Bersandar di Papua, Kapal Greenpeace Dukung Hutan Adat

Rabu, 14 Maret 2018 – 14:52 WIB
Rainbow Warriors di Manokwari. Foto: KLHK

jpnn.com, MANOKWARI - Kapal legendaris Greenpeace Rainbow Warrior kembali berlayar ke Indonesia dengan menjadikan Bumi Cendrawasih Papua sebagai pintu masuk utamanya.

Tema pelayaran Rainbow tahun ini adalah 'Perubahan Iklim dan Kekuatan Masyarakat' (Climate Change and People Power). Pada tur kali ini, Greenpeace akan menampilkan cerita keberhasilan Kampung Manggroholo dan Sira di Papua mendapatkan izin hak pengelolaan Perhutanan Sosial dengan skema Hutan Desa.

BACA JUGA: Perhutanan Sosial, Forest for People

“Karena hutan itu untuk rakyat, maka program yang sedang dikerjakan sejak tahun 2015 adalah Perhutanan Sosial. Inti perhutanan sosial adalah bagaimana keadilan itu diwujudkan” ucap Direktur Jenderal Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Kementeri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Bambang Supriyanto, saat menyambut kedatangan kapal Rainbow Warrior di Manokwari, Senin (12/3).

Program Perhutanan Sosial yang tengah didorong pemerintah bertujuan untuk mengurangi konflik, ketimpangan lahan, mengurangi pengangguran, dan kemiskinan masyarakat setempat di sekitar hutan. Sejuah ini telah dialokasikan lahan kawasan hutan seluas 12,7 juta hektare untuk Perhutanan Sosial dalam bentuk Hutan Desa, Hutan Kemasyarakatan, Hutan Tanaman Rakyat, Kemitraan Kehutanan dan Hutan Adat.

BACA JUGA: Manggala Agni Siap Meniadakan Api yang Membakar Hutan

Untuk menyelamatkan hutan dan lingkungan, menurut Bambang dibutuhkan sebuah gerakan publik. Banyak kemajuan yang telah dicapai Indonesia dengan adanya gerakan publik, misalnya menurunnya laju deforestasi, tidak ada asap lintas negara dan Ratifikasi Paris Agreement dan Ratifikasi Konvensi Minamata.

BACA JUGA: Mewujudkan Palembang Bersih Jelang Asian Games 2018

Bambang menjelaskan, sejak 2015-2017 laju deforestasi menurun dari 1,7 juta ha/tahun menjadi 435 ribu ha/tahun. Begitu juga asap lintas negara, pada tahun 2017 sudah tidak ada lagi. Jika di tahun 2015 terdapat asap lintas batas 21 hari, tahun 2016 empat hari, dan tahun 2017 nol hari.

“Itu sudah merupakan prestasi yang sangat baik dalam konteks gerakan publik. Diharapkan melalui gerakan publik rainbow, prestasi tersebut akan dipertahankan. Sehingga hutan lestari dan masyarakat sejahtera,” ujar Bambang.

Kapal Rainbow Warrior mulai merapat di Manokwari, Papua pada tanggal 11 Maret, kemudian ke Raja Ampat hingga 18 Maret, dan selanjutnya berlayar ke Bali hingga tanggal 16 April. Setelah itu kapal akan berlayar ke Jakarta, dan singgah di Karimun Jawa dan Semarang pada tanggal 9 Mei, untuk kemudian melanjutkan pelayaran ke Songkhla, Thailand. “Selamat datang Rainbow Warrior (laskar pelangi) dan selamat berjuang,” ucap Bambang.

Dalam penyambutan merapatnya kapal Rainbow Warrior di Darmaga Pelabuhan Manokwari, hadir juga Wakil Gubernur Papua Barat, Sekretaris Daerah Provinsi Papau Barat, Forkompinda Papua Barat, Kepala Unit Pelaksana Teknis KLHK di Papua Barat, dan wakil Instansi terkait.

Setelah selesai penyambutan dilakukan peninjauan kapal yang merupakan kapal yang ramah lingkungan, antara lain karena 70 persen energi dalam pelayaran Rainnow Warior memanfaatkan energi angin/menggunakan layar, dan dilengkapi dengan pengelolaan sampah internal.

Acara dilanjutkan dengan seminar bertemakan “Perhutanan Sosial, Pengakuan Wilayah Adat dan Komitmen Investasi di Tanah Papua” dengan narasumber utama Direktur Jenderal PSKL yang menyampaikan paparan tentang proses dan perkembangan penetapan hutan adat di Indonesia. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Presiden Jokowi Melepasliarkan 500 Burung di Bogor


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler