Bindara

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Rabu, 01 September 2021 – 03:55 WIB
Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari dan suami Hasan Aminuddin saat tiba di Gedung KPK, Jakarta, Senin (30/8). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Bindara adalah sebutan masyarakat Madura terhadap seseorang yang punya kedudukan ningrat yang tinggi.

Sebutan itu bisa juga dipakai untuk menyebut seorang ulama yang dihormati. Logat Madura mengucapkannya sebagai "bindereh", lidah orang Jawa mengucapkannya "bendoro" atau "ndoro", yang berarti tuan.

BACA JUGA: Puput Tantriana Ditangkap KPK, Khofifah Angkat Timbul jadi Plt Bupati Probolinggo

Bindara adalah sebutan feodalistik warisan sejarah di Madura. Sekarang sebutan ini sudah jarang dipakai, kecuali untuk sebutan-sebutan informal dalam pergaulan sehari-hari. Sebutan bindara saat ini punya arti mirip dengan bos untuk menyebut orang kuat.

Penangkapan Bupati Probolinggo Puput Tantriana Sari dan suaminya, Hasan Aminuddin, menjadi kejutan politik paling besar di Jawa Timur tahun ini.

BACA JUGA: Daftar Nama 22 Tersangka Korupsi Melibatkan Bupati Probolinggo

Ketika Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang ramai disorot karena berbagai problem internal, operasi tangkap tangan ini seperti menjadi angin segar bahwa KPK masih bertaji, setidaknya sampai sekarang.

Masyarakat belum tahu bagaimana jadinya KPK pasca-pemecatan Novel Baswedan dan kawan-kawan.

BACA JUGA: Hasan Aminuddin Sudah Bukan Kader NasDem Lagi?

Operasi tangkap tangan di Probolinggo ini merupakan hasil kerja lama dari tim di bawah Harun Al Rasid yang masuk dalam gerbong pemecatan.

Hasan Aminuddin dikenal sebagai orang kuat di Probolinggo. Selama 20 tahun terakhir ia menguasai perpolitikan Probolinggo.

Setelah dua periode menjadi bupati yang tidak terkalahkan, Hasan mewariskan kekuasaannya kepada istrinya sambungnya, Puput Tantriana Sari.

Karena posisinya yang kuat di Probolinggo, Hasan sering disebut sebagai bindara. Ia mendesain istrinya untuk meneruskan kekuasaan sejak 2013. Di bawah pengaruh sang bindara, pemerintahan Puput berjalan lancar dan bisa berlanjut sampai dua periode sampai 2023.

Selepas menjadi bupati, Hasan menjadi anggota DPR RI dari Partai Nasdem, dan sekarang memasuki periode kedua setelah kembali memperoleh kursi pada pemilu 2019 yang lalu.

Meskipun sudah tidak menjabat bupati, tetapi pengaruh Bindara Hasan tetap dominan melalui sang istri.

Kisah perjalanan pasangan ini bisa menjadi serial sinetron yang menarik. Perpaduan antara cerita politik dan cerita pribadi yang penuh warna. Hasan bercerai dari istri pertama dan kemudian menikahi Puput.

Ketika dinikahi Hasan, Puput adalah karyawan di Bank Jatim. Ia melepas jabatan itu untuk menjadi "ibu negara" di Probolinggo.

Kisah Puput mirip drama korea. Sebagai wanita yang tidak punya pengalaman politik, Puput belajar cepat. Terbukti Puput adalah pelajar yang baik. Meskipun tidak punya pengalaman politik yang cukup, tetapi dengan dukungan sang suami dia bisa memenangi kontestasi politik lokal dua kali.

Kali ini drakor Puput tidak happy ending, tetapi malah menemui tragic ending.

Karier politiknya melesat cepat seperti meteor, tetapi kemudian jatuh dengan cepat ke bumi hancur berantakan. Kolaborasinya dengan Hasan seperti kolaborasi "family in arms" bahu-membahu mengendalikan kekuasaan politik lokal.

Hasan Aminuddin adalah tipe politisi lokal yang cerdik dan pintar.

Probolinggo adalah daerah tapal kuda dengan mayoritas penduduk berlatar belakang budaya Madura.

Orang-orang Madura daratan ini sering disebut sebagai "pendalungan". Tradisi politik kalangan pendalungan ini hampir sama masyarakat Madura mainland yang kental dengan tradisi santri khas nahdiyin.

Sebagai politisi yang berbasis tradisi nahdiyin, Hasan memulai karier politiknya bersama Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jawa Timur. Pada masa-masa awal reformasi itu generasi muda politisi nahdiyin bermunculan di Jawa Timur.

Selain Hasan Aminuddin ada Choirul Anam yang ketika itu menjadi rising star. Ada juga Saifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansa, dan beberapa kader muda berbakat lainnya.

Mereka adalah "The Gus Dur Boys", anak-anak muda yang dikader oleh Gus Dur, langsung maupun tidak langsung. Saifullah Yusuf dan Muhaimin Iskandar, misalnya, dikader langsung oleh Gus Dur dengan membawa mereka ke Jakarta. Dua orang ini adalah kader elite karena mempunyai hubungan darah dekat dengan Gus Dur.

Para kader muda ini menjadi tulang punggung perkembangan awal PKB. Namun, dalam perjalanannya para kader ini mengambil jalan sendiri-sendiri. Masing-masing bersaing memilih jalan politiknya sendiri.

Hasan Aminudin keluar dari PKB dan sekarang bergabung dengan Nasdem.

Choirul Anam, sempat menjadi ketua PKB Jatim, tetapi kemudian keluar dan mendirikan partai baru Partai Kebangkitan Nahdhatul Ulama (PKNU), tetapi tidak terlalu sukses.

Saifullah Yusuf alias Gus Ipul, bersaing dengan Khofifah dalam perebutan kursi gubernur Jatim pada 2019. Khofifah yang menjadi Ketua Muslimat NU pusat menguasai jaringan suara ibu-ibu nahdiyin, sehingga bisa mengungguli Gus Ipul.

Gus Ipul yang sudah cukup matang di bawah tempaan Gus Dur, masih bisa survive dengan menarik diri ke pertarungan politik lokal. Pada pilkada 2020 Gus Ipul maju sebagai calon wali kota Pasuruan, kampung halamannya, dan sukses mengalahkan petahana.

Gus Ipul sekarang menjalani periode pertama sebagai wali kota Pasuruan.

Hasan Aminuddin juga lebih memilih fokus pada politik lokal. Setelah terlibat dalam kemelut panjang dengan PKB, Hasan keluar dari partai yang membesarkannya.

Namun, Hasan terbukti punya kecerdikan dan kejelian politik tinggi. Ia bisa menjadi bupati dua periode dan nyaris mutlak menguasai politik lokal Probolinggo.

Hasan sudah mendesain masa depan politiknya dengan cermat. Puput Tantriana Sari terbukti bisa menjalankan skenario dengan baik.

Selama memimpin Probolinggo, Puput termasuk pemimpin yang populer. Wajahnya yang cantik dan pembawaannya yang luwes membuat Puput sangat populer di kalangan warga Probolinggo.

Hasan Aminudin bukan satu-satunya tokoh yang menerapkan politik dinasti di Jawa Timur. Di beberapa daerah lain di Jawa Timur juga banyak kepala daerah yang mewariskan kekuasaan kepada istri untuk membentuk dinasti baru.

Di Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas yang menjabat dua periode sekarang pensiun dan mewariskan kekuasaannya kepada istrinya, Ipuk Fiestandini.

Di Kota Batu, Eddy Rumpoko yang sudah menjabat dua periode mewariskan kekuasaan kepada istrinya, Dewanti Rumpoko, menjadi wali kota baru. Eddy Rumpoko sekarang masih menjalani hukuman karena kasus korupsi.

Praktik politik dinasti tidak semuanya berjalan mulus. Penangkapan Hasan Aminuddin menunjukkan bahwa ada sisi-sisi gelap dalam praktik-prktik politik dinasti. Orang-orang kuat di politik lokal seperti Hasan pada akhirnya harus jatuh karena jebakan korupsi.

Kasus mantan Bupati Bangkalan, Fuad Amin Imron juga menjadi bukti bahwa politik dinasti lokal banyak menyimpan praktik-praktik gelap. Fuad Amin menjadi bupati Bangkalan selama dua periode. Sebagaimana Hasan, Fuad adalah penguasa politik lokal yang undisputed, "seng" ada lawan, nyaris tidak ada yang bisa melawan.

Setelah selesai dua periode Fuad mewariskan kekuasaannya kepada sang anak dan Fuad kemudian hijrah ke Jakarta menjadi anggota DPR RI. Fuad kemudian ditangkap tangan oleh KPK dan divonis 13 tahun penjara. Fuad meninggal dunia di tahanan pada 2019.

Fuad adalah contoh ‘’local political warlord’’ yang sangat powerful. Meskipun sudah tidak menjabat sebagai bupati, dia masih tetap mengendalikan politik Bangkalan. Bahkan, saat berada di penjara pun Fuad masih menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam politik lokal.

Politik selalu punya sisi-sisi gelap yang menjadi jebakan yang memakan tuannya sendiri. Dua orang bindara yang powerful seperti Fuad Amin dan Hasan Aminuddin, akhirnya harus jatuh karena permainannya sendiri. (*)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur : Adek
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler