.com - Saya bangun tengah malam. Ingat ITS. Khususnya acara BEM Elektro. Yang istimewa. Yang ingin saya tulis saat itu.

Tapi keburu ke Tiongkok. Lalu ke Amerika ini.

BACA JUGA: Ideologi Republik dari Kansas

Saya terbangun tengah malam. Tidak bisa tidur lagi. Masih jetlag. Padahal sudah 10 hari di Amerika. Perbedaan waktu membuat ritme tidur kacau.

Maka saya tulislah naskah untuk Disway ini. Daripada mata hanya menatap langit-langit tanpa cicak.

BACA JUGA: Keju Pedas Amerika Buatan Boyolali

Udara tengah malam ini sangat dingin. Tapi pikiran saya bergairah. Harus memuji orang ini: Kristian Sutikno. Alumnus Fakultas Teknik Elektro Institut 10 November (ITS) Surabaya.

Bahkan saya harus minta maaf padanya. Saya telat mengetahui kiprahnya. Di bidang produksi baterai lithium di dalam negeri. Ini karena Kristian terlalu low profile.

BACA JUGA: Lambatnya Kereta Cepat

Padahal kami sama-sama Arek Suroboyo. Rumahnya pernah pula di dekat rumah saya. Tapi baru hari itu saya kenal dia. Dan kiprahnya. Terlaaaluuuu!

Kalau saja BEM ITS, khususnya himpunan mahasiswa elektro tidak mengadakan acara itu saya tidak bertemu dia. Hari itu saya diminta bicara mobil listrik lagi. Bersama si penari langit Ricky Elson. Dan Prof Nur pembina kendaraan listrik.

Sebenarnya Pak Nur belum guru besar. Tapi saya sudah minta izin memanggilnya profesor.

Ini karena saya tahu kualifikasi Pak Nur. Sudah guru besar. Hanya dia tidak punya waktu mengurus administrasinya. Terlalu sibuk membina mahasiswa ITS. Yang gila kreasi di kendaraan listrik.

Pak Nur sudah bertekad tidak akan jadi guru besar. Gak apa-apa, katanya.

Gak sampai hati pada para aktivis kendaraan listriknya. Sampai-sampai tampilannya masih seperti mahasiswa. Pakai kaus, jean dan rambut panjang.

Selesai seminar, seseorang yang berbadan kurus mencegat saya. Menyalami. Dan menyerahkan kartu nama: Kristian Sutikno.

Bicaranya pelan. Bajunya batik. Sikapnya sangat sopan.

Saya kaget. Ternyata Kristian sudah memiliki pabrik baterai lithium. Di Jogja. Sudah delapan tahun pula.

Terlaaluuu. Kok saya tidak tahu. Padahal, enam tahun lalu saya mencari-cari siapa pengusaha yang mau mendirikan pabrik baterai lithium. Agar Indonesia tidak impor lagi dari Tiongkok.

Waktu itu saya sampai merayu Nippres. Pabrik baterai terbesar di Indonesia. Yang sudah mampu ekspor ke 76 negara.

Saya rayu pemiliknya untuk mau mendirikan unit baru. Khusus lithium. Saya tahu pasar lithium belum besar di Indonesia.

Kebijakan mobil listrik saat itu belum ada. Ternyata sampai sekarang juga belum ada.

“Waktu itu saya tahu Pak Dahlan lagi mendorong lahirnya mobil listrik,” ujar Kristian. Alumnus ITS 1972.

Kini umurnya 53 tahun. “Tapi saya memilih memulainya untuk baterai lampu solar cell jalan raya,” tambahnya.

Pekerjaan mekanikal di baterai untuk kendaraan listrik, katanya, lebih rumit. Dia belum punya tim yang keahliannya di mekanikal.

Saat memulai usaha baru itu, Kristian tidak mau langsung besar. Yang mencakup banyak langkah sekaligus.

Dia ingin satu tahap satu tahap. Saya memahami strategi Kristian seperti itu.

Justru saya menilai Kristian sebagai pengusaha yang tidak gegabah. Orang begini, biasanya, keberlangsungan usahanya lebih panjang. Dan perusahaannya akan lebih kukuh.

Hari itu pembicaraan saya dengan Kristian kurang fokus. Terlalu banyak mahasiswa yang juga ingin mengerubung. Dengan pertanyaan masing-masing. Kami berjanji akan meneruskan pembicaraan di lain waktu.

Saat masuk mobil saya langsung mengeluarkan kartu namanya dari saku. Menyalin nomor ponselnya ke ponsel saya.

Lalu mengiriminya WA. Agar dia juga mencatat nomor saya.

Sejak itu saya sering bertanya lewat WA. Lain waktu saya coba kirim WA jam 04.30. Sebelum saya berangkat olahraga.

Gak segera dibalas juga gak apa-apa. Eh, WA itu langsung bersambut.

Lain waktu lagi saya kirimi dia WA dalam huruf mandarin. Langsung dia jawab begini: saya ini produk jadul pak. Gak bisa baca dan gak tahu artinya.

Kristian memang sudah menyatu dengan masyarakat Surabaya. Sekolahnya pun selalu di sekolah negeri. Sejak SD. Dan SMA-nya di SMAN 7 Surabaya. Dan kuliahnya di ITS pula.

Mengapa pabriknya di Jogja? Ternyata dua orang pemodalnya dari Jogja. Yuniornya saat kuliah di ITS. Dan Kristian mengendalikannya dari Jakarta.

Awalnya Kristian adalah pegawai di perusahaan Taiwan yang bergerak di bisnis panel dan kabel tray. Perusahaan itu ingin mengembangkan usaha.

Kristian diminta mengajukan usulan. Dia usulkan untuk memproduksi lampu LED. Disetujui. Berkembang pesat.

Delapan tahun di perusahaan itu, Kristian keluar. Gabung ke perusahaan yang ingin mengembangkan baterai lithium.

Tapi Kristian tidak lama di sini. Perusahaan maunya hanya dagang. Tidak serius memikirkan perlunya memproduksi sendiri. Inilah yang membuat Kristian terdorong untuk mencari partner. Untuk bikin pabrik sendiri.

Kristian telah mulai melangkah. Nyata. Sekecil apa pun. Tidak sekedar bicara. Bahkan tidak pernah bicara. Langsung jadi.

Dia bukan tipe tong kosong yang ember bunyinya.(***)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menu Kuda


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler