Bebas Titik Api di Riau, RAPP Tak Bisa Sendiri

'Ada Pemantau Api Pulang Sendiri Bagai Merpati'

Rabu, 15 April 2015 – 15:14 WIB
Presiden Direktur PT RAPP, Toni Wenas (tengah, berkacamata, batik abu-abu) mendampingi Staff Ahli MenLH-Kehutanan, Dr Ir Yeti Rusli. Foto Afni Zulkifli/JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA -- PT Riau Andalan Puld & Paper ambil bagian dalam Indogreen Foresty Expo 2015. Dalam pameran yang digelar di Jakarta Covention Center (JCC) Senayan ini, mereka mengusung tema partisipasi menjaga keseimbangan alam, khususnya pemadaman titik api.

Api dan asap, dua 'bersaudara' yang bertahun-tahun terpaksa dinikmati masyarakat Riau. Presiden Direktur PT RAPP, Toni Wenas menegaskan, kegelisahaan masyarakat ini mesti diatasi bersama.

BACA JUGA: Politikus Golkar Samakan Calo TKI Dengan Nabi Sulaiman

''Harus ada sinergisitas. Kami tak bisa sendiri,'' katanya pada Pekanbaru Pos (JPNN Grup), Rabu (15/4) ditemui di acara pameran.

Ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan, yang disusul asap, tak jarang pihak perusahaan sering dituding menjadi dalangnya. Padahal titik api tersebut, berasal bukan dari lahan yang dikelola perusahaan.

BACA JUGA: AirAsia X Bantu Pulangkan WNI dari Yaman

''Karena itu kami mengimbau masyarakat. Kalau mau buka lahan, jangan dibakar. Biar kami bantu alat berat saja,'' ungkapnya.

Sebagai bentuk dukungan agar terciptanya sinergisitas yang baik, PT RAPP kini punya program mewujudkan Fire Free Village atau desa bebas api.

BACA JUGA: Gelar Perkara Tertunda, Kasus Budi Gunawan Tak Kunjung Ada Kejelasan

Strategic Fire Manager RAPP, Craig Tribolet, menjelaskan program ini bentuk kerjasama perusahaan dan masyarakat, memerangi titik api secara cepat, murah dan mudah.

Caranya, di setiap desa ditempatkan satu personil yang direkrut perusahaan. Pihak perusahaan bersama masyarakat, akan segera turun tangan memadamkan titik api tersebut.

Tak hanya itu, bagi desa yang bisa bebas titik api, diberikan reward (penghargaan) sebesar Rp100 juta. Tahun 2014 lalu, ada tiga desa yang mendapatkan reward tersebut.

Saat ini ada 9 desa yang sedang menjalankan program Fire Free Village. Diantaranya desa Pulahuda, Teluk Meranti, Segemai, Kuala Tolam, Sering, Pelalawan, Petudakan, Teluk Binjai dan Kuala Panduk. Semuanya berada di Kampar.

''Kami juga melakukan pemantauan cuaca. Bila cuaca tidak baik saat terjadi kebakaran lahan, masyarakat langsung kami beri peringatan,'' jelas Craig.

Pria asal Australia itu menambahkan, tujuan program ini untuk mengembangkan kemampuan operasional pemadaman titik api hingga ke tingkat desa.

''Kami membuka pintu komunikasi dengan para kepala desa,'' katanya.

Program ini pun sangat membantu deteksi dini dan respon cepat, bila terjadi kebakaran lahan di luar konsesi tapi berdekatan dengan konsesi RAPP.

''Masyarakat bagi kami adalah mitra untuk menjaga lingkungan,'' kata Craig.

Indogreen Foresty Expo 2015, diikuti oleh 100 peserta. Mulai dari perusahaan perkebunan, hutan, Pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya.

Staff ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dr Ir Yeti Rusli, mengatakan pameran ini bermanfaat untuk menunjukan potensi alam milik Indonesia.

''Keberadaan hutan, bagaikan obat bagi dunia. Menjaga hutan hari ini, adalah warisan terbaik bagi anak cucu kita nanti,'' katanya.

Pemantau Api Bagai Merpati

Usai membuka acara, Dr Ir Yeti Rusli sempat berkeliling meninjau beberapa stand pameran. Ia cukup lama berada di stand PT RAPP. Ada satu pajangan yang menarik tampilannya.

Bentuknya seperti helikopter segi empat. Ada empat baling-baling di tiap sisinya. Ukurannya kecil seperti buku. Ringan, cukup diangkat dengan sebelah tangan.

''Namanya Phantom 2 Vision. Ini alat pemantau titik api,'' jelas Strategic Fire Manager RAPP, Craig Tribolet.

''Jadi memantau api kini tak perlu helikopter. Cukup terbangkan alat ini dan kami bisa memantaunya dari darat,'' tambahnya.

Yeti yang didampingi Presdir PT RAPP tampak menyimak penjelasan Craig.''Alat ini bisa terbang dengan ketinggian 300 meter dan jarak tempuh dari remot hingga 2 Km,'' katanya.

Phantom 2 Vision, memiliki daya utama dari batrai. Ada tiga batrai. Masing-masing batrai bisa beroperasi hingga 20 menit.

''Kecanggihannya, alat ini seperti merpati,'' tambah Lina, staff Strategic Fire RAPP.

''Kalau batrainya sudah mau habis atau hilang sinyal dari kontrol, dia akan pulang sendiri ke titik awal dioperasikan,'' tambahnya.

Penjelasan ini membuat decak kagum Dr Yeti.''Wah, seperti merpati aja ya. Sejauh terbang tetap ingat pulang,'' katanya disambut gelak tawa.

Phantom 2 Vision bukan satu-satunya upaya keterlibatan RAPP untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di Riau. Perusahaan ini aktif memberikan bantuan bila ada kejadian dan memprioritaskan pendekatan pada masyarakat.

''Inilah wujud nyata partisipasi kami. Selama 24 jam, titik api kita pantau,'' kata Presdir RAPP, Toni Wenas.

Toni mengatakan, sinergisitas PT RAPP dengan masyarakat, memang menjadi prioritas mereka. Apalagi perusahaan ini sudah lebih 20 tahun beroperasi.

''Kami tak bisa sendiri, tanpa ada dukungan dan peran serta masyarakat. Termasuk juga pemerintah tentunya,'' kata Toni.(afz/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Grace: Buya Syafii Penarik Garis Tegas Antara Hitam dan Putih


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler