Bela Muslim Uighur, Amerika Haramkan Bahan Panel Surya dari China

Kamis, 24 Juni 2021 – 21:28 WIB
Ilustrasi panel surya. Foto: Antara/wikipedia.org

jpnn.com, WASHINGTON DC - Pemerintah Amerika Serikat menetapkan larangan impor atas bahan utama panel surya dari Hoshine Silicon Industry Co yang berbasis di China atas tuduhan kerja paksa.

Departemen Perdagangan AS secara terpisah membatasi ekspor ke Hoshine, tiga perusahaan China lainnya dan Xinjiang Production and Construction Corps (XPCC) yang bercorak militer, dengan mengatakan mereka terlibat dengan kerja paksa orang Uyghur dan kelompok minoritas Muslim lainnya di Xinjiang.

BACA JUGA: Amerika Cs Gelar Konferensi Internasional tentang Muslim Uighur, China Panik

Tiga perusahaan lain yang ditambahkan ke daftar hitam ekonomi AS termasuk Xinjiang Daqo New Energy Co, sebuah unit dari Daqo New Energy Corp; Xinjiang East Hope Nonferrous Metals Co, anak perusahaan dari raksasa manufaktur East Hope Group yang berbasis di Shanghai; dan Xinjiang GCL New Energy Material Co, bagian dari GCL New Energy Holdings Ltd.

Departemen Perdagangan mengatakan perusahaan dan XPCC telah terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia dan pelanggaran dalam pelaksanaan kampanye China atas penindasan, penahanan sewenang-wenang massal, kerja paksa dan pengawasan teknologi tinggi terhadap etnis Uighur, Kazakh, dan anggota lain dari kelompok minoritas muslim di Xinjiang.

BACA JUGA: Bungkam Pembenci China, Akademisi Uighur Sebut Semua Etnis Hidup Bahagia di Xinjiang

Setidaknya beberapa perusahaan yang terdaftar di Departemen Perdagangan adalah produsen utama silikon monokristalin dan polisilikon yang digunakan dalam produksi panel surya.

Perusahaan atau perusahaan induknya tidak segera menanggapi permintaan komentar, atau tidak dapat segera dihubungi. XPCC tidak dapat segera dihubungi untuk dimintai komentar.

BACA JUGA: Alhamdulillah, Populasi Muslim Uighur di China Terus Bertambah

Ketika dimintai komentar, kedutaan besar China di Washington menyebut pernyataan pada Selasa oleh juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian yang menolak tuduhan genosida dan kerja paksa di Xinjiang sebagai "tidak lain hanyalah rumor dengan motif tersembunyi dan kebohongan yang benar-benar bohong."

"Perintah Menahan Pelepasan" oleh Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS itu hanya memblokir impor materi dari Hoshine. Sebuah sumber yang mengetahui perintah tersebut mengatakan bahwa hal itu tidak berdampak pada sebagian besar impor polisilikon AS dan produk berbasis silika lainnya.

Sumber kedua mengatakan langkah itu tidak bertentangan dengan tujuan iklim dan dukungan Presiden Joe Biden untuk industri surya domestik.

Pemerintahan Biden pada Maret mengumumkan target untuk memotong biaya energi surya sebesar 60% dalam 10 tahun ke depan. Presiden Biden telah menetapkan tujuan jaringan listrik bersih 100% pada 2035.

Sumber tersebut mengatakan Amerika Serikat terus menyelidiki tuduhan kerja paksa oleh perusahaan China yang memasok polisilikon.

Wilayah Xinjiang menyumbang sekitar 45% dari pasokan polisilikon tingkat surya dunia, demikian pernyataan sebuah laporan oleh analis industri surya.

Dua sumber yang mengetahui kebijakan tersebut mengatakan Gedung Putih melihat tindakan tersebut sebagai "kelanjutan alami" dari perjanjian G7 awal bulan ini untuk menghilangkan kerja paksa dari rantai pasokan.

"Kami melihat tiga tindakan ini sebagai perwujudan komitmen itu," kata salah satu sumber. "Kami percaya tindakan ini menunjukkan komitmen untuk mengenakan biaya tambahan pada China karena terlibat dalam praktik kerja paksa yang kejam dan tidak manusiawi."

XPCC, sebuah organisasi paramiliter yang dikirim ke Xinjiang pada 1950-an untuk membangun pertanian dan permukiman, tetap kuat di sektor energi dan pertanian di kawasan itu, beroperasi hampir seperti negara.

Pemerintahan-pemerintahan asing dan para aktivis hak asasi manusia mengatakan telah menjadi kekuatan dalam tindakan keras dan pengawasan terhadap Uighur di wilayah tersebut, menjalankan beberapa kamp penahanan. Departemen Keuangan AS tahun lalu memberi sanksi kepada XPCC karena "pelanggaran serius hak terhadap etnis minoritas." (ant/dil/jpnn)


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler