Bidan Cantik Ditemukan Tak Bernyawa di Pustu Dowora

Sabtu, 08 April 2017 – 06:55 WIB
Tampak polisi sedang di tempat kejadian perkara untuk mengecek penyebab meninggalnya seorang bidan cantik yang bertugas di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kelurahan Dowora Kecamatan Tidore Timur, Kota Tidore Kepulauan (Tikep). FOTO: Malut Post/JPNN.com

jpnn.com, TIDORE - Seorang bidan cantik yang bertugas di Puskesmas Pembantu (Pustu) Kelurahan Dowora Kecamatan Tidore Timur Kota Tidore Kepulauan (Tikep), ditemukan tak bernyawa di dalam ruang kamar tidur di Pustu tersebut.

Korban yang ditemukan dalam posisi terbaring ini diketahui bernama Afivah Arachman (24), warga asal Desa Mare Gam, Kecamatan Tidore Selatan. Almarhum ditemukan dengan kondisi tak wajar karena meninggal dengan tali terikat di leher pada posisi terbaring serta kedua jari yakni jari telunjuk dan jari tengah ditangan kiri almarhum nampak putus dibagian ujung jari.

BACA JUGA: Biadab, Sopir Taksi Online Dihajar Hingga Sekarat

Selain itu, terdapat percikan darah (diduga darah Haid) milik korban yang menempel di atas tempat tidur, serta ditemukan sejumlah helai rambut seorang perempuan yang diduga rambut milik korban berhambur di atas lantai ruang televisi dalam pustu tersebut.

Korban ditemukan oleh Ahmad M. Zen Anas Dadi (51) sekitar pukul 08.30 WIT. Saat itu Ahmad M. Zen yang secara kebetulan lewat di depan Pustu Dowora itu karena dipanggil oleh Kepala Pustu Dowora Iswani Istakome (42), yang saat itu hendak datang ke Pustu untuk bertugas. Namun karena pintu Pustu tertutup, dia meminta bantuan kepada Ahmad M. Zen untuk mengecek di pintu belakang pustu itu. Karena almarhum yang memegang kunci pustu ini, saat di telepon tidak diangkat.

BACA JUGA: Usai Pesta Rakyat, Wanita Cantik Ini Dijambret

Saat Ahmad M. Zen lewat di pintu belakang, kondisi pintu tidak terkunci. Ia pun masuk dan melihat pintu kamar terbuka dan almarhum terbaring di atas tempat tidurnya. Tampak sebuah bantal leher tertutup di wajahnya. M Zen berusaha membangunkan almarhum namun tak juga bangun. Ia pun memegang tangan korban dan diketahui almarhum sudah tidak bernyawa.

Ahmad M. Zen Pun keluar memanggil kepala pustu dan warga sekitar untuk masuk menyaksikan kondisi bidan cantik yang sudah tidak bernyawa tersebut.

BACA JUGA: Pemuda Putus Sekolah Akhirnya Dibekuk

Setelah memastikan lagi almarhum sudah tidak bernyawa, salah satu warga atas nama Husain Abd. Rahman (49) mendatangi Polres Tidore untuk melaporkan kejadian tersebut. Polisi pun bergerak ke tempat kejadian perkara (TKP).

Almarhumah adalah pegawai honorer yang diangkat pada 2016 lalu, dan saat ini sudah terhitung 8 bulan bertugas di Pustu itu. Almarhumah saat bertugas di Pustu tersebut, langsung tinggal di Pustu, bersamaan dengan adik bungsunya Nurdiana Muhammad (18). Namun saat kejadian ini, almarhum tinggal sendirian di kamar, sementara adiknya pulang di kampungnya, Desa Mare Gam.

Di TKP polisi melakukan olah TKP dan mengamankan barang milik korban, seperti leptop, ponsel, pisau dan lainnya. Selain itu, polisi menandai titik yang diangga mencurigakan seperti rambut yang berserakan di lantai, percikan darah di tempat tidur dan tanda-tanda lainnya yang dianggap mencurigakan.

Almarhumah meninggal terbaring dalam kondisi tali terikat di leher itu menggunakan tali jemuran warna biru. Nampak pintu belakang berlubang tepatnya di dekat gerendel. Dalam hasil olah TKP itu Polisi belum bisa mengungkapkan motif di balik kematian wanita kelahiran Mare Gam 12 Februari 1993 ini. Karena ada dua kemungkinan yang saat ini dalam cermatan kepolisian yakni almarhum diduga dibunuh dan bunuh diri.

“Yang jelas saat ini kita masih dalam penyelidikan, sehingga kita belum bisa mengungkapkan motif di balik kematian korban,” kata Paur Humas Polres Tidore IPTU H. Jamal Salim SH saat dikonfirmasi Malut Post di Polres Tidore, Jumat (7/4).

