Berkaca dari Palu, Bupati Usul Bandara Alternatif ke Jokowi

Jumat, 05 Oktober 2018 – 21:49 WIB
Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi mengusulkan agar bandara alternatif dibangun di Sumbar. Foto: jawapos

jpnn.com, LIMAPULUH KOTA - Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi, sangat setuju dan mendukung wacana pembangunan bandara baru atau alternatif di Sumbar untuk mitigasi bencana.

Wacana yang disuarakan para aktivis, pengamat, kepala daerah, dan jurnalis di Provinsi Tuah Sakato, ini, mengingat Sumbar juga memiliki potensi ancaman bencana gempa dan tsunami.

BACA JUGA: Pengiriman 1,3 Ton Rendang ke Palu Terkendala Transportasi

Dukungan pembangunan bandara baru untuk mitigasi bencana itu disampaikan Irfendi Arbi saat berpidato di hadapan Menteri Pertanian Amran Sulaiman yang berkunjung ke Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Selasa lalu (2/10).

Apalagi melihat kejadian gempa di Palu yang melumpuhkan bandara.

BACA JUGA: Polres - BPBD Ikut Kirim Bantuan

"Saat ini, manggis dari Limapuluh Kota sudah diekspor secara resmi dan legal ke Tiongkok. Sebelumnya, gambir yang dihasilkan para petani kita juga sudah diekspor ke India. Begitu pula dengan kakao dan jeruk Siam Gunuang Omeh, itu sudah dikirim untuk memenuhi pasar regional. Ke depan, untuk mendukung ekspor dan distribusi seluruh komoditi pertanian dan perkebunan ini, memang kita di Limapuluh Kota, sudah membutuhkan bandara," kata Irfendi Arbi.

Sambil mengurai sejarah perjuangan bangsa di Limapuluh Kota, terutama sekali sejarah lahirnya Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di kabupaten ini semasa Agresi II Belanda 1948-1949, Irfendi Arbi pun bercerita tentang daerah ini yang dulu punya bandara.

BACA JUGA: Tanggapi Penjarahan, Kepala BIN: Situasi Sudah Terkendali

"Selain basis perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, dulu kala, di Limapuluh Kota juga sudah ada Bandar Udara Pak Menteri. Namanya, Bandara Piobang. Sampai sekarang pun, lahannya masih ada," kata Irfendi Arbi.

Mantan anggota DPRD Padang ini mengaku belum melakukan kajian secara detail, apakah Bandara Piobang yang sudah ada sejak zaman Belanda dan kini menjadi aset dari Lanud Padang, masih bisa dioperasikan.

"Kita tidak tahu, apakah landasan pacu Bandara Piobang, masih bisa digunakan atau tidak. Tapi memang, melihat keunggulan komoditi yang dihasilkan masyarakat Limapuluh Kota, kita sudah butuh bandara. Selain untuk mendukung ekspor komoditi unggulan yang saya sebut tadi, bandara ini juga diperlukan untuk mitigasi bencana. Jika sewaktu-waktu terjadi bencana seperti di Palu dan Donggala, saat ini," kata Irfendi Arbi.

Ketua DPC PDIP Limapuluh Kota ini mengaku, pernah menyampaikan soal keberadaan Bandara Piobang langsung kepada Presiden Jokowi.

"Tapi, memang belum saya sempat bicara panjang lebar kepada Pak Presiden. Tapi Pak Presiden sempat bertanya, mana proposalnya. Dan sampai kini, memang belum saya teruskan, karena saya tidak tahu, harus lewat meja mana bisa sampai kepada Pak Presiden," kata Irfendi Arbi dengan nada merendah, seraya berharap Menteri Amran dapat meneruskan gagasan Bandara kepada Presiden.

Sebelumnya, wacana pembangunan bandara baru di Sumbar, terutama Bandara yang bisa difungsikan untuk mitigasi bencana, sudah lama diserukan para aktifitis, jurnalis, dan pemerhati di provinsi ini.

Bahkan, Wali Kota Payakumbuh Riza Falepi yang bertetangga dengan Limapuluh Kota, juga sudah lama menyerukan tentang pentingnya membangun bandara baru di Sumbar untuk mitigasi bencana dan logitik, jika sewaktu-waktu terjadi megathrust di daerah ini.

"Dari dulu, pemikiran seperti itu (pembangunan bandara baru di Sumbar,red) sudah kita sampaikan. Tujuan kita dulu mengapungkan gagasan pembangunan bandara, memang untuk mitigasi bencana dan logistik. Dua inilah yang akan dikembangkan," kata Riza Falepi Padang Ekspres, Juli lalu.

Riza menyebut, sudah ada perantau yang bersedia memberikan tanahnya kepada pemerintah kota untuk pembangunan bandara mitigasi bencana dan logistik tersebut. "Terlepas tanahnya bermasalah atau tidak, ada perantau yang memberikan tanah kepada kita sekitar 300 hektare. Lokasinya memang di Limapuluh Kota. Cuma, tidak ada respons dari pemerintah kabupaten. Akhirnya saya hanya bisa diam saja," kata Riza Falepi.

Menurut Riza, tanah seluas 300 hektare untuk pembangunan bandara mitigasi bencana dan logistik, memang diamanahkan oleh perantau tersebut kepada dirinya. "Tanah itu memang diamanahkan kepada saya sebagai pencetus ide ini (pembangunan bandara-red). Tapi, saya juga tidak bisa jalan, kalau seandainya pemerintah kabupaten tidak respons," kata Riza Falepi.

Kini, setelah tiga bulan Riza Falepi memberi komentar kepada awak media, Bupati Limapuluh Kota Irfendi Arbi secara lugas merespons wacana pembangunan Bandara. Bahkan, Irfendi ikut pula menyuarakan langsung kepada menteri di kabinet Jokowi-JK yang berkunjung ke Limapuluh Kota.

Melihat sudah adanya respons ini dari pucuk pimpinan Pemkab Limapuluh Kota, banyak pihak berharap, Wali Kota Payakumbuh dan Pemkab Limapuluh Kota, kembali menyamakan persepsi soal pembangunan Bandara baru di Sumbar, untuk mitigasi bencana ini.

"Walaupun kami bisa prediksi, Pak Bupati dan Pak Wako akan berbeda pilihan dalam Pilpres nanti. Tapi untuk pembanguna bandara, kami berharap kedua pemimpin ini bisa kembali menyamakan persepsi. Apalagi, kalau memang sudah ada tanahnya," kata EKS Indra, seorang pemerhati sosial kemasyarakatan di Luak Limopuluah.

Menurut EKS Indra, pembangunan Bandara sebenarnya bukanlah sesuatu yang muluk-muluk. Apalagi, bandara untuk mitigasi bencana. "Dan ini pun, juga sejalan dengan program nasional. Dimana, dalam kurun 2015-2017, sudah 11 bandara baru yang dibangun pemerintah pusat dan 397 kilometer jalan tol," ujar Eks Indra. (frv)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Perjuangan Atina Lolos dari Gempa, Lahirkan Bayi Kembar Tiga


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler