BI Buka-bukaan soal Keuntungan Transaksi LCS, Mantap!

Kamis, 09 September 2021 – 06:00 WIB
BI membuka data keuntungan dari transaksi menggunakan mata uang lokal atau LCS. Ilustrasi mata uang lokal dalam LCS: Elvi/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Indonesia benar-benar merealisasikan upaya dalam mengurangi ketergantungan pada USD. Hal itu dilakukan melalui transaksi bilateral dengan mata uang lokal (Local Currency Settlement/LCS).

Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia (BI) Rahmatullah Sjamsudin mengatakan bahwa kerja sama penyelesaian LCS akan menurunkan kebutuhan akan USD.

BACA JUGA: Bukan Main, Ini Estimasi BI soal Kebutuhan Kredit UMKM

"Dengan demikian dampaknya akan terasa terhadap stabilisasi nilai tukar rupiah karena sebelum ada LCS, perdagangan barang dan jasa, termasuk investasi ke luar negeri dan lain-lain, seperti pembayaran remitansi hingga pembayaran transfer dividen memakai USD," jelas Rahmatullah di Jakarta, Rabu (8/9).

Rahmatullah membeberkan kebutuhan USD cukup tinggi karena merupakan musim pembayaran dividen, musim keluarnya arus modal asing, dan waktunya pembayaran kewajiban di luar negeri.

BACA JUGA: Kabar Baik dari BI soal Isu Tapering The Fed, Alhamdulillah

"Sehingga LCS membuat kebutuhan tersebut menurun," kata dia.

Selain itu, terdapat beberapa keuntungan lain dengan adanya transaksi LCS, yakni membuat biaya transaksi dua negara menjadi lebih murah karena tidak perlu lagi mengonversi mata uangnya terlebih dahulu ke USD.

BACA JUGA: Tegas! Aturan Baru BI soal RPIM, Bank Melanggar Bakal Kena Sikat

"Jadi langsung kalau importir Indonesia mau beli ringgit Malaysia untuk membayar barang bisa langsung ke bank ACCD LCS, sehingga tidak perlu lagi beli USD terlebih dahulu, begitu pula sebaliknya," ucap Rahmatullah.

Kemudian, dia menuturkan terdapat pula keuntungan lainnya, yaitu unsur lindung nilai yang memperbolehkan pelaku usaha melakukan hedging menggunakan beberapa instrumen, termasuk Domestic Non Deliverable Forward (DNDF).

Dengan LCS ketentuan threshold pembelian para pelaku usaha juga lebih fleksibel, contohnya threshold transaksi LCS dengan baht Thailand dan ringgit Malaysia sampai dengan USD 200 ribu dolar AS tidak perlu menggunakan underlying, serta yen Jepang sampai dengan USD 500 ribu.

"Tetapi dengan Tiongkok karena di sana ketat semua transaksi tetap harus menggunakan underlying," tegasnya.

Dia mengatakan beberapa bank ACCD pun kini juga memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha untuk melakukan transaksi LCS secara daring. (antara/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
BI   LCS   bank ACCD   USD   rupiah   Ekonomi  

Terpopuler