Setelah melakukan olah TKP, almarhum langsung dilarikan ke rumah sakit daerah (RSD) Kota Tikep, untuk divisum. Pihak RSD saat dikonfirmasi terkait hasil visum itu, tidak mau memberikan hasil visum itu. Pihak kepolisian pun saat visum belum menyurat ke pihak RSD untuk meminta hasil visum sehingga belum diketahui hasilnya.

Almarhumah selama masih hidup, diakui teman-temannya di lingkungan RT 04 Kelurahan Dowora mudah bergaul, dan baik hati. Ketika kejadian ini, semua rekan-rekannya sangat terpukul. Sebelumnya almarhum pada kamis malam sempat mengajak salah satu tetangganya, untuk ke pesta ronggeng. Namun tetangganya itu tidak mau, sehingga almarhum dengan kendaraan roda duanya langsung ke pesta ronggeng.

Namun ketika sekitar pukul 23.00 WIT pada Rabu malam, terdengar suara motor milik almarhum masuk ke halaman Pustu. Dan sekitar pukul 03.00 WIT Jumat dini hari, sempat terdengar suara sekali teriakan, namun tetangga di dekat Pustu itu, mengira hanya teriakan biasa saja.

“Saya sempat ketemu almarhum. Tadi malam dia ajak pigi pesta tapi saya bilang acara belum mulai nanti besok malam. Jadi malam itu, saya dengar satu kali teriakan dengan suara weeeii. Namun teriakan itu saya tidak tau teriakan dari mana,” cerita Muhammad Ali Akbar (23) tetangga dekat Pustu itu.

Almarhum Sempat Mengikat Janji Dengan Kekasihnya Untuk Menikah di 2018. Pihak keluarga, almarhum hanya menangis histeris ketika mendengar kabar anak tersayang mereka, harus pergi di usia yang masih muda. Ibu korban, Sabtu Hi Abas nampak menangis histeris, ketika melihat anaknya sudah tidak bernyawa.

Ia berharap pelaku, yang sengaja menghabisi nyawa almarhum Afivah Arachman (24), jika sudah ditangkap dapat dihukum mati.

“Jadi kami keluarga minta nyawa harus dibayar dengan nyawa,” kata Sabtu Hi. Abas, ibu almarhum saat ditemui Malut Post di Rumah Sakit Daerah (RSD) Tikep, ketika menunggu almarhum divisum.

Dikemukakan, almarhum adalah anak ketiga dari 4 bersaudara. Dimana saat masih hidup almarhum dikenal sangat menyayangi keluarganya. Setelah lulus akademi kebidanan Gatra Buana Tidore, almarhum langsung memilih mengabdi sebagai honorer dan bertugas di Pustu Dowora.

“Almarhum memang dikenal baik, dan dia tinggal di pustu ini,” kata dr. Rina, dokter yang bertugas di Pustu, saat dikonfirmasi Malut Post (Jawa Pos Group) di Pustu Dowora Tikep kemarin.

Pihak keluarga, melalui sepupu almarhum, Hatta Hamja mendesak pihak kepolisian agar secepatnya mengungkap kasus ini.

“Ini adalah tugas baru pak Kapolres yang baru (AKBP Azhari Juanda, red), untuk bisa mengungkap kasus ini agar pelakunya dapat ditahan dan dijerat dengan hukuman yang setimpal, bahkan bila perlu hukuman mati,” tandasnya.

Almarhum semasa hidupnya berpacaran dengan salah satu pemuda di Desa Mare Gam bernama Zainudin Serure. Keduanya sudah berpacaran cukup lama, dan pernah berjanji akan menikah pada 2018 mendatang, dengan ongkos perkawinan sebesar Rp 50 juta. Namun janji itu justru tak dapat lagi diwujudkan.

Zainudin terlihat menangis saat melihat kekasihnya itu sudah tidak bernyawa dan terbaring di atas tempat tidur di RSD Kota Tikep. Meski polisi belum mengungkap motif kasus ini, namun bagi Zainudin dari kondisi fisik almarhum, dia menduga kekasihnya dibunuh.

“Saya terakhir ketemu kekasih saya ini dua minggu lalu,” ungkapnya dengan nada terbata-bata.

Almarhum setelah divisum langsung dibawa ke kampung halamannya di Desa Mare Gam untuk dikebumikan sekitar pukul 17.00 WIT. Saat masih di rumah sakit, banyak warga di Mare datang ke rumah sakit, untuk menjemput almarhum.(far/jfr)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Soal Perampasan HP, Begini Tanggapan Ustaz Al Habsyi


Redaktur & Reporter : Friederich

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler