Di Tiongkok seorang biksu Budha sudah menghabiskan dana miliaran rupiah untuk menyelamatkan ribuan anjing liar, kucing, ayam, dan angsa.

Ia sudah melakukan penyelamatan hewan sejak tahun 1994.

BACA JUGA: Warga Eropa Bisa Lakukan Perjalanan Dengan Paspor Vaksin, Mengapa Australia Belum Bisa?

Biksu Zhi Xiang, 51 tahun, warga Shanghai, setiap harinya berkeliling menemukan anjing atau binatang lain yang ditelantarkan.

Hasilnya, dalam kurun waktu hampir 30 tahun terakhir, Zhi sudah menyelamatkan delapan ribu anjing.

BACA JUGA: Pekerja Pertanian Langka, Harga Mentimun di Australia Melambung

Jika tidak dibantu Zhi, anjing-anjing ini mungkin sudah akan disuntik mati.

Dari ribuan anjing yang diselamatkannya, sebagian ada yang diadopsi dan dibawa ke Amerika Serikat atau Eropa oleh pemilik barunya.

BACA JUGA: Masuki Periode Menakutkan, Sydnet Tetap Bertahan Tanpa Penguncian

"Saya menyelamatkan binatang tersebut karena bila tidak, mereka tentu saja akan mati," katanya.

Semua ini bermula di tahun 1994 ketika Zhi merawat kucing yang ditabrak kendaraan di jalanan kota Shanghai.

Ketika itu tidak banyak hewan peliharaan seperti kucing atau anjing yang berkeliaran, namun dalam empat lima tahun terakhir jumlahnya sangat meningkat, kata Zhi. Sengaja dibuang oleh pemilik yang bosan

Seiring dengan semakin meningkatnya pendapatan warga di Tiongkok, kepemilikan hewan peliharaan juga bertambah jumlahnya.

Namun menurut Zhi, banyak juga warga kemudian menelantarkan binatang yang mereka beli, karena bosan atau tidak suka lagi.

"Ini dilakukan bukan disebabkan karena warga tidak suka dengan anjing ... namun oleh mereka yang disebut pecinta anjing yang tidak memiliki pengetahuan memadai mengenai cara merawat dan menyayangi binatang."

Perkawinan antar sesama anjing liar juga membuat jumlahnya meningkat pesat.

Media milik Pemerintah Tiongkok mengatakan di tahun 2019 ada sekitar 50 juta hewan peliharaan yang ditelantarkan di Tiongkok dan jumlahnya meningkat dua kali lipat setiap tahunnya.

Dengan bantuan relawan dan beberapa orang yang bekerja untuknya, Zhi memelihar ratusan anjing di kuil Bao'en, tempat di mana ia menjadi pimpinan biksu.

Di kuil tersebut tampak patung raksasa Buddha berlapis keemasan berdiri di tengah suara gongongan anjing yang saling bersahutan.

Kuil yang juga digunakan oleh umat setempat untuk melakukan ibadah juga memiliki sebuah ruangan yang menampung sekitar 200 kucing, sejumlah ekor ayam, bebek, dan burung merak.

Aroma dari kuil itu adalah campuran aroma binatang dan aroma dupa yang dibakar.

Zhi memelihara dan mengasuh anjing-anjing yang sakit di kuil tersebut dan sisanya ditaruh di sebuah fasilitas lain yang lebih besar.

Anjing-anjing yang beruntung kemudian akan memiliki rumah baru dengan pemilik barunya.

Namun sekitar 30 persen dari anjing yang diselamatkannya mati karena penyakit atau sudah terlalu lemah untuk diselamatkan.

Biksu Zhi bukanlah dokter hewan atau belajar mengenai ilmu kedokteran hewan, namun kecintaannya terhadap binatang tampak dari caranya mengelus dan mencium binatang yang diasuhnya. Dari mana uangnya?

Zhi yang bangun pukul 4 pagi setiap hari tidak mendapatkan dana bantuan apapun dari pemerintah Tiongkok.

Dia harus meminjam uang dari orang tuanya dan dari biksu lain atau sumbangan orang lain.

Zhi memperkirakan biaya tahunan untuk mengurusi binatang tersebut adalah sekitar 12 juta yuan, sekitar Rp25 miliar dan kuil tersebut memerlukan 60 ton makanan anjing per bulan.

"Masalahnya sekarang saya tidak bisa meminjam uang lagi," katanya.

Sejak tahun 2019, Zhi sudah mengirim anjing-anjing itu keluar negeri untuk diadopsi.

Relawan yang bisa berhahasa Inggris menggunakan media sosial untuk mencari donor internasional yang mau mengadopsi.

Sejauh ini sekitar 300 anjing sudah dikirim ke Amerika Serikat, Kanada, dan beberapa negara Eropa termasuk Jerman.

Ingatan Zhi dengan anjing-anjing yang ditelantarkan di jalanan dan hampir mati membuat air matanya berlinang.

"Saya kira anjing-anjing tersebut pasti senang sekarang, jadi saya merasa usaha saya tidak sia-sia," katanya.

"Tetapi tentu saja saya merasa kehilangan."

Di satu hari Sabtu, Zhi berada di bandara internasional Shanghai untuk mengantar seekor anjing kepada seorang penumpang yang membantu membawa seekor anjing untuk diserahkan ke pemilik barunya di Amerika Serikat.

Mengenakan baju biksunya yang berwarna coklat, Zhi memegang anjing kecil tersebut sampai saat-saat terakhir sambil mengatakan 'bye bye."

Dia mengusap air mata nya ketika relawan perempuan membawa anjing tersebut melewati pintu keberangkatan.

"Saya memiliki mimpi di satu hari nanti, ketika saya memiliki waktu luang, saya akan pergi ke luar negeri, mengunjungi mereka, berfoto dengan semua anjing yang berhasil saya selamatkan," katanya.

"Jadi ketika saya tua dan tidak bisa berjalan lagi, saya memiliki foto-foto untuk dikenang."

AFP

Artikel ini diproduksi oleh Sastra Wijaya dari ABC News

BACA ARTIKEL LAINNYA... Masuki Periode Menakutkan, Sydney Tetap Bertahan Tanpa Penguncian

Berita Terkait