Berawal dari Mimpi, Alfian dan Rika Mengucap Syahadat, jadi Mualaf

Minggu, 11 Juni 2017 – 00:45 WIB
Rika Liwati saat mengucapkan syahadat di Masjid Baitussyuja’ Polda Kalteng. Foto: Dodi/Radar Sampit/JPNN.com

jpnn.com - Semua berawal dari mimpi. Juga kebiasaan. Putri pasangan suami istri, Alfian dan Rika Liwati, acapkali menjawab salam khas umat muslim, assalamualaikum, saat bertandang ke rumah tetangga.

Akhirnya, Alfian, Rika, dan dua putrinya; Suci Elisa (4) dan Fitria Andriani (3), memilih untuk memeluk Islam.

BACA JUGA: Kisah Gatot Brajamusti dan Penyelundup Sabu yang Kini Mualaf

DODI ADHYAKSA, Palangka Raya

Keluarga itu mengikrarkannya, mengucap kalimat syahadat, di hadapan puluhan jamaah Masjid Baitussyuja' Polda Kalteng usai salat Jumat (9/6).

BACA JUGA: Ramadan Datang, Semoga Teroris Hilang dan Masyarakat Tenang

Alfian yang merupakan anggota ormas LSR itu menggunakan peci, didampingi tetangganya terlihat khusyuk saat mengucapkan dua kalimat syahadat.

Sedangkan Rika dibalut kerudung putih juga tampak lancar mengucapkan syahadat di hadapan ustaz HM Suyalin, selaku pembimbing mualaf.

BACA JUGA: Tak Usah Mengusik Agama Orang Lain

Dengan kesederhanaan dan suasana kekeluargaan, ikrar syahadat diucapkan Alfian dan Rika. Tanpa kesalahah keduanya mengikuti perkataan ustaz Suyalin.

Tampak bibir keduanya bergetar dan air mata menetes saat syahadat dituturkan. Sang anak Suci dan Fitria pun terlihat bahagia dan memeluk kedua orangtua mereka itu.

Disaksikan Ketua IJTI Hamli Tulis, Dir lantas Polda Kalteng Kombes Pol Muhammad Taslin, Ketua LSR Agantis, dan puluhan jamaah masjid, status muslim bagi Alfian dan Rika resmi disandang. Warga pun berucap semoga hidayah selalu diberikan kepada mereka.

Kepada Radar Sampit (Jawa Pos Group), Alfian bertutur sudah hampir satu tahun ini menyimpan hasrat memeluk Islam dan menjadi mualaf.

Berbagai pergolakan hati dan keadaan pun dirasakan untuk lebih menyakinkan keputusan itu. Dia pun sampai menangis, tetapi semakin yakin pilihan ini benar dan tepat.

Tiga bulan belakangan, akhirnya dia mengajak sang istri mendiskusikan keputusan memeluk agama Islam. Gayung bersambut. Sang istri juga tanpa membantah menyetujui keputusan itu. Terlebih hampir setiap hari selalu bermimpi masuk agama Islam.

”Ini dari hati, tidak ada paksaan. Niat ini sudah satu tahun, lebih kuat tiga bulan belakangan ini. Saya sampai menangis hingga hari ini di bulan penuh ampunan, saya dan istri sepakat untuk mengucapkan dua kalimat syahadat,” ucap Alfian.

Alfian menyebutkan, langkah dan keputusan memeluk agama Islam memang dari hati. Tidak ada sedikit pun paksaan dari orang lain.

”Karena niat dari hati sendiri. Karena saya melihat anak saya, selalu kalau ke tempat tetangga selalu mengucap salam. Dari situ langsung hati langsung terketuk. Sekitar satu tahun merenungkan dan mantapnya baru-baru ini,” ungkapnya masih terlihat meneteskan air mata.

Alfian menerangkan, dengan status baru ini dia ingin lebih mengetahui tentang islam, belajar salat, belajar mengaji, dan hal lain menyangkut Islam.

”Banyak lagi yang harus saya lakukan. Mohon bimbingan dan dukungannya semua hati ini tetap kokoh hingga ajal menjemput .Yakni dalam agama Islam apapun keadaan dan kondisinya,” tutur pria berprofesi sebagai buruh bangunan itu.

Sementara itu, Rika Liwati menyebutkan sebelum memutuskan dan sepakat bersama sang suami memeluk Islam dan menjadi mualaf, dirinya selalu bermimpi bertemu pria bersurban putih dan membukakan pintu. Dengan pandangan indah dan penuh taman bunga.

”Iya saya bermimpi, mampi itu sangat indah dan sulit untuk dikatakan. Ada taman dan seseorang menuntun ke sesuatu lebih baik. Saya masuk Islam ini karena hati dan memang sudah lama ingin,” ungkapnya.

Rika menerangkan, tak hanya bermimpi, dorongan lain juga berasal dari sang anak. Karena setiap kali berkunjung ke rumah orang lain. Anaknya selalu mengucapkan salam, walaupun masih terbata-bata.

”Anak saya ini selalu mengucapkan salam bila ke tempat orang lain. Nah itu salah satu faktornya, tapi intinya ini dari hati kami,” pungkasnya.

Sementara itu, Ustaz Suyalin, selaku pembimbing mualaf mengatakan masyarakat berkewajiban menyantuni Alfian dan istri sampai dua tahun. Kemudian, harus dinikahkan ulang sesuai syariat Islam dan tata cara Islam.

”Sambil berjalan, kita bimbing mereka untuk menjalankan perintah dalam Islam. Salat walaupun belum hafal dan banyak bertanya tentang Islam, jangan malu bertanya,” tutupnya. (daq/dwi)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Cinta Ditolak Putri Pak Camat, Pria Mualaf Menikahi Gadis Buta Lumpuh


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
mualaf   Syahadat   Islam  

Terpopuler