Bayi 20 Hari Selamat dari Maut Tenggelamnya Feri di Kapuas

Kamis, 31 Juli 2014 – 06:47 WIB

KUALA KAPUAS - Tragedi tenggelamnya feri di DAS Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalteng menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Belasan penumpang mulai dari anak-anak hingga orang tua meregang nyawa setelah feri yang melayani penyeberangan Kuala Kapuas ke Kelurahan Panamas, Selasa (29/7) pagi.
    
Namun di balik musibah itu terdapat fakta yang cukup menarik. Di mana, seorang bayi yang baru berumur 20 hari itu selamat dari musibah itu. Adalah Akhila, bayi yang lolos dari maut. Dia selamat dari maut setelah Rusti (36) berjuang menyelamatkannya.
    
Nasib baik Akhila tidak dialami Mursidah (9) yang tidak lain merupakan kakak kandung Akhila. Jenasah Mursidah ditemukan tim SAR, Rabu (30/7) petang.
Rusti mengungkapkan, dirinya bersama anak dan suaminya dari Kota Sampit, Kotawaringin Timur (Kotim) hendak bersilaturahmi ke keluarganya yang ada di Panamas. Ia mengaku sebelumnya tidak memiliki firasat apa-apa saat menaiki feri tersebut.

“Rencananya, setelah bersilaturahmi ke tempat keluarga, saya bersama keluarga saya langsung menuju ke Palampaian, Kalsel untuk ziarah ke makam orang saleh,” kata Rusti kepada Kalteng Pos (Grup JPNN.com) saat ditemui di RSUD dr H Soemarno Sosroatmodjo Kuala Kapuas.

BACA JUGA: Sopir Ngantuk, Tiga Tewas

Dia mengaku saat menaiki feri dirinya mulai takut karena penumpang sudah mulai panik akibat air masuk ke dalam feri. Rusti mengaku, sebelum feri itu tenggelam dirinya bersama para penumpang lain sempat berteriak minta tolong. “Tetapi pada saat itu posisi kapal feri cukup jauh dari tepi sungai. Sehingga teriakan minta tolong sulit didengar,” ujarnya.

Rusti menceritakan setelah berteriak minta tolong dan tidak ada yang menolong, feri itu akhirnya karam. Dia mengungkapkan saat itu masing-masing penumpang berhamburan menceburkan diri ke sungai.

BACA JUGA: Kapal Tenggelam di Nabire, 2 Tewas, 2 Hilang

Saat itu, lanjut dia, banyak suara anak kecil berteriak dan menangis memanggil ayah dan ibunya. “Saat itu saya juga berjuang untuk menyelamatkan anak saya yang masih sangat kecil karena baru berusia 20 hari,” ucap Rusti.  Dia menerangkan saat kapal feri itu tenggelam dirinya mengangkat Akhila ke atas sambil berteriak minta tolong.

Rusti mengaku saat itu dirinya tidak mampu berenang dan hanya berdiam sambil menahan posisi anaknya supaya tidak jatuh ke sungai. “Sambil menangis saya berteriak minta tolong. Karena kondisi saya sudah sangat lelah dan tidak mampu berbuat apa-apa, saya hanya mendengar semua orang yang menjadi korban itu berteriak minta tolong dan ada yang berteriak mencari anak dan istrinya,” papar dia.

BACA JUGA: Feri Berkah Bersaudara tak Layak Berlayar

Rusti menambahkan, tak lama berselang ada warga yang datang dengan menggunakan sebuah perahu kelotok menghampiri dirinya. Ia mengaku saat itu dirinya dan anaknya langsung diangkat ke dalam kelotok tersebut.

“Saya tidak bisa tahu apa yang terjadi seandainya pertolongan itu terlambat datang kepada saya. Karena saat itu saya sudah tidak tahan lagi menahan Akhila di dalam air,” sebutnya.

Rusti mengaku sangat terpukul atas tenggelamnya Mursidah. Dia mengaku, saat itu dia menaiki feri bersama dengan suami dan kedua anaknya tersebut. “Suami saya selamat, tetapi Mursidah tidak. Mursidah itu cantik mas. Dia aktif dan lincah,” kenang Rusti. (bad/art)`

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pangdam XVII Cenderawasih Bantah Anggotanya Ditembak


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler