BEM Unnes Sebut Puan 'Queen of Ghosting', Arteria Dahlan Meradang, Begini Kalimatnya 

Rabu, 07 Juli 2021 – 17:55 WIB
Arteria Dahlan. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Setelah Presiden Jokowi mendapat julukan 'King of lip service', kini giliran Ketua DPR RI Puan Maharani disebut sebagai 'Queen of Ghosting' oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Semarang (Unnes). 

Kritik BEM Unnes disampaikan melalui sebuah konten yang diunggah akun Instagram BEM KM Unnes juga menyebutkan Wakil Presiden Ma'aruf Amin sebagai 'King of Silent'. 

BACA JUGA: Arteria Dahlan Sentil Kejaksaan Agung Terkait Penahanan Ketua BPA Asuransi Bumiputera 1912

Politikus PDI Perjuangan Arteria Dahlan mengaku sedih dan prihatin atas kritikan tersebut.

Dia menyebutkan terlalu mudah bagi mahasiswa untuk melontarkan stigma tersebut. 

BACA JUGA: Gus Jazil Singgung Soal PDIP di Daerah Banyak Pasang Gambar Puan Maharani

"Saya menanyakan paham enggak sih apa yang disampaikan? Kok, dangkal sekali ya, hanya dengan mendasarkan pada beberapa fakta atau bahkan kepingan suatu fakta yang tidak utuh," kata Arteria dalam keterangan tertulisnya yang diterima JPNN.com, Rabu (7/7). 

Anggota Komisi III DPR RI itu juga menyebutkan fakta-fakta yang disampaikan oleh BEM Unnes itu bahkan belum melalui uji publik. 

BACA JUGA: Hebat, Prof Richard Claproth Temukan Ramuan yang Mampu Sembuhkan Pasien Covid-19

"Tiba-tiba melakukan kesimpulan seperti itu, yang bahkan cenderung menista, memfitnah dan menyerang kehormatan seseorang. Apalagi orang tersebut kepala lembaga tinggi negara dan kepala lembaga kepresidenan," lanjutnya. 

Dia bahkan membandingkan kritikan yang dilakukan BEM Unnes dengan mahasiswa ketika dirinya masih duduk di bangku perkuliahan. 

"Saya dulu pernah (menjadi) mahasiswa. Zaman saya dulu untuk bersikap (belum turun ke jalan) harus melalui rangkaian diskusi-diskusi yang melibatkan kegiatan riset, kajian, dan uji publik," kata dia. 

Politikus berdarah Minang itu menyebutkan nilai kritikkan yang diberikan oleh mahasiswa saat ini berbeda jauh dengan mahasiswa di zaman itu. 

"Sekarang nilainya jauh berbeda, apalagi berlindung di balik kata "mengkritik", padahal sudah patut diduga itu bukan kritik tetapi ada indikasi sengaja menista," tutur Arteria Dahlan.(mcr8/jpnn)


Redaktur & Reporter : Kenny Kurnia Putra

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler