Bisik-Bisik Keras

Oleh: Dahlan Iskan

Selasa, 19 Juli 2022 – 07:08 WIB
Dahlan Iskan (Disway). Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - "BUNG, Anda kan selalu ikuti berita di media. Mohon tanya: siapa media pertama yang menulis soal tembak-menembak polisi itu?"

Itulah pertanyaannya saya pada beberapa orang pimpinan media. Tidak satu pun ada yang bisa menjawab.

BACA JUGA: Freeport Jiipe

Padahal saya sudah siap dengan pertanyaan berikutnya: "Berita pertama di media itu muncul sebelum atau sesudah konferensi pers resmi Mabes Polri?"

Padahal itu pertanyaan tulus saya sebagai orang yang merasa ketinggalan berita. Saya ingin memberi penghargaan kepada media pertama itu. Kok hebat banget.

BACA JUGA: Autopsi Ulang

Dari penelusuran saya, ternyata Ny Sambo sebenarnya sudah melapor ke polisi. Ke Polres Jakarta Selatan.

Itu tanggal 9 Juli 2022. Berarti hanya satu hari setelah tembak-menembak.

BACA JUGA: Demo Gugat

Mengapa Ny Sambo sendiri yang lapor? Bukan suaminyi? Atau menyuruh anak buah?

Ini menyangkut ketentuan pelaporan. Untuk jenis laporan yang berkaitan dengan seks tidak boleh diwakilkan.

Ini kan laporan masalah Ny Sambo merasa menjadi korban pelecehan seksual. Dia harus lapor sendiri secara pribadi.

Soal apakah dia datang ke Polres atau orang Polres yang datang ke rumahnyi itu soal lain.

Mengapa laporan pelecehan seksual dilakukan setelah yang dilaporkan meninggal?

Itu suka-suka yang melapor.

Dengan adanya laporan itu seharusnya media yang ''ngepos'' di Polres Jakarta Selatan langsung tahu. Pengaduan seperti itu harus dibuka.

Kelihatannya wartawan memang mulai tahu. Namun, belum mau menulis. Bisa saja karena belum berhasil mendapat konfirmasi. Atau sengaja diminta menunggu keterangan resmi.

Maka mau tidak mau akan ada keterangan resmi.

Itulah sebabnya Polri melakukan konferensi pers tanggal 11 Juli 2022.

Begitu banyak pertanyaan yang tidak terjawab dari konferensi pers itu.

Begitu banyak kejanggalan di alur ceritanya.

Namun, setidaknya wartawan sudah mulai bisa menulis. Wartawan juga mulai punya pijakan untuk melakukan reportase.

CNN Indonesia dan Detik mengirim wartawan ke Duren 3. Yakni ke rumah Irjen Ferdy Sambo. Mereka wawancara dengan orang-orang di situ.

Lalu datanglah tiga orang petugas. Mereka minta HP dua wartawan itu. Dibuka. Isinya dihapus. Yakni yang berkaitan dengan wawancara soal tembak-menembak.

Saya pun bertanya kepada bos pemilik dua media itu. Saya ingin mewawancarai wartawan yang langsung terjun ke lapangan.

"Namanya jangan dibuka dahulu. Kasihan mereka," kata bos di dua perusahaan media grup CT Corp. Saya memakluminya.

Sang bos sudah ke Mabes Polri: mengadukan perlakuan pada dua wartawannya itu. Polri menanggapinya dengan baik. Akan diselesaikan.

Walhasil upaya merahasiakan peristiwa besar ini sebenarnya berhasil.

Awalnya.

Tidak ada media yang bisa mengklaim ''kamilah yang pertama mengungkap''.

Saya ingat di zaman Orde Baru. Saat itu sulit sekali untuk bisa menjadi pertamax seperti itu.

Wartawan sebenarnya selalu tahu secara dini peristiwa besar. Namun, takut menuliskannya. Tunggu keterangan resmi saja. Kadang ada. Kadang tidak.

Wartawan yang lebih dahulu tahu biasanya hanya mampu menceritakannya kepada sesama wartawan, setelah mereka balik ke kantor. Maka kantin di kantor media itu asyik sekali.

Wartawan yang pulang dari ''pos'' masing-masing bercerita peristiwa apa saja yang dia dapat. Sebatas diceritakan. Tidak bisa ditulis.

Yang dimaksud "pos" adalah tempat tugas si wartawan.

Ada wartawan yang "ngepos" di istana, di Mabes Polri, di polda, di polres, di pelabuhan, di kementerian keuangan dan seterusnya. Di situlah mereka "berkantor". Setiap hari.

Mereka tahu apa pun yang ada di "pos" masing-masing. Termasuk sisi gosip-gosipnya. Bahkan media seperti PosKota sampai punya wartawan yang "ngepos" di polsek-polsek.

Karena itu media perlu punya wartawan banyak sekali. Mahal.

Media online tidak mau punya banyak wartawan. Penghasilan online tidak sebesar penghasilan koran di masa jaya.

Di zaman sekarang, ternyata cara merahasiakan peristiwa sensitif masih sama.

Termasuk soal tembak-menembak polisi itu. Sampai tiga hari kemudian pun belum ada wartawan yang tahu.

Medsos juga masih bungkam.

Hebat sekali.

Kalau itu di zaman Orde Baru tidak ada yang heran. Ini terjadi di zaman medsos.

"Mungkin karena kejadian itu di satu rumah yang berada di kompleks perumahan yang tertutup," kilah seorang wartawan.

Itulah sebabnya berita tembak-menembak itu baru diketahui justru dari konferensi pers. Resmi. Di Mabes Polri. Tanggal 11 Juli 2022. Sudah tiga hari setelah peristiwa.

TV One termasuk yang pertama menyiarkan konferensi pers itu. Detik.com juga.

Pertanyaannya: kalau sudah berhasil "menyembunyikannya" selama tiga hari mengapa dibuka lewat konferensi pers?

Kemungkinan pertama, sudah berkembang bisik-bisik di lingkungan terbatas di Polri. Irjen Sambo pasti sudah melapor ke atasan mengenai apa yang terjadi, versi dirinya.

Kita tidak tahu kapan "lapor diri" itu dilakukan? Sang atasan pasti melakukan koordinasi dengan staf. Sikap harus ditentukan.

Sejak itu mulailah bisik-bisik beredar. Kian hari kian luas. Termasuk yang sudah dibumbui.

Kemungkinan kedua, keluarga korban juga memberitahu keluarga dekat tentang kematian Brigadir Yosua. Juga kian luas. Berikut bumbu-bumbu penyedapnya.

Tukang bumbunya bisa siapa saja: oknum di media, oknum di keluarga korban, oknum di instansi kepolisian. Bahkan bisa saja dari orang yang ingin menjatuhkan seseorang.

Wartawan tertolong oleh bisik-bisik-keras di medsos itu. Wartawan punya alasan untuk melakukan konfirmasi ke sumber yang kompeten. Atau mengecek ke lapangan.

Jelas dalam kasus tembak-menembak itu wartawan mengalami hambatan. Dihalangi. HP diperiksa. Isi dihapus.

Media sudah mengadu.

Tiga hari kemudian giliran istri pemilik rumah mengadu ke Dewan Pers. Lewat pengacaranya. Dia menggugat pers. Media dianggap kurang empati kepada sang istri.

Mungkin yang dia maksud adalah media medsos. Yang belakangan memang seru sekali. Foto-foto polwan cantik ikut diunggah. Lengkap dengan nama dan pangkatnyi. Juga kisah-kisahnyi. Liar sekali.

Tidak mungkin media mainstream berbuat seperti itu.

Lalu muncul juga wajah wanita lebih berumur yang tidak normal.

Sebuah media medsos lantas menulis. Tulisan yang ada di medsos dijadikan fakta untuk tulisan di medsos.

"Ada netizen mengatakan.....'. Itu jadi fakta sebagai dasar menulis.

Itulah yang disebut fakta model baru. Di dunia media masa kini. (*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bukan Gugat


Redaktur : M. Fathra Nazrul Islam
Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler