Begini BPA Bermigrasi dari Kemasan Plastik ke Air

Selasa, 16 Februari 2021 – 19:47 WIB
Ketua Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) Roso Daras. Foto: dokumen pribadi

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Perkumpulan Jurnalis Peduli Kesehatan dan Lingkungan (JPKL) Roso Daras menjelaskan, kemasan plastik polikarbonat dengan kode plastik nomor tujuh mengandung Bisphenol A atau BPA yang berbahaya ini melakukan migrasi dari kemasan plastik ke air yang disimpannya.

Menurut Danish Ministry of the Environment dalam tulisan Environment project no 1710 tahun 2015 tentang Migration of Bisphenol A from Polycarbonate Plastic of different qualities, berkesimpulan bahwa pelepasan BPA dari PC dalam kontak dengan simulasi makanan berkorelasi positif dengan suhu (T) dan waktu (t) kontak.

BACA JUGA: Ketua JPKL Roso Daras Sebut Bahaya BPA Bukan Hoaks

Pada suhu yang lebih rendah (misalnya 0-70 celsius) pelepasan BPA lambat dan dikendalikan oleh difusivitas dalam jumlah besar dan polimer padat.

"Pelepasan BPA lambat ini tentu saja tetap berbahaya. Karena walaupun kecil jumlah migrasi BPA-nya, tetap saja dapat mencemari makanan atau minuman," ungkap Roso Daras lewat keterangannya.

BACA JUGA: Puluhan Hotel di Bandung Dijual

Begitu juga dengan galon guna ulang yang berkode plastik Nomor tujuh. Tidak pernah ada yang tahu bagaimana galon guna ulang tersebut mengalami beberapa kali paparan matahari.

Saat baru keluar dari pabrik kemudian diangkut dengan truk menuju ke gudang distributor. Kemudian, kata dia, dari distributor dikirim ke star outlet juga menggunakan truk, dari star outlet dikirim ke toko-toko, semua menggunakan truk. Yang sangat mungkin terkena paparan matahari.

BACA JUGA: Usai Berhubungan di Kamar dengan Selingkuhan, Wanita Muda Itu Tiba-tiba...

"Kemudian saat dipajang di toko-toko tak sedikit yang terkena matahari juga. Saat galon mengalami pencucian, untuk kemudian digunakan lagi, galon disemport dengan air panas bersuhu sekitar 70 derajat celcius. Nah pada kesempatan ini, galon mengalami pemanasan yang bukan tidak mungkin mengaktifkan zat BPA yang berbahaya," katanya.

BPA yang luruh ke air tentu saja sangat berbahaya bagi bayi, balita dan janin pada ibu hamil. Botol susu bayi sudah diwajibkan terbebas dari BPA, karena bersentuhan langsung.

Air yang digunakan untuk mencampur susu bubuk, harus juga terbebas dari bahan yang mengandung BPA.

"Kalau botolnya sudah free BPA, tetapi airnya dari galon yang belum free BPA hal itu jelas sangat berisiko," kata Roso Daras.

Bahaya terpapar BPA dapat mengakibatkan terganggunya hormonal, perkembangan organ tubuh dan perilaku serta gangguan kanker di kemudian hari.

"Jadi soal bagaimana migrasi BPA ke air, jelas faktor yang menentukan adalah suhu dan lamanya kontak dengan galon yang berkode plastik nomor tujuh tersebut. Makin panas dan kian lama, maka konsentrasi BPA makin tinggi. Misal, galon guna ulang yang berbahan polikarbonat diangkut dari pabrik menuju gudang dan terkena paparan matahari, disitu jelas berpegaruh kepada pelepasan BPA," ungkap Roso Daras.

Masih menurutnya, walaupun kecil sekali adanya nilai migrasi akan tetapi itu tetap ada dan berpotensi meninggalkan residu pada produk. Belum lagi jika galon tersebut berkali-kali digunakan.

"Pertanyaannya, sampai berapa kali galon berkode plastik nomor tujuh tersebut digunakan? Atas dasar apa produsen mengetahui galon tersebut sudah digunakan berapa kali?" ungkapnya.

Permenperin sebenarnya mengatur mengenai pemberlakuan SNI secara wajib untuk produk AMDK yang merevisi peraturan tahun 2016. Terdapat suatu acuan dalam pencucian kemasan galon yang pakai ulang dalam suatu Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 26 tahun 2019. Pada halaman 31 ada metode pencucian kemasan pakai ulang dengan menggunakan detergen foodgrade dengan suhu 55-75C.

"Sayangnya, hingga kini belum ada peraturan pemerintah tentang penggunaan kemasan plastik berbahan polikarbonat dengan kode nomor tujuh yang digunakan berulang kali secara mendetail, seperti bagaimana standar distribusinya, bagaimana standar kualitasnya dan standard bagaimana mencegah agar BPA yang berbahaya tidak terlepas dan bermigrasi larut dalam air," kata dia.

Itu sebabnya, Roso Daras mendesak BPOM untuk memberi label pada galon guna ulang supaya tidak dikonsumsi oleh bayi, balita dan janin. "Mengingat wadahnya mengandung BPA," katanya. (rhs/jpnn)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
BPA   JPKL   BPOM   BPA Dalam Kemasan  

Terpopuler