Begini Jurus Kementan Hadapi Ancaman Demam Babi Afrika

Selasa, 15 Oktober 2019 – 21:35 WIB
Babi di peternakan. Ilustrasi/foto: AP

jpnn.com, JAKARTA - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kemetan mengantisipasi potensi penyebaran wabah penyakit hewan demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) ke Indonesia. Tindakan kewaspadaan dini ASF telah dimulai sejak adanya notifikasi kejadian wabah ASF di Cina pada September 2018.

Dirjen PKH I Ketut Diarmita mengatakan, hal tersebut diwujudkan dalam bentuk tindakan teknis yang meliputi deteksi cepat, pelaporan sigap dan penanganan tepat.

BACA JUGA: Gawat, Wabah Demam Babi Afrika Sudah Sampai Timor Leste

“Hal yang mengkhawatirkan dari penyebaran penyakit ASF ini adalah belum ditemukannya vaksin untuk pencegahan penyakit dan virusnya sangat tahan hidup di lingkungan serta relatif lebih tahan terhadap disinfektan. Hal tersebut yang menyebabkan penyebaran ASF sulit ditahan dibanyak negara, bahkan bagi negara-negara maju,” kata Ketut di Jakarta, Selasa (15/10).

Menurut Ketut, Asia Tenggara dinilai rawan tertular ASF. Kerugian akibat ASF ini akan dirasakan oleh semua pemangku kepentingan, oleh karena itu perlu upaya bersama untuk mencegah sedini mungkin, melakukan kerjasama dengan berbagai pihak terkait, baik di tingkat pemerintah pusat, pemerintah daerah, stakeholder tekait dan masyarakat.

BACA JUGA: Penjualan Dendeng Babi Bikin Warga Aceh Resah

“Kita harus menentukan kebijakan yang cepat dan tepat, serta untuk menyamakan pola pandang terkait ancaman dan langkah-langkah strategis yang harus dilakukan untuk mencegah masuk, dan kemungkinan menyebarnya penyakit ini,” terang Ketut.

Lanjut Ketut menjelaskan bahwa dalam rangka melindungi sumber daya alam dari ancaman ASF, diperlukan adanya kebijakan ketat terhadap importasi babi hidup dan produk-produk daging babi, terutama dari negara-negara yang tertular ASF.

BACA JUGA: Babi Seberat 300 Kg Ini Dilarang Untuk Berjalan Di Tanah Pemerintah

“Saya menyadari bahwa mempertahankan status bebas ASF merupakan tantangan yang sangat besar, namun kita harus tetap optimistis dan berkontribusi seoptimal mungkin sesuai dengan peran kita masing-masing, sehingga Indonesia dapat benar-benar tetap bebas dari ancaman ASF,” jelasnya.

Ketut menyampaikan, Kementan telah menyusun pedoman kesiapsiagaan darurat veteriner ASF, yang mana terdapat empat tahapan pengendalian dan penanggulangan apabila terjadi kasus ASF yakni tahap Investigasi, tahap Siaga, tahap operasional, dan tahap pemulihan. Berdasarkan kajian analisis risiko, ada beberapa faktor yang menyebabkan masuknya ASF ke Indonesia di antaranya melalui pemasukan daging babi dan produk babi lainnya, sisa-sisa katering transportasi intersional baik dari laut maupun udara, serta orang yang terkontaminasi virus ASF dan kontak dengan babi di lingkungannya.

Lanjut Ketut menjelaskan, langkah strategis utama dalam mencegah terjadi ASF adalah melalui penerapan biosekuriti dan manajemen peternakan babi yang baik. Ketut juga meminta daerah yang berisiko tinggi untuk dapat segera dilakukan pengawasan yang ketat dan intensif.

“Penerapan biosekuriti yang benar perlu dipahami oleh seluruh peternak khususnya peternak babi sehingga menjadi tanggung jawab kita semua untuk memotivasi peternak dengan memberikan informasi dan edukasi,” tandas Ketut. (cuy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler